Pengangguran terbuka DIY tinggal 3,97%
Senin, 12 November 2012 - 20:24 WIB
Pengangguran terbuka DIY tinggal 3,97%
A
A
A
Sindonews.com - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi DIY tinggal 3,97 persen pada bulan Agustus lalu. Angka ini terus mengalami penurunan dibanding pada bulan Februari lalu yang masih 4,09 persen.
Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik DIY, Rahmawati mengaku TPT merupakan perbandingan antara jumlah penganggur dengan jumlah angkatan kerja. Pada bulan Agustus 2009, TPT 6 persen, Agustus 2010 5,69 persen dan pada Agustus tahun 2012 tinggal 3,97 persen.
“Sejak 2009 fluktuai kita antara 4-6 persen dan berada di bawah TPT nasional, “ jelas Rahmawati di Yogyakarata Senin (12/11/2012).
Tingkat TPT tertinggi terjadi di Kabupaten Sleman sebesar 5,42 persen. Sedangkan terendah di Kabupaten Gunungkidul 1,92 persen. Kabupaten Sleman sebesar 5,42 persen, Kota Yogyakarta sebesar 5,03 persen dan Kabupaten Kulonprogo sebesar 3,91 persen.
TPT di daerah perkotaan DIY sekitar 4,53 persen, dan di perdesaan 2,99 persen. Tingginya TPT di kota dipengaruhi beragamnya lapangan pekerjaan. Sedangkan di perdesaan umumnya didominasi pertanian dengan daya tampung yang terbatas.
Tingginya TPT di perkotaan ini, juga dipengaruhi banyaknya pencari kerja yang migrasi ke perkotaan. Biasanya mereka mondok di perkotaan. Sehingga kesannya jumlah pengangguran di kota meningkat dan di desa turun, karena banyak yang pindah.
Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) menyerap pekerja paling banyak yaitu masing-masing sekitar 26,91 persen dan 24,87 persen pada Agustus 2012. Sektor lain yang peranannya cukup berarti adalah Sektor Jasa-jasa sebesar 18,76 persen dan Sektor Industri Pengolahan sebesar 15,13 persen. “Memang pertanian dan hotel masih mendominasi,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakan, untuk memaksimalkan pengentasan kemiskinan dan pengangguran, pihaknya terus memberikan kemudahan kepada investor. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah menggunakan tenaga kerja lokal.
Dengan cara ini pengangguran akan bisa ditekan, dan tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. “Kita selalu dorong menggunakan tenaga kerja lokal bagi instri yang akan masuk di Kulonprogo,” tegas Hasto.
Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik DIY, Rahmawati mengaku TPT merupakan perbandingan antara jumlah penganggur dengan jumlah angkatan kerja. Pada bulan Agustus 2009, TPT 6 persen, Agustus 2010 5,69 persen dan pada Agustus tahun 2012 tinggal 3,97 persen.
“Sejak 2009 fluktuai kita antara 4-6 persen dan berada di bawah TPT nasional, “ jelas Rahmawati di Yogyakarata Senin (12/11/2012).
Tingkat TPT tertinggi terjadi di Kabupaten Sleman sebesar 5,42 persen. Sedangkan terendah di Kabupaten Gunungkidul 1,92 persen. Kabupaten Sleman sebesar 5,42 persen, Kota Yogyakarta sebesar 5,03 persen dan Kabupaten Kulonprogo sebesar 3,91 persen.
TPT di daerah perkotaan DIY sekitar 4,53 persen, dan di perdesaan 2,99 persen. Tingginya TPT di kota dipengaruhi beragamnya lapangan pekerjaan. Sedangkan di perdesaan umumnya didominasi pertanian dengan daya tampung yang terbatas.
Tingginya TPT di perkotaan ini, juga dipengaruhi banyaknya pencari kerja yang migrasi ke perkotaan. Biasanya mereka mondok di perkotaan. Sehingga kesannya jumlah pengangguran di kota meningkat dan di desa turun, karena banyak yang pindah.
Sektor Pertanian dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) menyerap pekerja paling banyak yaitu masing-masing sekitar 26,91 persen dan 24,87 persen pada Agustus 2012. Sektor lain yang peranannya cukup berarti adalah Sektor Jasa-jasa sebesar 18,76 persen dan Sektor Industri Pengolahan sebesar 15,13 persen. “Memang pertanian dan hotel masih mendominasi,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakan, untuk memaksimalkan pengentasan kemiskinan dan pengangguran, pihaknya terus memberikan kemudahan kepada investor. Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah menggunakan tenaga kerja lokal.
Dengan cara ini pengangguran akan bisa ditekan, dan tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. “Kita selalu dorong menggunakan tenaga kerja lokal bagi instri yang akan masuk di Kulonprogo,” tegas Hasto.
(gpr)
Lihat Juga :