BKPM: Biaya logistik Indonesia terlampau tinggi
Kamis, 18 Oktober 2012 - 11:35 WIB
BKPM: Biaya logistik Indonesia terlampau tinggi
A
A
A
Sindonews.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan biaya logistik yang dihabiskan dalam proses distribusi barang di Indonesia masih sangat tinggi. Akibatnya, total biaya produksi di Indonesia menjadi tidak efisien dan ini berimplikasi negatif pada daya saing produk Indonesia.
"Biaya logistik di Indonesia mencapai 14 persen total biaya produksi, tinggi sekali dibanding negara-negara lain, misalnya Jepang hanya 5 persen," terang Deputi Bidang Promosi BKPM Himawan Yoga dalam Forum Dialog "Trade and Investment Forum: Strengthening Indonesia's Position in The Global Market" di JI Expo, Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Tingginya biaya logistik ini, disebabkan oleh masih buruknya infrastruktur konektivitas di Indonesia. Inefisiensi pada sejumlah pelabuhan di Indonesia membuat ongkos transportasi barang dan jasa mahal, terutama untuk produk berorientasi ekspor dan industri berbahan baku impor.
Kelemahan infrastruktur ini juga membuat harga barang di beberapa wilayah Indonesia yang masih tertinggal menjadi sangat tinggi. Himawan menyebut Nabire (Papua) sebagai contoh wilayah yang harus menanggung beban berat akibat persoalan ini. "Harga barang di Nabire 3 kali lebih mahal daripada di Jawa," tuturnya.
Demi mengatasi permasalahan ini, pemerintah perlu membangun berbagai infrastruktur baru di sejumlah wilayah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun bisa terhambat bila masalah ini tidak segera dipecahkan.
"Biaya logistik di Indonesia mencapai 14 persen total biaya produksi, tinggi sekali dibanding negara-negara lain, misalnya Jepang hanya 5 persen," terang Deputi Bidang Promosi BKPM Himawan Yoga dalam Forum Dialog "Trade and Investment Forum: Strengthening Indonesia's Position in The Global Market" di JI Expo, Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Tingginya biaya logistik ini, disebabkan oleh masih buruknya infrastruktur konektivitas di Indonesia. Inefisiensi pada sejumlah pelabuhan di Indonesia membuat ongkos transportasi barang dan jasa mahal, terutama untuk produk berorientasi ekspor dan industri berbahan baku impor.
Kelemahan infrastruktur ini juga membuat harga barang di beberapa wilayah Indonesia yang masih tertinggal menjadi sangat tinggi. Himawan menyebut Nabire (Papua) sebagai contoh wilayah yang harus menanggung beban berat akibat persoalan ini. "Harga barang di Nabire 3 kali lebih mahal daripada di Jawa," tuturnya.
Demi mengatasi permasalahan ini, pemerintah perlu membangun berbagai infrastruktur baru di sejumlah wilayah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun bisa terhambat bila masalah ini tidak segera dipecahkan.
(gpr)
Lihat Juga :