Kondisi makro AS diprediksi pengaruhi kurs rupiah
Selasa, 13 November 2012 - 15:20 WIB
Kondisi makro AS diprediksi pengaruhi kurs rupiah
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) memandang, masuknya arus modal asing (capital inflow) yang akan terjadi pada beberapa kuartal ke depan akan memberikan dampak positif pada nilai tukar rupiah. Namun, penguatan nilai tukar rupiah tersebut akan sangat dipengaruhi kondisi makro Amerika Serikat (AS).
"Ya, harapannya seperti itu (dengan bertambahnya inflow, maka rupiah menguat)," kata Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono di Gedung KS Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (13/11/2012).
Kendati demikian, diakui Hartadi, Bank Sentral masih perlu memantau perkembangan kondisi ekonomi Amerika Serikat pasca terpilihnya Obama sebagai Presiden negara adidaya tersebut untuk kedua kalinya. Pasalnya, arus modal yang nantinya akan masuk ke Indonesia sangat terpengaruh pada kondisi makro Amerika Serikat.
"Tidak ada push sekarang untuk men-judge any policy (membuat kebijakan terkait hal tersebut). Sekarang duduk tenang, duduk manis. Kita dengar, monitor dengan baik situasi di Amerika khususnya," sambung dia. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp9.685.
Sementara itu, untuk mengantisipasi banjirnya capital inflow, BI juga berupaya meningkatakan daya serap finansial. "Jadi kita expect (perkirakan) dengan performa ekonomi yang bagus itu (performa ekonomi Indonesia saat ini), akan ada inflow (arus modal yang masuk) lagi dalam beberapa kuartal ke depan atau beberapa bulan ke depan," ujarnya.
Hartadi menambahkan, potensi banjirnya aliran dana asing ke dalam negeri tersebut bahkan sudah terasa saat ini, terutama yang masuk melalui sektor-sektor invesatasi. Guna merespon potensi tersebut, Bank Sentral sedang berupaya meningkatkan daya serap terhadap berbagai dana asing yang masuk.
Kendati idealnya dana-dana tersebut harus dimanfaatkan untuk pembiayaan kegiatan ekonomi nasional, namun dalam jangka pendek, dana-dana tersebut akan sulit dimanfaatkan sepenuhnya guna pembiayaan perekonomian. Itu mengingat jumlah kegiatan ekonomi nasional jangka pendek yang masih terbatas, begitu pula kebutuhan pembiayaan yang juga masih terbatas.
"Ya, harapannya seperti itu (dengan bertambahnya inflow, maka rupiah menguat)," kata Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono di Gedung KS Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (13/11/2012).
Kendati demikian, diakui Hartadi, Bank Sentral masih perlu memantau perkembangan kondisi ekonomi Amerika Serikat pasca terpilihnya Obama sebagai Presiden negara adidaya tersebut untuk kedua kalinya. Pasalnya, arus modal yang nantinya akan masuk ke Indonesia sangat terpengaruh pada kondisi makro Amerika Serikat.
"Tidak ada push sekarang untuk men-judge any policy (membuat kebijakan terkait hal tersebut). Sekarang duduk tenang, duduk manis. Kita dengar, monitor dengan baik situasi di Amerika khususnya," sambung dia. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp9.685.
Sementara itu, untuk mengantisipasi banjirnya capital inflow, BI juga berupaya meningkatakan daya serap finansial. "Jadi kita expect (perkirakan) dengan performa ekonomi yang bagus itu (performa ekonomi Indonesia saat ini), akan ada inflow (arus modal yang masuk) lagi dalam beberapa kuartal ke depan atau beberapa bulan ke depan," ujarnya.
Hartadi menambahkan, potensi banjirnya aliran dana asing ke dalam negeri tersebut bahkan sudah terasa saat ini, terutama yang masuk melalui sektor-sektor invesatasi. Guna merespon potensi tersebut, Bank Sentral sedang berupaya meningkatkan daya serap terhadap berbagai dana asing yang masuk.
Kendati idealnya dana-dana tersebut harus dimanfaatkan untuk pembiayaan kegiatan ekonomi nasional, namun dalam jangka pendek, dana-dana tersebut akan sulit dimanfaatkan sepenuhnya guna pembiayaan perekonomian. Itu mengingat jumlah kegiatan ekonomi nasional jangka pendek yang masih terbatas, begitu pula kebutuhan pembiayaan yang juga masih terbatas.
(rna)