Krisis mereda, waspadai pasar finansial

Senin, 15 Oktober 2012 - 15:24 WIB
Krisis mereda, waspadai...
Krisis mereda, waspadai pasar finansial
A A A
Sindonews.com - Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan mengungkapan, meredanya krisis di awal tahun 2013 akan berdampak buruk pada pasar finansial negara berkembang.

Menurutnya, akan terjadi penurunan karena perlambatan daya serap likuiditas di sektor rill. Begitupun dengan prediksi yang akan terjadi di Indonesia.

"Masalahnya negara-negara seperti Indonesia, pertumbuhannya pesat tetapi tidak cukup pesat untuk menyerap likuiditasnya ke sektor rill sehingga aksesnya akan masuk ke sektor finansial yakni pasar saham dan obligasi," ujarnya kepada wartawan di Energy Tower, SCBD, Jakarta, Senin (15/10/2012).

Dia menjelaskan, di semester I-2013 saat krisis Euro mereda, dimana risiko Yunani keluar dari Euro dan risiko Spanyol dan Italia akan meledak, akan menyebabkan pengecilan risiko. Secara otomatis pengelola dana-dana akses tersebut akan menarik dana-dana dari pasar uang dan negara-negara berkembang seperti Indonesia yang pertumbuhan ekonominya pesat.

Pada satu titik, lanjutnya, harga aset di pasar finansial akan naik tajam dan pada suatu saat bank sentral global akan menaikan suku bunganya mungkin 2-3 tahun yang akan datang.

"Maka ini akan menciptakan asset bubble dimana pasar finansial di negara berkembang tersebut akan turun tajam," ungkap Fauzi.

Pada dasarnya, menurut Fauzi bank sentral di negara-negara maju seperti AS, Eropa dan Jepang diperkirakan akan memberlakukan kebijakan suku bunga yang sangat rendah dalam 18-24 bulan ke depan. Selain suku bunga yang rendah, mereka diperkirakan akan terus melakukan suntikan likuiditas.

"Kebijakan penyuntikan likuidtas ke pasar finansialnya, di AS melalui QE, di Eropa melalui pembelian surat-surat utang negara yang bermasalah seperti Yunani dan Italia, untuk sementara kebijakan-kebijakan tersebut menciptakan ekses likuiditas," jelasnya.

Dia menekankan, akses likuiditas itu sementara ini terparkir di pasar uang dan di pasar US treasury bond market karena adanya krisis Euro. "Jadi si pengelola-pengelola dana ini masih belum berani untuk mengalokasikan dana tersebut lebih banyak di pasar modal," pungkasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Concord Industry Tegaskan...
Concord Industry Tegaskan Komitmen Perkuat Industri Keramik di Keramika 2026
12 menit yang lalu
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
46 menit yang lalu
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
1 jam yang lalu
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
2 jam yang lalu
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
4 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
7 jam yang lalu
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved