Pemerintah belum bahas bea keluar CPO Malaysia
Jum'at, 19 Oktober 2012 - 13:30 WIB
Pemerintah belum bahas bea keluar CPO Malaysia
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah masih belum membahas kebijakan penurunan bea keluar (BK) minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang dilakukan pemerintah Malaysia, meski berpotensi merugikan Indonesia. Saat ini Indonesia-Malaysia menguasai hampir 90 persen produksi CPO dunia.
"(Bea keluar CPO) belum dibahas tapi kita akan merespon, iya karena bagaimanapun juga, Indonesia dan Malaysia menguasai produksi hampir 90 persen," kata Menteri Pertanian Suswono di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (19/10/2012).
Dia mengakui, Indonesia dapat menentukan harga CPO dunia lantaran sebagai salah satu produsen terbesar CPO dunia. Karena itu, Suswono menyatakan akan tetap mengkaji bersama kementerian terkait lainnya mengenai hal ini.
"Harusnya kan kita yang menentukan harga. Kalau Indonesia-Malaysia bisa kerja sama baik, sebetulnya kita tidak akan dirugikan. Ini yang sedang kita kaji, apakah penurunan bea keluar Malaysia akan berdampak pada ekspor kita," paparnya.
Dia menjelaskan, sebelumnya telah disepakati bahwa Indonesia bersama dengan Malaysia akan mengatur suplai. Pengaturan suplai CPO bersama ini seharusnya menyebabkan kedua negara bisa mengatur harga CPO dunia.
Secara kualitas, Suswono menambahkan, CPO dinilai merupakan produk unggulan dibanding komoditas perkebunan lainnya, seperti rapeseed dan sunflower karena CPO jauh lebih efisiensi.
"Pasti mereka akan lebih tertarik membeli CPO dari pada kedua produk itu (rapeseed dan sunflower) ataupun sumber lain. Jadi sejauh ini, ini kan problem-nya yang terjadi kelesuan pasar karena daya beli di beberapa negara yang krisis, di Eropa khususnya sehingga terjadi penurunan konsumsi," pungkasnya.
Seperti diketahui, pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan menurunkan bea keluar CPO sebesar 4,5-8,5 persen dari sebelumnya 23 persen. Kebijakan itu akan berlaku mulai awal tahun depan.
"(Bea keluar CPO) belum dibahas tapi kita akan merespon, iya karena bagaimanapun juga, Indonesia dan Malaysia menguasai produksi hampir 90 persen," kata Menteri Pertanian Suswono di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (19/10/2012).
Dia mengakui, Indonesia dapat menentukan harga CPO dunia lantaran sebagai salah satu produsen terbesar CPO dunia. Karena itu, Suswono menyatakan akan tetap mengkaji bersama kementerian terkait lainnya mengenai hal ini.
"Harusnya kan kita yang menentukan harga. Kalau Indonesia-Malaysia bisa kerja sama baik, sebetulnya kita tidak akan dirugikan. Ini yang sedang kita kaji, apakah penurunan bea keluar Malaysia akan berdampak pada ekspor kita," paparnya.
Dia menjelaskan, sebelumnya telah disepakati bahwa Indonesia bersama dengan Malaysia akan mengatur suplai. Pengaturan suplai CPO bersama ini seharusnya menyebabkan kedua negara bisa mengatur harga CPO dunia.
Secara kualitas, Suswono menambahkan, CPO dinilai merupakan produk unggulan dibanding komoditas perkebunan lainnya, seperti rapeseed dan sunflower karena CPO jauh lebih efisiensi.
"Pasti mereka akan lebih tertarik membeli CPO dari pada kedua produk itu (rapeseed dan sunflower) ataupun sumber lain. Jadi sejauh ini, ini kan problem-nya yang terjadi kelesuan pasar karena daya beli di beberapa negara yang krisis, di Eropa khususnya sehingga terjadi penurunan konsumsi," pungkasnya.
Seperti diketahui, pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan menurunkan bea keluar CPO sebesar 4,5-8,5 persen dari sebelumnya 23 persen. Kebijakan itu akan berlaku mulai awal tahun depan.
(rna)
Lihat Juga :