Pengembangan pariwisata DIY terkendala fasilitas pendukung
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 16:42 WIB
Pengembangan pariwisata DIY terkendala fasilitas pendukung
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pengembangan Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) mengeluhkan masih minimnya fasilitas pendukung untuk pengembangan pariwisata di kota gudeg tersebut. Selain berdampak pada kunjunganwisatawan, minimnya fasilitas itu juga mempengaruhi lama tinggal (long of stay) wisatawan.
“Saat ini, lama tinggal wisatawan di Yogyakarta rata-rata dua hari, karena itu agar long of stay meningkat maka perlu dukungan dari pemerintah,” papar ketua BP2KY Dedy Pranawa Eryana, Jumat (26/10/2012).
Dedy mengatakan salah satu dukungan yang diharapkan dari pemerintah kota (pemkot) Yogyakarta adalah dukungan dari sektor seni dan budaya, terutama pertunjukan pada malam hari, di tempat-tempat wisata, seperti di Malioboro maupun kampong wisata yang ada di Yogyakarta. Sehingga dengan adanya pertunjukkan tersebut, Yogyakarta akan hidup sepanjang hari.
“Dengan menghidupkan seni budaya pada malam hari tentunya akan menjadi sajian wisata yang menarik, sehingga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan dan ini membutuhkan dukungan dari pemerintah,” tandasnya.
Menurut Dedy dengan meningkatkan lama tinggal wisatawan di Yogyakarta, bukan hanya akan berdampak pada pelaku dunia wisata, namun juga terhadap keberdaan Yogyakarta itu sendiri. Sebab secara tidak langsung, kegiatan tersebut akan mempromosikan Yogyakarta sebagai salah satu tujuan pariwisata di Indonesia.
“Untuk semakin mengenalkan Yogyakarta, bisa digarap dengan menghidupkan seni budaya ini, karena itu, kami juga sangat mengharapkan XT Square segera diopersianalkan. Apalagi salah satu konsepnya mengusung pertunjukan seni local,” katanya.
Selain itu, untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Yogyakarta, BP2KY juga melakukan terobosan baru, di antaranya bekerjasama dengan biro perjalanan wisata mengembangkan wisata alternatif. Misalnya dalam mengunjungi tempat wisata tidak hanya di Yogyakarta, namun juga tempat wisata lain yang ada di wilayah DIY.
“Contohnya, untuk pengembangan wisata di Yogyakarta selatan, yakni dengan mengunjungi Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY), satu paket dengan kunjungan ke kandang Menjangan, yang ada di Krayak, Sewon, Bantul dilanjutkan dengan kunjungan ke tempat wisata terdekat dan pada malam harinya dapat menikmati pertunjukkan seni dan budaya,” jelasnya.
Untuk itu, BP2KY juga sangat mendukung dengan adanya kegiatan warm trip ke Yogyakarta, terutama yang dilakukan oleh para jurnalis manca negara. Sebab secara tidak langsung liputan mereka akan mengenalkan Yogyakarta di negara mereka masing-masing. Salah satunya seperti yang saat ini sedang dilakukan jurnalis dari Australia.
Kepala Seksi Kerja Sama Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Yogyakarta Budiyono mengakui memang untuk pengembangan industri pariwisata di sektor seni dan budaya ini belum optimal. Selain belum dapat secara rutin menggelar seni pertunjukkan tersebut, untuk tempatnya juga tidak merata. Namun begitu, tetap akan berusaha mengakomodasi hal tersebut. Salah satunya dengan memfasilitasi komunitas atau kelompok seni yang akan pentas pada malam hari di sepanjang Malioboro.
“Pada prinsipnya kami siap memberikan fasilitas, terakhir Dewan Teater Yogyakarta juga meminta fasilitas untuk dapat pentas di sepanjang Malioboro pada malam hari. Permintaan ini seiring dengan perkembangan teater yang semakin baik,” janjinya.
“Saat ini, lama tinggal wisatawan di Yogyakarta rata-rata dua hari, karena itu agar long of stay meningkat maka perlu dukungan dari pemerintah,” papar ketua BP2KY Dedy Pranawa Eryana, Jumat (26/10/2012).
Dedy mengatakan salah satu dukungan yang diharapkan dari pemerintah kota (pemkot) Yogyakarta adalah dukungan dari sektor seni dan budaya, terutama pertunjukan pada malam hari, di tempat-tempat wisata, seperti di Malioboro maupun kampong wisata yang ada di Yogyakarta. Sehingga dengan adanya pertunjukkan tersebut, Yogyakarta akan hidup sepanjang hari.
“Dengan menghidupkan seni budaya pada malam hari tentunya akan menjadi sajian wisata yang menarik, sehingga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan dan ini membutuhkan dukungan dari pemerintah,” tandasnya.
Menurut Dedy dengan meningkatkan lama tinggal wisatawan di Yogyakarta, bukan hanya akan berdampak pada pelaku dunia wisata, namun juga terhadap keberdaan Yogyakarta itu sendiri. Sebab secara tidak langsung, kegiatan tersebut akan mempromosikan Yogyakarta sebagai salah satu tujuan pariwisata di Indonesia.
“Untuk semakin mengenalkan Yogyakarta, bisa digarap dengan menghidupkan seni budaya ini, karena itu, kami juga sangat mengharapkan XT Square segera diopersianalkan. Apalagi salah satu konsepnya mengusung pertunjukan seni local,” katanya.
Selain itu, untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Yogyakarta, BP2KY juga melakukan terobosan baru, di antaranya bekerjasama dengan biro perjalanan wisata mengembangkan wisata alternatif. Misalnya dalam mengunjungi tempat wisata tidak hanya di Yogyakarta, namun juga tempat wisata lain yang ada di wilayah DIY.
“Contohnya, untuk pengembangan wisata di Yogyakarta selatan, yakni dengan mengunjungi Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY), satu paket dengan kunjungan ke kandang Menjangan, yang ada di Krayak, Sewon, Bantul dilanjutkan dengan kunjungan ke tempat wisata terdekat dan pada malam harinya dapat menikmati pertunjukkan seni dan budaya,” jelasnya.
Untuk itu, BP2KY juga sangat mendukung dengan adanya kegiatan warm trip ke Yogyakarta, terutama yang dilakukan oleh para jurnalis manca negara. Sebab secara tidak langsung liputan mereka akan mengenalkan Yogyakarta di negara mereka masing-masing. Salah satunya seperti yang saat ini sedang dilakukan jurnalis dari Australia.
Kepala Seksi Kerja Sama Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Yogyakarta Budiyono mengakui memang untuk pengembangan industri pariwisata di sektor seni dan budaya ini belum optimal. Selain belum dapat secara rutin menggelar seni pertunjukkan tersebut, untuk tempatnya juga tidak merata. Namun begitu, tetap akan berusaha mengakomodasi hal tersebut. Salah satunya dengan memfasilitasi komunitas atau kelompok seni yang akan pentas pada malam hari di sepanjang Malioboro.
“Pada prinsipnya kami siap memberikan fasilitas, terakhir Dewan Teater Yogyakarta juga meminta fasilitas untuk dapat pentas di sepanjang Malioboro pada malam hari. Permintaan ini seiring dengan perkembangan teater yang semakin baik,” janjinya.
(gpr)
Lihat Juga :