Konsumsi beras DIY masih tinggi
Selasa, 16 Oktober 2012 - 15:28 WIB
Konsumsi beras DIY masih tinggi
A
A
A
Sindonews.com - Tingkat konsumsi beras di DIY masih tinggi. Setiap orang per tahun mengkonsumsi sekitar 93,15 kg. Angka ini masih di bawah nasional yang mencapai 100kg/orang/tahun. Padahal di Jepang hanya 60 kg/orang/tahun.
“Meski dibawah nasional, konsumsi beras DIY masih tinggi,” jelas Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Pemda DIY, Asikin Chalifah, Selasa (16/10/2012).
Menurutnya, produksi beras nasional kebanyakan ditopang dari petani yang ada di Pulau Jawa, dengan kontribusi mencapai 60 persen. Tingginya alih fungsi lahan untuk pemukiman dan industri, akan mengancam produksi tersebut.
Sehingga diperlukan program diversifikasi pangan berbahan pangan lokal, seperti singkong dan ketela maupun umbi-umbian. “Pengembangan pangan lokal ini, bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga swasta dan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Dony, dari Pusat Study Penyuluhan dan Pemberdayaan DIY mengatakan pihaknya terus mengkampanyekan produk pangan lokal.
Di antaranya dengan mendatangi sekolah-sekolah menengah. Selain itu juga melakukan pendampingan terhadap usaha produk pangan lokal.
“Tujuan kita tidak muluk. Kita hanya ingin produk makanan lokal menjadi andalan dan primadona di wilayah sendiri,” tandasnya.
“Meski dibawah nasional, konsumsi beras DIY masih tinggi,” jelas Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, Pemda DIY, Asikin Chalifah, Selasa (16/10/2012).
Menurutnya, produksi beras nasional kebanyakan ditopang dari petani yang ada di Pulau Jawa, dengan kontribusi mencapai 60 persen. Tingginya alih fungsi lahan untuk pemukiman dan industri, akan mengancam produksi tersebut.
Sehingga diperlukan program diversifikasi pangan berbahan pangan lokal, seperti singkong dan ketela maupun umbi-umbian. “Pengembangan pangan lokal ini, bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga swasta dan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Dony, dari Pusat Study Penyuluhan dan Pemberdayaan DIY mengatakan pihaknya terus mengkampanyekan produk pangan lokal.
Di antaranya dengan mendatangi sekolah-sekolah menengah. Selain itu juga melakukan pendampingan terhadap usaha produk pangan lokal.
“Tujuan kita tidak muluk. Kita hanya ingin produk makanan lokal menjadi andalan dan primadona di wilayah sendiri,” tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :