Bisnis content provider sulit berkembang

Minggu, 21 Oktober 2012 - 14:56 WIB
Bisnis content provider...
Bisnis content provider sulit berkembang
A A A
Sindonews.com - Pasca mencuatnya kasus sedot pulsa beberapa waktu lalu, bisnis layanan tambah atau value added service (VAS) dinilai akan sulit berkembang. Saat ini, industri yang berbisnis pada sektor ini juga terus merosot.

Data dari Indonesia Mobile and Online Content Provider Association (Imoca) menunjukkan, saat ini industri VAS tak kurang dari 200 perusahaan. Padahal, beberapa waktu lalu, industri yang bergerak pada sektor VAS untuk operator seluler mencapai 400 perusahaan.

"Anggota asosiasi kami yang awalnya 200 perusahaan kini rontok menjadi 50 perusahaan," kata General Secretary Imoca Ferrij Lumoring di sela-sela Konten Teknologi Informasi yang digelar Institut Manajemen Telkom (IMT) dan Pasca Sarjana IMT di Bandung, akhir pekan lalu.

Diakui dia, dalam waktu dekat, bisnis VAS akan sulit berkembang. Paling tidak perlu waktu lama agar bisnis konten kembali ke masa kejayaannya. Saat ini, masyarakat masih trauma dan dibayang bayangi kekhawatiran berlebihan, setelah kasus sedot pulsa pernah mencuat beberapa waktu lalu.

"Kaulupun kami bisa berkembang, akan butuh waktu lama. Apalagi, regulasi pemerintah belum menerbitkan regulasi yang komprehensif," pungkas dia. Peraturan pemerintah yang ada sekarang, masih parsial dan berorientasi penyelesaian secara cepat. Sehingga belum bisa memberikan perlindungan terhadap pengusaha.

Sementara ini, apabila terjadi masalah, aturan tersebut akan diterapkan secara merata. Tidak melihat perusahaan tersebut dalam katagori baik atau buruk. Mestinya, lanjut dia, perseoalan tersebut bisa diselesaikan dengan cara duduk bersama, diskusi lintas sektor.

Wakil Rektor I Institut Manajemen Telkom Gadang Ramantoko mengungkapkan, bisnis konten semakin di bayang bayangi ketidakpastian bisnis. Saat ini, sebagian masyarakat mulai terfokus pada pemanfaatan layanan over the top (OTT) seperti Facebook, Google, Twitter, dan lainnya.

"Industri OTT semakin dominan. Pebisnis konten harus benar-benar kreatif membuat konten dan mengembangkan model bisnis baru yang membuat operator telekomunikasi lebih tertarik berbisnis layananan konten daripada dengan pemain OTT," jelas dia.

Bagaimanapun, lanjut dia, skema bisnis OTT, hanya menumpang di jaringan operator tanpa ada revenue sharing yang diterapkan. Operator hanya dibebani trafik yang tinggi dari pelanggan sehingga harus investasi terus menerus tanpa ada pemasukan tambahan.

Ditempat yang sama, Group Head Corporate Strategy & Insight PT Indosat, Tbk. Muhammad Imam Nashiruddin mengakui, sejak kasus sedot pulsa, kontribusi VAS terhadap pendapatan perusahaan anjlok signifikan. Sebelumnya, kontribusi konten VAS terhadap pendapatan Indosat sempat menyentuh angka 5 persen.

"Kini kontribusi VAS hanya 1 persen. Itu pun sudah bukan yang berbentuk SMS base. Kami berikan bentuk-bentuk lain, misalnya video dan games, agar pelanggan tidak trauma," tuturnya.

Pebisnis di bidang ini, lanjut dia, harus merubah strategi. Karena, peminat konten selalu ada. Namun, cara penawarannya harus diubah, bukan lagi layanan berbasis SMS, melainkan video dan game. Perubahan tersebut, lanjutnya, harus segera ditangkap pebisnis konten karena selain terjadi perubahan prilaku dan bisnis.

Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Telematika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Ashwin Sasongko mengakui, jika regulasi yang ada belum terintegrasi dan mencakup semua aspek.

"Contoh kalau ada koran, itu kan di bawah UU Pers No 40/1999.Tapi begitu koran itu masuk ke online, apakah masih undang-undang itu yang memayunginya atau sudah masuk ranah UU ITE. Hal seperti ini sering ditemukan, dan kami terus berusaha mensinergikan," ungkapnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Jangkau Semua Wilayah...
Jangkau Semua Wilayah di Indonesia, SPL dan Protelindo Siapkan Teknologi HAPS
Edgepoint Bangun 15.000...
Edgepoint Bangun 15.000 Menara Telekomunikasi di Malaysia, Indonesia, Filipina
HUT ke-25 Tahun, Telkomsel...
HUT ke-25 Tahun, Telkomsel Melayani Masyarakat untuk Kemajuan Indonesia
Hampir 100% Operasional...
Hampir 100% Operasional Telkomsel Dikendalikan dari Rumah
Apjatel: Penerapan Network...
Apjatel: Penerapan Network Sharing Bisa Membuat Perang Harga
Tawarkan Layanan Data...
Tawarkan Layanan Data 'Bebas Khawatir', Benarkah akan Ada Operator Baru?
Berita Terkini
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
4 jam yang lalu
Laporan Menkop ke Prabowo:...
Laporan Menkop ke Prabowo: 15.845 Koperasi Merah Putih Sudah Berdiri, 19 Ribu Masih Dibangun
5 jam yang lalu
Pengawasan DMO Diperketat,...
Pengawasan DMO Diperketat, PLN Didorong Kebut Kontrak Pasokan Batu Bara
7 jam yang lalu
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
9 jam yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
10 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
11 jam yang lalu
Infografis
Eropa Sangat Takut Radikalisasi...
Eropa Sangat Takut Radikalisasi Berkembang di Suriah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved