Daging sapi langka, DKI paling terdampak
Senin, 19 November 2012 - 09:31 WIB
Daging sapi langka, DKI paling terdampak
A
A
A
Sindonews.com - Tersendatnya pasokan daging yang terjadi beberapa hari belakangan ini, dipandang akan mempengaruhi perekonomian di DKI Jakarta. Bahkan, ibu kota negara ini disebut-sebut sebagai wilayah yang paling buruk terkena dampak kelangkaan suplai daging tersebut.
Ketua Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya, Sarman Simanjorang menyebutkan, pandangan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa DKI Jakarta sebagai kota metropolitan tidak memiliki sarana peternakan dan penggemukan hewan ternak yang memadai.
Kondisi tersebut mengakibatkan, kebutuhan DKI Jakarta akan daging sangat bergantung pada suplai daging dari wilayah lain termasuk dari impor.
"Pemangkasan kuota daging sapi impor dari 100 ribu ton menjadi 34.000 ribu ton yang paling merasakan dampaknya adalah DKI Jakarta karena suplai daging sapi untuk Jakarta 100 persen dari luar Jakarta baik lokal mapupun impor. Karena Jakarta tidak memiliki sarana peternakan dan penggemukan," terang Sarman kepada Sindonews, Senin (19/11/2012).
Sebagai konsekuensi atas kondisi tersebut, aktivitas usaha yang notabenenya menggunakan daging sebagai bahan baku usahanya akan sangat terpengaruh, sehingga secara umum hal tersebut tentu sangat mengganggu aktivitas ekonomi ibu kota secara makro ekonomi.
"Ribuan pedagang bakso dan warung makan/padang terancam mandek usahanya dan semuanya ada di Jakarta. Kami ingin memastikan bahwa kelangsungan usaha UKM yang membututuhkan daging sapi sebagai bahan utama produksinya harus terjamin pasokannya," sambung dia.
Ketua Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya, Sarman Simanjorang menyebutkan, pandangan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa DKI Jakarta sebagai kota metropolitan tidak memiliki sarana peternakan dan penggemukan hewan ternak yang memadai.
Kondisi tersebut mengakibatkan, kebutuhan DKI Jakarta akan daging sangat bergantung pada suplai daging dari wilayah lain termasuk dari impor.
"Pemangkasan kuota daging sapi impor dari 100 ribu ton menjadi 34.000 ribu ton yang paling merasakan dampaknya adalah DKI Jakarta karena suplai daging sapi untuk Jakarta 100 persen dari luar Jakarta baik lokal mapupun impor. Karena Jakarta tidak memiliki sarana peternakan dan penggemukan," terang Sarman kepada Sindonews, Senin (19/11/2012).
Sebagai konsekuensi atas kondisi tersebut, aktivitas usaha yang notabenenya menggunakan daging sebagai bahan baku usahanya akan sangat terpengaruh, sehingga secara umum hal tersebut tentu sangat mengganggu aktivitas ekonomi ibu kota secara makro ekonomi.
"Ribuan pedagang bakso dan warung makan/padang terancam mandek usahanya dan semuanya ada di Jakarta. Kami ingin memastikan bahwa kelangsungan usaha UKM yang membututuhkan daging sapi sebagai bahan utama produksinya harus terjamin pasokannya," sambung dia.
(gpr)
Lihat Juga :