Rupiah akhir tahun diprediksi Rp9.650/USD
Jum'at, 16 November 2012 - 17:15 WIB
Rupiah akhir tahun diprediksi Rp9.650/USD
A
A
A
Sindonews.com - Jelang akhir tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi akan berada pada posisi Rp9.650 per USD. Proyeksi tersebut turut dipengaruhi oleh pernyatan dari Bank Indonesia bahwa hingga akhir tahun rupiah akan dijaga pada level Rp9.590–9.650 per USD.
"Hingga akhir tahun 2012 ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan berada di level Rp9.600-9.650. Ini terlihat dari bulan Oktober ke November, yang juga berada pada kisaran Rp96.00an. Kondisi ini didukung juga oleh pernyataan BI yang akan menjaga rupiah tidak juah dari level Rp9.600 hingga akhir tahun 2012," ujar pengamat valas, Rahadyo Anggoro Widagdo dalam keterangannya, Jumat (16/11/2012).
Lebih lanjut dia menjelaskan, posisi tersebut dengan indikator bahwa melambatnya defisit transaksi berjalan (current account) pada kuartal ketiga diharapkan mampu memberikan dukungan bagi stabilnya nilai tukar rupiah.
"Indikator bahwa melambatnya defisit transaksi berjalan di kuartal III menjadi USD5,3 miliar (2,4 persen dari PDB) dari kuartal sebelumnya sebesar USD7,7 miliar (3,5 persendari PDB), mampu memberikan dukungan bagi stabilnya nilai tukar rupiah," sambung dia.
Di sisi lain, dukungan dari penurunan jumlah impor juga mampu memberi sentimen positif trhadap kestabilan nilai rupiah, walaupun kinerja ekspor masih tercatat menurun. "Kendati kinerja ekspor masih menurun akibat belum pulihnya krisis, neraca perdagangan berhasil mencatat surplus karena turunnya impor yang cukup signifikan," kata dia.
Sementara, dipertahankannya suku bunga acuan BI Rate pada level 5,75 persen untuk kesembilan kalinya, juga memberikan sentimen bagi rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak ada masalah.
"Sebenarnya ada ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunganya seiring terjaganya inflasi. Tetapi diperkirakan hingga akhir tahun 2012, BI rate tetap di level 5,75 persen dan kemungkinan perubahan suku bunga acuan baru terjadi di semester kedua 2013, mengingat adanya kenaikan berbagai bahan baku dan sentimen politik menjelang pemilu 2014," tutup dia.
"Hingga akhir tahun 2012 ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan berada di level Rp9.600-9.650. Ini terlihat dari bulan Oktober ke November, yang juga berada pada kisaran Rp96.00an. Kondisi ini didukung juga oleh pernyataan BI yang akan menjaga rupiah tidak juah dari level Rp9.600 hingga akhir tahun 2012," ujar pengamat valas, Rahadyo Anggoro Widagdo dalam keterangannya, Jumat (16/11/2012).
Lebih lanjut dia menjelaskan, posisi tersebut dengan indikator bahwa melambatnya defisit transaksi berjalan (current account) pada kuartal ketiga diharapkan mampu memberikan dukungan bagi stabilnya nilai tukar rupiah.
"Indikator bahwa melambatnya defisit transaksi berjalan di kuartal III menjadi USD5,3 miliar (2,4 persen dari PDB) dari kuartal sebelumnya sebesar USD7,7 miliar (3,5 persendari PDB), mampu memberikan dukungan bagi stabilnya nilai tukar rupiah," sambung dia.
Di sisi lain, dukungan dari penurunan jumlah impor juga mampu memberi sentimen positif trhadap kestabilan nilai rupiah, walaupun kinerja ekspor masih tercatat menurun. "Kendati kinerja ekspor masih menurun akibat belum pulihnya krisis, neraca perdagangan berhasil mencatat surplus karena turunnya impor yang cukup signifikan," kata dia.
Sementara, dipertahankannya suku bunga acuan BI Rate pada level 5,75 persen untuk kesembilan kalinya, juga memberikan sentimen bagi rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak ada masalah.
"Sebenarnya ada ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunganya seiring terjaganya inflasi. Tetapi diperkirakan hingga akhir tahun 2012, BI rate tetap di level 5,75 persen dan kemungkinan perubahan suku bunga acuan baru terjadi di semester kedua 2013, mengingat adanya kenaikan berbagai bahan baku dan sentimen politik menjelang pemilu 2014," tutup dia.
(rna)