Industri kelapa sawit butuh penangkap gas metana

Rabu, 31 Oktober 2012 - 11:27 WIB
Industri kelapa sawit...
Industri kelapa sawit butuh penangkap gas metana
A A A
Sindonews.com - Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mendesak pemerintah segera memberikan insentif kepada para pengusaha untuk membeli alat penangkap gas metana. Dengan keberadaan alat itu, tingkat emisi gas metana di pabrik kelapa sawit (PKS) dapat mencapai standar Amerika Serikat (AS).

Wakil Ketua I Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan, badan perlindungan lingkungan AS (Environmental Protection Agency/EPA) mengusulkan penolakan terhadap biodiesel Indonesia, karena Indonesia dianggap sebagai negara yang tak ramah lingkungan.

Lembaga itu mengusulkan pengurangan emisi metana dibandingkan bahan bakar minyak (BBM) fosil dalam negeri minimal 20 persen agar biodiesel dalam negeri dapat diterima di AS. Berdasarkan data EPA, saat ini emisi tersebut baru mencapai 17 persen.

"Agak sulit memang, mengingat PKS kita belum dilengkapi alat penangkap gas metana, serta lahan gambut kita yang juga mengkontribusikan gas metana yang cukup besar," ungkap dia di Medan.

Dia menjelaskan, saat ini baru sekira 60 dari sekira 608 PKS yang ada di Indonesia. Maka itu kalau pemerintah berniat membangun hilirisasi energi, dan merambah pasar biodiesel AS, harusnya pengusaha dapat insentif. "Alat penangkap gas metana itu cukup mahal. Satunya bisa mencapai Rp10 miliar," tambah dia.

Derom mengaku, hasil studi perbandingan yang telah dilakukan pihaknya sedikit berbeda dengan lembaga lingkungan AS. Kadar emisi gas metan dalam negeri diakui tak sebesar tudingan lembaga tersebut.

Namun jika memang mau ekspansi, tentunya harus menyesuaikan standarisasi dengan mereka. Maka itu akan ada beberapa langkah yang bisa diambil, salah satunya memasang transimisi alat penangkap gas metana itu.

"Menurut mereka, PKS kita menghasilkan gas metana dengan total volume 90 persen dari total produksi berkapasitas 60 ton per hektare per tahun. Ditambah lagi gas metana dari lahan gambut yang mencapai 95 ton. Kalau data kita Cuma 38–43 ton saja per tahun," katanya.

"Tapi ya suka tidak suka kita harus sesuaikan, makanya keberadaan insentif tersebut sangat penting, ini juga kan bagian dari hilirisasi produk perkebunan kita yang saat ini terancam atas harga yang terus merosot. Setidaknya 60 persen dapat segera direalisasikan alat tersebut, jika insentif itu dikucurkan," tutup dia.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
87 Kontainer CPO Ilegal...
87 Kontainer CPO Ilegal Senilai Rp28,7 Miliar Digagalkan di Tanjung Priok
Pemerintah Resmi Berlakukan...
Pemerintah Resmi Berlakukan Aturan Larangan Ekspor CPO
Kesulitan Jual CPO, ...
Kesulitan Jual CPO,  Pabrik Kelapa Sawit Tutup Operasi
Harga CPO Sudah Naik...
Harga CPO Sudah Naik 29% Sepanjang Tahun, Ini Proyeksi di 2022
Hari Ini Melandai, Harga...
Hari Ini Melandai, Harga Minyak Sawit Diramal Masih Bakal Nanjak
Sempat Cetak Rekor,...
Sempat Cetak Rekor, Harga CPO Anjlok 8 Persen di Sesi Jumat Siang
Berita Terkini
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
48 menit yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
1 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
1 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
2 jam yang lalu
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
2 jam yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
2 jam yang lalu
Infografis
Untuk Membangun Kembali...
Untuk Membangun Kembali Kota Gaza, Palestina Butuh Rp868 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved