Investor enggan bangun rumah vertikal di Citayam
Minggu, 04 November 2012 - 18:33 WIB
Investor enggan bangun rumah vertikal di Citayam
A
A
A
Sindonews.com - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Depok untuk mengembangkan pembangunan rumah vertikal di wilayah Citayam, Depok kurang memikat para investor jika tujuannya adalah mencari untung.
Menurut pengusaha properti yang juga pemilik perumahan Nuansa Telaga, Cilodong, Nursi Arsirawati, tawaran Pemkot Depok untuk membangun rumah vertikal di wilayah Citayam, Depok kurang mempunyai daya jual. Pasalnya, rumah vertikal memiliki pasar tersendiri atau biasanya adalah pasangan keluarga muda. Hal itu akan merugikan investor dari sisi bisnis.
“Kalau dari semangatnya untuk memajukan wilayah Citayam dan mendekati transportasi pada kereta, kita bisa memahami. Tapi, dari sisi bisnis masih belum bisa. Tren selama ini, rumah vertikal biasanya mendekati pada pusat keramaian,” terangnya, Minggu (4/11/2012).
Nursi menilai, lain halnya jika di wilayah Jalan Margonda, Depok. Untuk pengembangan rumah vertikal baik secara bisnis maupun wilayah kawasan Margonda sangat cocok. Biasanya, peminatnya adalah pasangan muda yang lebih memilih apartemen. Sedangkan, untuk pasangan yang lebih tua biasanya lebih memilih pada perumahan horizontal.
Selain itu, dalam mengembangkan perumahan horizontal di kawasan Citayam, dirinya menyerahkan kesiapannya pada Pemkot Depok, diantaranya, pengadaan infrastruktur seperti jalan, sampah dan lainnya. Apalagi, untuk rumah vertikal, minimal ada 200 kepala keluarga yang menghuni.
“Jadi, pengembang juga masih hitung untung rugi lebih dulu. Apalagi, di wilayah Tapos terdapat rumah susun yang mati. Kita sangat memperhatikan lokasinya. Kalau daerah perkotaan di Jakarta, itu (rumah vertikal) menarik. Tapi, kalau daerah Citayam ya masih mikir dulu,” paparnya.
Menurut pengusaha properti yang juga pemilik perumahan Nuansa Telaga, Cilodong, Nursi Arsirawati, tawaran Pemkot Depok untuk membangun rumah vertikal di wilayah Citayam, Depok kurang mempunyai daya jual. Pasalnya, rumah vertikal memiliki pasar tersendiri atau biasanya adalah pasangan keluarga muda. Hal itu akan merugikan investor dari sisi bisnis.
“Kalau dari semangatnya untuk memajukan wilayah Citayam dan mendekati transportasi pada kereta, kita bisa memahami. Tapi, dari sisi bisnis masih belum bisa. Tren selama ini, rumah vertikal biasanya mendekati pada pusat keramaian,” terangnya, Minggu (4/11/2012).
Nursi menilai, lain halnya jika di wilayah Jalan Margonda, Depok. Untuk pengembangan rumah vertikal baik secara bisnis maupun wilayah kawasan Margonda sangat cocok. Biasanya, peminatnya adalah pasangan muda yang lebih memilih apartemen. Sedangkan, untuk pasangan yang lebih tua biasanya lebih memilih pada perumahan horizontal.
Selain itu, dalam mengembangkan perumahan horizontal di kawasan Citayam, dirinya menyerahkan kesiapannya pada Pemkot Depok, diantaranya, pengadaan infrastruktur seperti jalan, sampah dan lainnya. Apalagi, untuk rumah vertikal, minimal ada 200 kepala keluarga yang menghuni.
“Jadi, pengembang juga masih hitung untung rugi lebih dulu. Apalagi, di wilayah Tapos terdapat rumah susun yang mati. Kita sangat memperhatikan lokasinya. Kalau daerah perkotaan di Jakarta, itu (rumah vertikal) menarik. Tapi, kalau daerah Citayam ya masih mikir dulu,” paparnya.
(rna)
Lihat Juga :