Biaya produksi naik, BEI tidak khawatir
Senin, 12 November 2012 - 15:21 WIB
Biaya produksi naik, BEI tidak khawatir
A
A
A
Sindonews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku tidak khawatir akan mengalami peningkatan biaya produksi yang harus dikeluarkan dari pelaksanaan jam perdagangan yang dibuka lebih awal. Pasalnya, untuk dapat memajukan jam perdagangan tersebut dibutuhkan biaya tidak murah.
"Kalau namanya fixed cost itu sudah tetap, kita mau buka jam berapa pun tidak akan bertambah lah. Mungkin hanya sedikit bertambah cost listrik, tapi itu tidak akan signifikan. Akan lebih besar manfaatnya daripada mudaratnya," terang Direktur Teknologi Informasi BEI, Adikin Basirun di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/11/2012).
Dia menambahkan, perlu ada penyeseuaian yang dilakukan untuk merealisasikan rencana itu, meliputi berbagai aspek yang tidak sedikit.
"Ini kan memang bukan hanya setting mesin terus selesai. Tapi ini kan juga perlu sosialisasi sama nasabahnya, juga penyesuaian-penyesuaian lain. Misalnya, menyesuaikan jam masuk kantor atau mungkin penyesuan dari sisi administratif anggota bursa yang memang membutuhkan waktu," tutup dia.
Seperti diketahui, grand launching jam perdagangan baru dilakukan pada 2 Januari 2012. Pada jam perdagangan baru, sesi 1 pre-opening berlangsung dari pukul 08.45 hingga 08.55 dan pasar secara resmi dibuka pukul 09.00. Pada sesi 2, pasar dibuka pada pukul 13.30–15.50 dan tidak ada pembentukan harga closing.
Pre-closing dilakukan pada pukul 15.55–16.00. Saat ini order dikumpulkan tanpa macthing trading. Mulai pukul 16.00–16.05 data closing didistribusi ke anggota bursa dan publik. Selanjutnya, pada pukul 16.05–16.15 merupakan post-trading, khususnya pada closing price. Pre-closing dan post-closing diberlakukan untuk menghindari manipulasi pasar dan meningkatkan likuiditas.
Adapun pelaksanaan pre-closing dan post-closing telah dilakukan di banyak negara. Salah satu bursa saham regional yang telah menggunakannya, yaitu bursa saham Hong Kong. Samsul berharap, perubahan jadwal perdagangan tersebut bisa meningkatkan perdagangan di luar Jakarta. Apalagi, saat ini hampir 90 persen perdagangan dilakukan di Jakarta dan sekitarnya.
"Kalau namanya fixed cost itu sudah tetap, kita mau buka jam berapa pun tidak akan bertambah lah. Mungkin hanya sedikit bertambah cost listrik, tapi itu tidak akan signifikan. Akan lebih besar manfaatnya daripada mudaratnya," terang Direktur Teknologi Informasi BEI, Adikin Basirun di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/11/2012).
Dia menambahkan, perlu ada penyeseuaian yang dilakukan untuk merealisasikan rencana itu, meliputi berbagai aspek yang tidak sedikit.
"Ini kan memang bukan hanya setting mesin terus selesai. Tapi ini kan juga perlu sosialisasi sama nasabahnya, juga penyesuaian-penyesuaian lain. Misalnya, menyesuaikan jam masuk kantor atau mungkin penyesuan dari sisi administratif anggota bursa yang memang membutuhkan waktu," tutup dia.
Seperti diketahui, grand launching jam perdagangan baru dilakukan pada 2 Januari 2012. Pada jam perdagangan baru, sesi 1 pre-opening berlangsung dari pukul 08.45 hingga 08.55 dan pasar secara resmi dibuka pukul 09.00. Pada sesi 2, pasar dibuka pada pukul 13.30–15.50 dan tidak ada pembentukan harga closing.
Pre-closing dilakukan pada pukul 15.55–16.00. Saat ini order dikumpulkan tanpa macthing trading. Mulai pukul 16.00–16.05 data closing didistribusi ke anggota bursa dan publik. Selanjutnya, pada pukul 16.05–16.15 merupakan post-trading, khususnya pada closing price. Pre-closing dan post-closing diberlakukan untuk menghindari manipulasi pasar dan meningkatkan likuiditas.
Adapun pelaksanaan pre-closing dan post-closing telah dilakukan di banyak negara. Salah satu bursa saham regional yang telah menggunakannya, yaitu bursa saham Hong Kong. Samsul berharap, perubahan jadwal perdagangan tersebut bisa meningkatkan perdagangan di luar Jakarta. Apalagi, saat ini hampir 90 persen perdagangan dilakukan di Jakarta dan sekitarnya.
(rna)
Lihat Juga :