Penyaluran KUR di Jabar belum maksimal
Minggu, 18 November 2012 - 18:01 WIB
Penyaluran KUR di Jabar belum maksimal
A
A
A
Sindonews.com - Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai belum memberikan manfaat maksimal bagi pelaku industri kreatif di Jawa Barat (Jabar). Selain nominal kreditnya kecil, bunga KUR dinilai masih cukup tinggi.
Ketua Himpunan pengusaha muda Indonesia(HIPMI) Jawa Barat Yedi Karyadi menjelaskan, walaupun perbankan melakukan ekspansi besar besaran terhadap sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tapi pelaku UMKM Jabar terutama industri kreatif masih kesulitan mengakses kredit untuk modal usaha.
Program pembiayaan yang digulirkan pemerintah melalui KUR, juga belum memberikan hasil maksimal. "Kredit usaha rakyat (KUR) yang menjadi program pemerintah, belum sepenuhnya menyentuh para pelaku industri kreatif di pedesaan," kata Yedi Karyedi di Bandung, Minggu (18/11/2012).
Menurut dia, persoalan tersebut cukup menghambat pertumbuhan UMKM dari sektor industri kreatif. Beberapa persoalan yang muncul terkait eksistensi usaha. Sedangkan untuk mengakses program pembiayaan lainnya, selalu terhambat agunan.
Diketahui, KUR disalurkan oleh perbankan milik pemerintah, seperti Bank BRI, BNI, Mandiri, dan lainnya. Saat ini, bunga KUR dipatok antara 18-22 persen per tahun tanpa agunan. Sayangnya, bunga KUR yang cenderung besar terkadang menjadi persoalan bagi calon debitur. Bunga sebesar itu tidak sesuai dengan keuntungan yang didapat pelaku usaha.
Sementara kredit tanpa agunan, justru berpengaruh pada besaran pinjaman yang diterima debitur. Jumlah pinjaman dinilai terlalu kecil dan tidak cukup untuk menyuntik kekurangan modal. Padahal, untuk permodalan, paling tidak debitur membutuhkan dana minimal Rp15-25 juta.
Lebih lanjut Yedi mengatakan, Jabar merupakan daerah dengan potensi industri kreatif cukup besar, terutama di daerah pedesaan. Sayangnya, potensi industri kreatif di pedesaan belum mendapat perhatian maksimal.
"Dukungan pemerintah untuk pengembangan industri kreatif di pedesaan belum maksimal. Akibatnya, industri kreatif di pedesaan sulit berkembang dan cenderung stagnan," terang dia. Padahal, industri kreatif di pedesaan berpotensi berkembang. Misalnya kerajinan tangan, kuliner, atau produk tekstil.
Di anntara mereka, juga memiliki potensi ekspor. Seperti kerajinan patung, kaligrafi atau pun lainnya. Menurut dia, industri kreatif di Jabar lebih banyak berkembang dia perkotaan. Hal itu dikarenakan masyarakatnya telah memiliki pengatahuan memadai. "Sementara di wilayah lain sulit berkembang," jelas dia.
Menurut Yedi, paling tidak perlu ada terobosan daripemerintah agar industri kreatif di pedesaan menjadi berkembang. Misalnya, terobosan permodalan atau membantu mempromosikan produk mereka untuk akses pasar yang lebih luas lagi. Langkah pertama yang bisa dilakukan, yaitu membuat blue print industri kreatif.
Ketua Himpunan pengusaha muda Indonesia(HIPMI) Jawa Barat Yedi Karyadi menjelaskan, walaupun perbankan melakukan ekspansi besar besaran terhadap sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tapi pelaku UMKM Jabar terutama industri kreatif masih kesulitan mengakses kredit untuk modal usaha.
Program pembiayaan yang digulirkan pemerintah melalui KUR, juga belum memberikan hasil maksimal. "Kredit usaha rakyat (KUR) yang menjadi program pemerintah, belum sepenuhnya menyentuh para pelaku industri kreatif di pedesaan," kata Yedi Karyedi di Bandung, Minggu (18/11/2012).
Menurut dia, persoalan tersebut cukup menghambat pertumbuhan UMKM dari sektor industri kreatif. Beberapa persoalan yang muncul terkait eksistensi usaha. Sedangkan untuk mengakses program pembiayaan lainnya, selalu terhambat agunan.
Diketahui, KUR disalurkan oleh perbankan milik pemerintah, seperti Bank BRI, BNI, Mandiri, dan lainnya. Saat ini, bunga KUR dipatok antara 18-22 persen per tahun tanpa agunan. Sayangnya, bunga KUR yang cenderung besar terkadang menjadi persoalan bagi calon debitur. Bunga sebesar itu tidak sesuai dengan keuntungan yang didapat pelaku usaha.
Sementara kredit tanpa agunan, justru berpengaruh pada besaran pinjaman yang diterima debitur. Jumlah pinjaman dinilai terlalu kecil dan tidak cukup untuk menyuntik kekurangan modal. Padahal, untuk permodalan, paling tidak debitur membutuhkan dana minimal Rp15-25 juta.
Lebih lanjut Yedi mengatakan, Jabar merupakan daerah dengan potensi industri kreatif cukup besar, terutama di daerah pedesaan. Sayangnya, potensi industri kreatif di pedesaan belum mendapat perhatian maksimal.
"Dukungan pemerintah untuk pengembangan industri kreatif di pedesaan belum maksimal. Akibatnya, industri kreatif di pedesaan sulit berkembang dan cenderung stagnan," terang dia. Padahal, industri kreatif di pedesaan berpotensi berkembang. Misalnya kerajinan tangan, kuliner, atau produk tekstil.
Di anntara mereka, juga memiliki potensi ekspor. Seperti kerajinan patung, kaligrafi atau pun lainnya. Menurut dia, industri kreatif di Jabar lebih banyak berkembang dia perkotaan. Hal itu dikarenakan masyarakatnya telah memiliki pengatahuan memadai. "Sementara di wilayah lain sulit berkembang," jelas dia.
Menurut Yedi, paling tidak perlu ada terobosan daripemerintah agar industri kreatif di pedesaan menjadi berkembang. Misalnya, terobosan permodalan atau membantu mempromosikan produk mereka untuk akses pasar yang lebih luas lagi. Langkah pertama yang bisa dilakukan, yaitu membuat blue print industri kreatif.
(rna)
Lihat Juga :