Penyaluran kredit perbankan terpusat di perkotaan
Selasa, 16 Oktober 2012 - 14:02 WIB
Penyaluran kredit perbankan terpusat di perkotaan
A
A
A
Sindonews.com – Penyaluran kredit perbankan di wilayah Jawa Barat belum merata. Penyaluran kredit per Agustus 2012 senilai Rp172,53 triliun, masih terpusat di kawasan perkotaan.
Data Bank Indonesia (BI) wilayah VI Jabar dan Banten menunjukkan peningkatan penyaluran kredit perbankan menjadi Rp172,53 triliun. Angka ini tumbuh sekitar 24,23 persen (yoy) dari periode Agustus 2011 senilai Rp138,87 triliun.
Kendati demikian, penyaluran kredit perbankan masih didominasi di kota Bandung, Bogor, Cirebon, Tasikmalaya dan Bekasi. Penyaluran kredit perbankan tertinggi berada di kota Bandung, dengan nilai Rp78,95 triliun.
Disusul kota Bogor Rp14,15 triliun, Cirebon Rp10,67 triliun, Tasikmalaya Rp7,70 triliun dan Bekasi Rp14,38 triliun. Sementara penyaluran kredit di kabupaten/kota lainnya rata-rata masih Rp6 triliun.
Penyaluran kredit terendah ada di Kabupaten Tasikmalaya sebesar Rp510 miliar. “Besaran penyaluran kredit sejalan dengan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Apabila aktivitas ekonominya tumbuh, penyaluran kredit biasanya ikut tumbuh,” kata Peneliti Madya Kantor Bank Indonesia wilayah VI Jabar Banten Naek Tigor Sinaga di Bandung, Selasa (16/10/2012).
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi di kawasan tertentu akan sejalan dengan pinjaman dana oleh masyarakat terhadap perbankan. Misalnya, untuk keperluan modal usaha di sektor perdagangan, kredit perumahan rakyat (KPR), kredit konsumtif, investasi dan lainnya. Sektor tersebut, cenderung meningkatkan serapan kredit perbankan.
Walaupun serapan kredit sebanding dengan kondisi ekonomi kawasan, Tigor berharap, perbankan bisa lebih agresif dalam menyalurkan kredit ke daerah lainnya. Menurut dia, setiap daerah memiliki potensi ekonomi dan masih memerlukan dukungan perbankan.
“Bank juga harus lebih agresif menggarap kredit di daerah lain, terutama daerah daerah yang pinjaman kreditnya masih rendah,” timpal dia.
Apabila perbankan hanya terfokus di kota kota besar, Tigor mengkhawatirkan akan terjadi titik jenuh. Perbankan mestinya bisa membaca peluang dengan melebarkan sayap, menyasar pembiayaan di daerah. Bagi Tigor, kecilnya kredit perbankan di daerah mestinya menjadi peluang bagi perbankan dalam ekspansi kredit.
Dia mencontohkan, nilai kredit di Kota Depok menunjukkan pertumbuhan luar biasa. BI mencatat, kredit di kawasan tersebut tumbuh 61,92 persen dari Rp2,65 triliun di Agustus 2011 menjadi Rp4,34 triliun pada Agustus 2012.
“Walaupun nilainya masih kecil, namun pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan perbankan cukup agresif menyasar debitur di kawasan itu,” imbuh dia.
Diakui dia, upaya BI mendorong peningkatan pembiayaan di kabupaten/kota di Jabar, mestinya mendapat dukungan dari lembaga eksekutif dan legislatif di daerahnya masing-masing, yaitu dalam bentuk penerbitan kebijakan yang mendorong terbentuknya iklim usaha.
Ditemui terpisah, Kepala PT Bank Mandiri Tbk wilayah VI Hadiyono mengakui, serapan kredit Bank Mandiri di Jabar masih terpusat di kawasan tertentu, seperti perkotaan. Menurut dia, penyaluran kredit akan sejalan dengan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di suatu tempat. Contohnya, pembiayaan KPR, saat ini masih terfokus di pusat pusat keramaian.
“Kita pun terus berupaya memperbesar kredit ke daerah dengan menyasar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” pungkas Hadiyono.
Data Bank Indonesia (BI) wilayah VI Jabar dan Banten menunjukkan peningkatan penyaluran kredit perbankan menjadi Rp172,53 triliun. Angka ini tumbuh sekitar 24,23 persen (yoy) dari periode Agustus 2011 senilai Rp138,87 triliun.
Kendati demikian, penyaluran kredit perbankan masih didominasi di kota Bandung, Bogor, Cirebon, Tasikmalaya dan Bekasi. Penyaluran kredit perbankan tertinggi berada di kota Bandung, dengan nilai Rp78,95 triliun.
Disusul kota Bogor Rp14,15 triliun, Cirebon Rp10,67 triliun, Tasikmalaya Rp7,70 triliun dan Bekasi Rp14,38 triliun. Sementara penyaluran kredit di kabupaten/kota lainnya rata-rata masih Rp6 triliun.
Penyaluran kredit terendah ada di Kabupaten Tasikmalaya sebesar Rp510 miliar. “Besaran penyaluran kredit sejalan dengan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Apabila aktivitas ekonominya tumbuh, penyaluran kredit biasanya ikut tumbuh,” kata Peneliti Madya Kantor Bank Indonesia wilayah VI Jabar Banten Naek Tigor Sinaga di Bandung, Selasa (16/10/2012).
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi di kawasan tertentu akan sejalan dengan pinjaman dana oleh masyarakat terhadap perbankan. Misalnya, untuk keperluan modal usaha di sektor perdagangan, kredit perumahan rakyat (KPR), kredit konsumtif, investasi dan lainnya. Sektor tersebut, cenderung meningkatkan serapan kredit perbankan.
Walaupun serapan kredit sebanding dengan kondisi ekonomi kawasan, Tigor berharap, perbankan bisa lebih agresif dalam menyalurkan kredit ke daerah lainnya. Menurut dia, setiap daerah memiliki potensi ekonomi dan masih memerlukan dukungan perbankan.
“Bank juga harus lebih agresif menggarap kredit di daerah lain, terutama daerah daerah yang pinjaman kreditnya masih rendah,” timpal dia.
Apabila perbankan hanya terfokus di kota kota besar, Tigor mengkhawatirkan akan terjadi titik jenuh. Perbankan mestinya bisa membaca peluang dengan melebarkan sayap, menyasar pembiayaan di daerah. Bagi Tigor, kecilnya kredit perbankan di daerah mestinya menjadi peluang bagi perbankan dalam ekspansi kredit.
Dia mencontohkan, nilai kredit di Kota Depok menunjukkan pertumbuhan luar biasa. BI mencatat, kredit di kawasan tersebut tumbuh 61,92 persen dari Rp2,65 triliun di Agustus 2011 menjadi Rp4,34 triliun pada Agustus 2012.
“Walaupun nilainya masih kecil, namun pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan perbankan cukup agresif menyasar debitur di kawasan itu,” imbuh dia.
Diakui dia, upaya BI mendorong peningkatan pembiayaan di kabupaten/kota di Jabar, mestinya mendapat dukungan dari lembaga eksekutif dan legislatif di daerahnya masing-masing, yaitu dalam bentuk penerbitan kebijakan yang mendorong terbentuknya iklim usaha.
Ditemui terpisah, Kepala PT Bank Mandiri Tbk wilayah VI Hadiyono mengakui, serapan kredit Bank Mandiri di Jabar masih terpusat di kawasan tertentu, seperti perkotaan. Menurut dia, penyaluran kredit akan sejalan dengan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di suatu tempat. Contohnya, pembiayaan KPR, saat ini masih terfokus di pusat pusat keramaian.
“Kita pun terus berupaya memperbesar kredit ke daerah dengan menyasar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” pungkas Hadiyono.
(rna)
Lihat Juga :