Langkah Malaysia 'obral' CPO dianggap strategis
Jum'at, 09 November 2012 - 14:36 WIB
Langkah Malaysia 'obral' CPO dianggap strategis
A
A
A
Sindonews.com - Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan, langkah pemerintah Malaysia menurunkan bea keluar hingga 8 persen karena melihat hingga semester II tahun ini tren harga CPO terus menurun.
Joko menuturkan, upaya Malaysia itu sebagai upaya proteksi terhadap industri yang dianggap strategis. "Penurunan bea keluar dan penambahan kuota di Malaysia sesuatu yang bagus, di saat industrinya menurun, pemerintahnya melakukan terobosan kebijakan, kebijakan bea keluarnya direvisi," ujar Joko di Kantor Pusat Gapki, Jakarta, Jumat (9/11/2012).
Kebijakan Malaysia itu, menurut Joko, membuat produk CPO menjadi lebih murah. Di samping itu, Joko menilai Indonesia akan merugi jika mempertahankan bea keluar tinggi di kisaran 13-22 persen. "Dengan bea keluar sekarang CPO Indonesia kalah bersaing dengan CPO Malaysia," tutur Joko.
Melihat hal tersebut, Gapki meminta Kementerian Perdagangan agar mengambil tindakan dengan menerapkan kebijakan terkait bea keluar. "Jika dibiarkan pasar CPO Indonesia bisa tergerus karena harganya kalah bersaing di pasaran dunia," pungkas Joko.
Joko menuturkan, upaya Malaysia itu sebagai upaya proteksi terhadap industri yang dianggap strategis. "Penurunan bea keluar dan penambahan kuota di Malaysia sesuatu yang bagus, di saat industrinya menurun, pemerintahnya melakukan terobosan kebijakan, kebijakan bea keluarnya direvisi," ujar Joko di Kantor Pusat Gapki, Jakarta, Jumat (9/11/2012).
Kebijakan Malaysia itu, menurut Joko, membuat produk CPO menjadi lebih murah. Di samping itu, Joko menilai Indonesia akan merugi jika mempertahankan bea keluar tinggi di kisaran 13-22 persen. "Dengan bea keluar sekarang CPO Indonesia kalah bersaing dengan CPO Malaysia," tutur Joko.
Melihat hal tersebut, Gapki meminta Kementerian Perdagangan agar mengambil tindakan dengan menerapkan kebijakan terkait bea keluar. "Jika dibiarkan pasar CPO Indonesia bisa tergerus karena harganya kalah bersaing di pasaran dunia," pungkas Joko.
(gpr)
Lihat Juga :