Pemerintah akui sulit penuhi kebutuhan kedelai
Senin, 15 Oktober 2012 - 14:28 WIB
Pemerintah akui sulit penuhi kebutuhan kedelai
A
A
A
Sindonews.com - Masalah ketahanan pangan telah menjadi isu yang sangat penting di Indonesia, diantaranya adalah ketergantungan terhadap kedelai impor. Pemerintah mengakui bahwa permasalahan ketersediaan kedelai masih sulit teratasi karena berbagai kendala.
Saat ini, Indonesia baru mampu menghasilkan 800 ribu ton kedelai per tahun. Angka ini sangat jauh dibawah kebutuhan kedelai di dalam negeri yang setiap tahunnya mencapai 2,5 juta ton.
Kurangnya penggunaan teknologi yang berimplikasi pada rendahnya produktivitas tanaman kedelai Indonesia disebut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sebagai salah satu permasalahan yang perlu diatasi.
“Kita harus terbuka dalam teknologi untuk produktivitas kedelai,” tutur Gita di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (15/10/2012). Selain itu, Mendag Gita juga menilai bahwa rendahnya harga kedelai pada musim-musim tertentu juga membuat produksi kedelai selalu sulit untuk mencapai target produksi yang diharapkan.
“Kedelai kita tidak bisa mencapai produksi yang diinginkan selama tidak ada penyikapan mengenai HPP (harga pokok penjualan) umum, yang bisa diterima oleh para petani karena mereka tidak dapat ada insentif untuk menanam kedelai, dan mereka tidak tahu kalau mereka bisa menjual kedelai pada harga yang bisa membuat mereka sejahtera,” jelasnya.
Gita berharap agar ketergantungan Indonesia pada impor kedelai ini dapat segera diakhiri. Dia memaparkan, disamping pengendalian harga kedelai, perlu upaya peningkatan produktivitas tanaman kedelai dengan investasi, sehingga penanaman kedelai dapat menggunakan alat-alat pertanian berteknologi canggih.
“Supaya kita tidak harus mengimpor, yang harus dilakukan adalah membuat kebijakan untuk meningkatkan produktivitas kedelai. Ini harus disikapi dengan peningkatan investasi dan alih teknologi,” ujar Gita.
Saat ini, Indonesia baru mampu menghasilkan 800 ribu ton kedelai per tahun. Angka ini sangat jauh dibawah kebutuhan kedelai di dalam negeri yang setiap tahunnya mencapai 2,5 juta ton.
Kurangnya penggunaan teknologi yang berimplikasi pada rendahnya produktivitas tanaman kedelai Indonesia disebut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sebagai salah satu permasalahan yang perlu diatasi.
“Kita harus terbuka dalam teknologi untuk produktivitas kedelai,” tutur Gita di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (15/10/2012). Selain itu, Mendag Gita juga menilai bahwa rendahnya harga kedelai pada musim-musim tertentu juga membuat produksi kedelai selalu sulit untuk mencapai target produksi yang diharapkan.
“Kedelai kita tidak bisa mencapai produksi yang diinginkan selama tidak ada penyikapan mengenai HPP (harga pokok penjualan) umum, yang bisa diterima oleh para petani karena mereka tidak dapat ada insentif untuk menanam kedelai, dan mereka tidak tahu kalau mereka bisa menjual kedelai pada harga yang bisa membuat mereka sejahtera,” jelasnya.
Gita berharap agar ketergantungan Indonesia pada impor kedelai ini dapat segera diakhiri. Dia memaparkan, disamping pengendalian harga kedelai, perlu upaya peningkatan produktivitas tanaman kedelai dengan investasi, sehingga penanaman kedelai dapat menggunakan alat-alat pertanian berteknologi canggih.
“Supaya kita tidak harus mengimpor, yang harus dilakukan adalah membuat kebijakan untuk meningkatkan produktivitas kedelai. Ini harus disikapi dengan peningkatan investasi dan alih teknologi,” ujar Gita.
(rna)
Lihat Juga :