Ekspor kerajinan rotan capai USD15 juta
Senin, 12 November 2012 - 13:10 WIB
Ekspor kerajinan rotan capai USD15 juta
A
A
A
Sindonews.com - Ekspor kerajinan rotan dari kawasan industri kerajinan rotan Cirebon saat ini mencapai 1.500 kontainer per bulan atau setara USD15 juta.
Jumlah tersebut naik sekitar 50 persen, dibandingkan pada periode akhir tahun 2011 sampai awal 2012, di mana penjualan kerajinan rotan hanya mencapai 650-1.000 kontainer per bulan. Perlambatan ekspor kerajinan rotan pada periode tersebut disebabkan minimnya suplai rotan mentah, akibat dibukanya keran ekspor rotan mentah oleh pemerintah.
"Sejak bulan Juni 2012, ekspor kerjinan rotan terus membaik. Saat ini volume ekspor dari Cirebon rata-rata mencapai 1500 kontainer per bulan dengan nilai penjualan rata-rata USD10 ribu per kontainer," jelas Ketua Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo) Jabar Sumarca kepada waratawan di Bandung, Senin (12/11/2012).
Diakui dia, walaupun pasar Eropa dan Amerika sebagai tujuan utama ekspor mengalami perlambatan ekonomi, namun industri kerajinan Cirebon terbantu oleh pembukaan pasar baru di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Ketiga kawasan tersebut menyumbang volume ekspor cukup besar.
Menurut Sumarca, ketiga kawasan tersebut menyumbang sekitar 30 persen dari total ekspor kerajinan rotan dari Cirebon. Sementara sisanya masih di ekspor ke kawasan Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika, dan Jepang.
"Walaupun pangsa pasar baru, tapi serapan terhadap produk rotan sangat tinggi. Dari 1.500 kontainer per bulan, 30 persen masuk ke pangsa pasar baru," pungkas dia.
Menurut dia, Asia, Afrika, dan Timur Tengah cukup menolong ekspor kerajinan rotan Cirebon. Karena, ekspor ke Eropa dan Amerika mengalami perlambatan cukup signifikan.
Selain ketiga kawasan tersebut, ekspor kerajinan rotan Cirebon juga mulai menggarap pangsa pasar potensial di Asia, seperti China, Vietnam, dan India. "Produk furniture seperti kursi dan meja menjadi produk yang paling di minati," jelas dia.
Sementara untuk produk aksesoris lainnya, belum terlalu diminati. Menurut dia, belanja produk furnitur masih pada produk kebutuhan pokok. Belum ke produk lainnya.
Walaupun begitu, Sumarca optimistis, pada 2013 mendatang, ekspor kerajinan rotan akan lebih baik lagi. Dia optimsitis, volume eskpor bisa naik sekitar 100 persen dari akhir tahun 2011 yang hanya mencapai 1.000 kontainer per bulan.
Namun demikian, lanjut dia, target tersebut bisa terpenuhi, apabila ada keinginan dari semua pihak untuk mengamankan rotan mentah. Selama suplai rotan mentah terjaga, lanjut Sumarca, produksi kerajinan rotan akan terus naik.
"Pemerintah memang sudah melarang ekspor rotan mentah, tapi ekspor ilegal saat ini begitu marak. Kami khawatir, ketersediaan rotan mentah terganggu," beber dia.
Apabila kondisi tersebut terus memburuk, dipastikan akan mengancam industri rotan Cirebon. Padahal, industri tersebut menyerap tenaga kerja cukup banyak.
Untuk meminimalisir kondisi tersebut, perajin rotan terus berupaya melakukan serapan rotan lokal secara maksimal. Saat ini, lanjut dia, pihaknya tidak hanya mengandalkan rotan mentah dari Sulawesi saja. Tapi juga dari kawasan lainnya seperti Sumatera, Kalimantan, dan lainnya.
Jumlah tersebut naik sekitar 50 persen, dibandingkan pada periode akhir tahun 2011 sampai awal 2012, di mana penjualan kerajinan rotan hanya mencapai 650-1.000 kontainer per bulan. Perlambatan ekspor kerajinan rotan pada periode tersebut disebabkan minimnya suplai rotan mentah, akibat dibukanya keran ekspor rotan mentah oleh pemerintah.
"Sejak bulan Juni 2012, ekspor kerjinan rotan terus membaik. Saat ini volume ekspor dari Cirebon rata-rata mencapai 1500 kontainer per bulan dengan nilai penjualan rata-rata USD10 ribu per kontainer," jelas Ketua Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo) Jabar Sumarca kepada waratawan di Bandung, Senin (12/11/2012).
Diakui dia, walaupun pasar Eropa dan Amerika sebagai tujuan utama ekspor mengalami perlambatan ekonomi, namun industri kerajinan Cirebon terbantu oleh pembukaan pasar baru di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Ketiga kawasan tersebut menyumbang volume ekspor cukup besar.
Menurut Sumarca, ketiga kawasan tersebut menyumbang sekitar 30 persen dari total ekspor kerajinan rotan dari Cirebon. Sementara sisanya masih di ekspor ke kawasan Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika, dan Jepang.
"Walaupun pangsa pasar baru, tapi serapan terhadap produk rotan sangat tinggi. Dari 1.500 kontainer per bulan, 30 persen masuk ke pangsa pasar baru," pungkas dia.
Menurut dia, Asia, Afrika, dan Timur Tengah cukup menolong ekspor kerajinan rotan Cirebon. Karena, ekspor ke Eropa dan Amerika mengalami perlambatan cukup signifikan.
Selain ketiga kawasan tersebut, ekspor kerajinan rotan Cirebon juga mulai menggarap pangsa pasar potensial di Asia, seperti China, Vietnam, dan India. "Produk furniture seperti kursi dan meja menjadi produk yang paling di minati," jelas dia.
Sementara untuk produk aksesoris lainnya, belum terlalu diminati. Menurut dia, belanja produk furnitur masih pada produk kebutuhan pokok. Belum ke produk lainnya.
Walaupun begitu, Sumarca optimistis, pada 2013 mendatang, ekspor kerajinan rotan akan lebih baik lagi. Dia optimsitis, volume eskpor bisa naik sekitar 100 persen dari akhir tahun 2011 yang hanya mencapai 1.000 kontainer per bulan.
Namun demikian, lanjut dia, target tersebut bisa terpenuhi, apabila ada keinginan dari semua pihak untuk mengamankan rotan mentah. Selama suplai rotan mentah terjaga, lanjut Sumarca, produksi kerajinan rotan akan terus naik.
"Pemerintah memang sudah melarang ekspor rotan mentah, tapi ekspor ilegal saat ini begitu marak. Kami khawatir, ketersediaan rotan mentah terganggu," beber dia.
Apabila kondisi tersebut terus memburuk, dipastikan akan mengancam industri rotan Cirebon. Padahal, industri tersebut menyerap tenaga kerja cukup banyak.
Untuk meminimalisir kondisi tersebut, perajin rotan terus berupaya melakukan serapan rotan lokal secara maksimal. Saat ini, lanjut dia, pihaknya tidak hanya mengandalkan rotan mentah dari Sulawesi saja. Tapi juga dari kawasan lainnya seperti Sumatera, Kalimantan, dan lainnya.
(gpr)
Lihat Juga :