Sektor migas butuh dewan profesi

Jum'at, 16 November 2012 - 09:31 WIB
Sektor migas butuh dewan...
Sektor migas butuh dewan profesi
A A A
Sindonews.com - Para pelaku usaha di bidang migas mengusulkan dibentuknya dewan profesi, seperti yang ada di sejumlah bidang pekerjaan yang memiliki kekhususan.

Keberadaan dewan tersebut dinilai penting untuk menghindari kriminalisasi pekerja migas yang bidang kerjanya rentan terhadap tuduhan penyalahgunaan wewenang dalam menjaga kelancaran operasi.

“Para pekerja migas utamanya yang bertugas di eksplorasi mengemban tugas berat untuk membuktikan sesuatu yang tidak kasat mata, yakni cadangan migas yang tersimpan jauh di dalam tanah,” ungkap Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Salis S Aprilian dalam diskusi bertema “Membedah Hukum Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial di Sektor Migas” di Jakarta belum lama ini.

Pekerjaan di bidang ini menuntut kemampuan teknis yang tak seluruhnya dipahami bidang pekerjaan lain. Karena itu, kata Salis, merujuk pengalamannya selama 23 tahun menggeluti profesi di sektor hulu migas, pergantian sumber daya manusia bukan hal yang mudah.

Dia menambahkan, pekerjaan di sektor ini pun merupakan kerja sama tim yang selalu melibatkan banyak divisi dalam pengambilan keputusan. Karena itu, tegas dia, saat ada kesalahan yang terjadi hal itu merupakan keputusan yang bersifat kolektif.

Terkait dengan itu, Salis mengaku prihatin pada nasib karyawan PT Chevron Pacific Indonesia yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus bioremediasi. Mereka dituding bertanggung jawab atas dugaan korupsi dalam proyek penanganan limbah bekas minyak pada tanah tersebut.

Menurut dia, seharusnya kasus tersebut tidak langsung ditangani kepolisian atau kejaksaan, melainkan dikaji dulu secara profesi oleh tim independen yang ahli di bidangnya.

“Saya khawatir, pascakasus ini karyawan perusahaan migas akan memilih menjadi safety player dalam mengambil keputusan agar tidak terjerat dalam kasus pidana. Padahal, sifat pekerjaan di bidang ini bisa dibilang gambling,” tuturnya.

Ketua Komite Tetap Hulu Migas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Firlie Ganinduto menambahkan, berdasarkan pengalamannya, sektor hulu migas merupakan salah satu yang paling ketat dalam penerapan good governance, dibandingkan industri lainnya. Sebab, selain padat teknologi, industri migas juga padat modal.

“Sehingga, berbagai pengeluaran yang terjadi dalam kegiatan operasi selalu diawasi dengan ketat baik oleh perusahaan sendiri, maupun pihak-pihak lain yang terkait. Jadi sulit membayangkan ada penyelewengan oleh karyawan,” tuturnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Deretan Gergasi Migas...
Deretan Gergasi Migas Asing yang Tak Betah di Indonesia
Status SKK Migas Jadi...
Status SKK Migas Jadi BUMN Khusus Menguat
Intip Strategi Mengejar...
Intip Strategi Mengejar Target Investasi Migas di Tengah Pandemi
Tantangan Besar Industri...
Tantangan Besar Industri Migas
28 Kesepakatan Migas...
28 Kesepakatan Migas Berpotensi Datangkan Penerimaan Rp35 Triliun
Geo Opti Oilfield Services...
Geo Opti Oilfield Services Curi Perhatian Profesional Migas di Ajang IPA Convex 2025
Berita Terkini
Marketing CoE Danantara,...
Marketing CoE Danantara, Jasa Marga Jadi Mentor Pengelolaan Command Center
18 menit yang lalu
Kilau Emas Kembali Lagi...
Kilau Emas Kembali Lagi usai Menguat Rp8 Ribu, Buyback Naik Rp16.000 per Gram
52 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Sumbagut: Antrean BBM di SPBU Mulai Terurai
1 jam yang lalu
Hutan Gundul, Cadangan...
Hutan Gundul, Cadangan Devisa Menguap! Mantan Menkeu Bongkar Patgulipat Ekspor Tambang
2 jam yang lalu
Dari Medan hingga Jakarta,...
Dari Medan hingga Jakarta, Keseruan Nobar Piala Dunia 2026 Bersama BRI Satukan Kita!
3 jam yang lalu
Jaga Pasokan BBM di...
Jaga Pasokan BBM di Sumut: Pertamina Tindak Mobil Tangki Nakal, Terminal dan SPBU Siaga 24 Jam
4 jam yang lalu
Infografis
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved