Produktivitas kakao Majene terus meningkat
Minggu, 21 Oktober 2012 - 16:06 WIB
Produktivitas kakao Majene terus meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Produktivitas kakao di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), dalam kurun empat tahun terakhir mengalami peningkaatan yang cukup signifikan. Berdasarkan data bidang perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Majene, peningkatannya mencapai 66 persen.
Kepala Bidang Perkebunan Dishutbun Majene, Burhan, menjelaskan peningkatan produktivitas kakao tersebut terlihat dari produktivitas yang dihasilkan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2008, rata-rata produktivitas kakao di seluruh wilayah Majene, hanya tercapai sekitar 500 kilogram per hektar. Kondisi tersebut dipengaruhi tanaman sudah tua, terserang hama dan penyakit.
Dari produktivitas tersebut, jika dihitung berdasarkan rata-rata produktivitas tahun 2012 yang tercapai sebesar 880 kilogram per hektar, terjadi peningkatan sebesar 380 kilogram per hektar.
“Dari ubinan sebanyak 500 kilogram setiap hektar itu, berarti rata-rata peningkatannya sebesar 16,5 persen setiap tahun. Sehingga, dalam empat tahun peningkatan produktivitas mencapai 66 persen,” tutur Burhan, Minggu, (21/10/2012).
Menurut Burhan, peningkatan tersebut tidak terlepas dengan adanya program gerakan nasional (Gernas) Kakao. Bahkan, untuk mendukung dan peningkatan program tersebut, pada tahun ini, pemerintah pusat memberikan bantuan gernas kakao sebesar Rp4,6 miliar.
Adapun anggaran gernas tersebut, digunakan dalam tiga bentuk kegiatan. Di antaranya, kegiatan peremajaan untuk 200 hektar lahan perkebunan kakao. Dalam kegiatan ini, tanaman-tanaman yang sudah tua atau diatas 20 tahun diganti dengan tanaman yang baru.
Program kedua adalah kegiatan rehabilitasi untuk 400 hektar lahan. Bentuk kegiatannya tanaman-tanaman yang sudah tua dan tidak terserang hama diberikan bibit unggul, kemudian ditempel pada pohon tua tersebut. Setelah tumbu, maka pohon tua tersebut di potong.
Selanjutnya, kegiatan terakhir adalah intensifikass pada 1.130 hektar lahan. Dalam program ini menggunakan metode Pemangkasan, Sanitasi, Panen Sering, Pemupukan dan Pemeliharaan (PSPSP).
"Dengan program ini, kita berharap peningkatan produktivitas kako terus berlanjut. Sehingga, taraf perekonomian warga pun akan terangkat. Tentunya, tidak terlepas peran serta para petani kakao untuk senantiasa menjaga tanaman kakao," pinta Burhanuddin.
Kepala Bidang Perkebunan Dishutbun Majene, Burhan, menjelaskan peningkatan produktivitas kakao tersebut terlihat dari produktivitas yang dihasilkan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2008, rata-rata produktivitas kakao di seluruh wilayah Majene, hanya tercapai sekitar 500 kilogram per hektar. Kondisi tersebut dipengaruhi tanaman sudah tua, terserang hama dan penyakit.
Dari produktivitas tersebut, jika dihitung berdasarkan rata-rata produktivitas tahun 2012 yang tercapai sebesar 880 kilogram per hektar, terjadi peningkatan sebesar 380 kilogram per hektar.
“Dari ubinan sebanyak 500 kilogram setiap hektar itu, berarti rata-rata peningkatannya sebesar 16,5 persen setiap tahun. Sehingga, dalam empat tahun peningkatan produktivitas mencapai 66 persen,” tutur Burhan, Minggu, (21/10/2012).
Menurut Burhan, peningkatan tersebut tidak terlepas dengan adanya program gerakan nasional (Gernas) Kakao. Bahkan, untuk mendukung dan peningkatan program tersebut, pada tahun ini, pemerintah pusat memberikan bantuan gernas kakao sebesar Rp4,6 miliar.
Adapun anggaran gernas tersebut, digunakan dalam tiga bentuk kegiatan. Di antaranya, kegiatan peremajaan untuk 200 hektar lahan perkebunan kakao. Dalam kegiatan ini, tanaman-tanaman yang sudah tua atau diatas 20 tahun diganti dengan tanaman yang baru.
Program kedua adalah kegiatan rehabilitasi untuk 400 hektar lahan. Bentuk kegiatannya tanaman-tanaman yang sudah tua dan tidak terserang hama diberikan bibit unggul, kemudian ditempel pada pohon tua tersebut. Setelah tumbu, maka pohon tua tersebut di potong.
Selanjutnya, kegiatan terakhir adalah intensifikass pada 1.130 hektar lahan. Dalam program ini menggunakan metode Pemangkasan, Sanitasi, Panen Sering, Pemupukan dan Pemeliharaan (PSPSP).
"Dengan program ini, kita berharap peningkatan produktivitas kako terus berlanjut. Sehingga, taraf perekonomian warga pun akan terangkat. Tentunya, tidak terlepas peran serta para petani kakao untuk senantiasa menjaga tanaman kakao," pinta Burhanuddin.
(gpr)
Lihat Juga :