Pemerintah akui daging sapi langka
Rabu, 21 November 2012 - 09:45 WIB
Pemerintah akui daging sapi langka
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah mengakui, di berbagai daerah di Indonesia daging sapi sulit dicari. Namun, kelangkaan daging sapi yang berimbas pada meroketnya harga tidak lantas disikapi dengan menambah kuota impor daging sapi tahun ini.
“Sejauh ini belum akan ada perubahan kebijakan terkait kuota impor daging sapi. Menurut Kementerian Pertanian (Kementan), stok sapinya ada, tapi di pasar daging sulit dicari,” kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi di Jakarta kemarin.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia Asnawi menilai ada indikasi permainan oleh importir yang menyebabkan harga daging di pasaran melonjak drastis. Menurut dia, hal itu terlihat dari tidak adanya gejolak yang signifikan yang menyebabkan kenaikan harga.
Daging impor saat ini menurutnya lebih murah dibanding sapi lokal, transportasi dan distribusi pun lebih murah serta kurs dolar Australia tidak bergejolak.
“Logikanya sapi impor tidak ada gonjang-ganjing. Ada indikasi permainan harga, motifnya agar impor di tambah karena sekarang mereka sudah teriak-teriak untuk menambah kuota impor,” ujarnya.
Tahun ini kebutuhan daging sapi mencapai 85.000 ton. Kuota impor yang ditetapkan pemerintah hanya sebesar 74.000 ton.
Padahal, 45 persen kebutuhan daging digunakan untuk industri kecil dan menengah. Harga daging sapi di Jakarta sempat menyentuh angka Rp100.000 per kilogram (kg). Bahkan, pada akhir tahun, jika tidak ada kebijakan yang tepat, harga daging sapi diprediksi akan mencapai Rp120.000 per kg.
Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya menyebutkan, langkanya daging sapi di beberapa daerah disebabkan kebijakan pemerintah yang tidak siap dalam membatasi impor daging sapi. Daging sapi impor yang dipangkas menjadikan pasokan daging sapi lokal terserap untuk industri.
“Kita sudah meminta pemerintah untuk mengevaluasi dan melakukan penambahan kuota impor karena diyakini tidak akan mencukupi,” kata Ketua KDS Jakarta Raya Sarman Simanjorang.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), kuota impor daging sapi tahun ini yang hanya sebesar 74.000 ton, turun dibanding tahun lalu yang mencapai 100.000 ton.
Kuota itu terbagi untuk dua kali pemasukan, yakni semester I sebesar 22.200 ton dan semester II sebanyak 13.800 ton. Karena harga mulai naik dan mulai terjadi kekurangan pasokan, pemerintah memajukan sisa kuota dari semester II sebesar 5.600 ton, sehingga sisa kuota semester II tinggal 8.200 ton.
“Sejauh ini belum akan ada perubahan kebijakan terkait kuota impor daging sapi. Menurut Kementerian Pertanian (Kementan), stok sapinya ada, tapi di pasar daging sulit dicari,” kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi di Jakarta kemarin.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia Asnawi menilai ada indikasi permainan oleh importir yang menyebabkan harga daging di pasaran melonjak drastis. Menurut dia, hal itu terlihat dari tidak adanya gejolak yang signifikan yang menyebabkan kenaikan harga.
Daging impor saat ini menurutnya lebih murah dibanding sapi lokal, transportasi dan distribusi pun lebih murah serta kurs dolar Australia tidak bergejolak.
“Logikanya sapi impor tidak ada gonjang-ganjing. Ada indikasi permainan harga, motifnya agar impor di tambah karena sekarang mereka sudah teriak-teriak untuk menambah kuota impor,” ujarnya.
Tahun ini kebutuhan daging sapi mencapai 85.000 ton. Kuota impor yang ditetapkan pemerintah hanya sebesar 74.000 ton.
Padahal, 45 persen kebutuhan daging digunakan untuk industri kecil dan menengah. Harga daging sapi di Jakarta sempat menyentuh angka Rp100.000 per kilogram (kg). Bahkan, pada akhir tahun, jika tidak ada kebijakan yang tepat, harga daging sapi diprediksi akan mencapai Rp120.000 per kg.
Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya menyebutkan, langkanya daging sapi di beberapa daerah disebabkan kebijakan pemerintah yang tidak siap dalam membatasi impor daging sapi. Daging sapi impor yang dipangkas menjadikan pasokan daging sapi lokal terserap untuk industri.
“Kita sudah meminta pemerintah untuk mengevaluasi dan melakukan penambahan kuota impor karena diyakini tidak akan mencukupi,” kata Ketua KDS Jakarta Raya Sarman Simanjorang.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), kuota impor daging sapi tahun ini yang hanya sebesar 74.000 ton, turun dibanding tahun lalu yang mencapai 100.000 ton.
Kuota itu terbagi untuk dua kali pemasukan, yakni semester I sebesar 22.200 ton dan semester II sebanyak 13.800 ton. Karena harga mulai naik dan mulai terjadi kekurangan pasokan, pemerintah memajukan sisa kuota dari semester II sebesar 5.600 ton, sehingga sisa kuota semester II tinggal 8.200 ton.
(gpr)
Lihat Juga :