Defisit perdagangan Jepang terus memburuk
Kamis, 22 November 2012 - 09:27 WIB
Defisit perdagangan Jepang terus memburuk
A
A
A
Sindonews.com - Jepang membukukan defisit perdagangan terburuk lebih dari 30 tahun pada Oktober lalu. Hal tersebut menggarisbawahi adanya pelemahan yang terus menerus di negara dengan perekonomian terbesar ketiga dunia itu di tengah perlambatan global dan permasalahan sengketa kepulauan dengan China.
Data Departemen Keuangan Jepang menunjukkan, defisit perdagangan bulan lalu mencapai USD6,7 miliar atau hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu akibat rendahnya outputperusahaan yang mengakibatkan penyusutan ekonomi pada kuartal III/2012.
Angka-angka tersebut secara otomatis memberikan tekanan kepada Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) untuk memulai langkah-langkah pelonggaran lebih lanjut guna meningkatkan perekonomian. Tetapi, BoJ masih menahan tindakan kebijakan stimulus baru dan tetap mempertahankan suku bunga acuan.
Pemimpin oposisi utama Shinzo Abe mengatakan, jika terpilih menjadi Perdana Menteri (PM) Jepang pada pemilihan umum (pemilu) Desember mendatang, pihaknya menginginkan bank sentral membeli obligasi pemerintah untuk membantu menaikkan perekonomian.
Namun, Gubernur BoJ Masaaki Shirakawa menolak usulan tersebut.Menurutnya, BoJ juga telah memperingatkan bahwa ekonomi Jepang diprediksi tetap melemah untuk saat ini karena masih terdapat ketidakpastian yang tinggi di lingkungan perekonomian global.
Pada saat yang sama,ekspor Jepang dilaporkan merosot untuk bulan kelima berturutturut akibat melemahnya permintaan dari pasar utamanya yakni China dan Uni Eropa. Pengiriman barang pada Oktober lalu turun 6,5% dari tahun sebelumnya, sementara ekspor ke China dan Eropa menurun masing-masing 11,6 persen dan 20 persen.
BBC melaporkan, ekonomi Jepang sangat bergantung pada ekspor,sehingga perlambatan pertumbuhan di sektor tersebut dapat mengganggu perekonomian Tokyo.
Analis mengutarakan, mengingat kondisi ekonomi global yang tidak menentu, ekspor Jepang berpotensi terus melemah dalam beberapa bulan mendatang.“Pada dasarnya hal itu adalah kondisi yang sangat normal di mana harus dihadapi untuk peningkatan ekspor di tahun depan,” kata Martin Schulz analis Fujitsu Research.
Data ekspor tersebut muncul hanya beberapa minggu setelah Pemerintah Jepang melaporkan bahwa ekonominya telah terkontraksi 0,9 persen pada kuartal III/2012.
Seperti diketahui,China sebagai negara ekonomi terbesar kedua dunia serta memiliki pasar domestik luas menjadi negara yang penting untuk eksportir global dan regional, termasuk Jepang.
Namun, hubungan antara kedua negara memburuk akibat sengketa masalah pembelian kepulauan yang terjadi September lalu. Pembelian tersebut menyebabkan kemarahan masyarakat China dengan melampiaskannya kepada merek-merek Jepang.
Data Departemen Keuangan Jepang menunjukkan, defisit perdagangan bulan lalu mencapai USD6,7 miliar atau hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu akibat rendahnya outputperusahaan yang mengakibatkan penyusutan ekonomi pada kuartal III/2012.
Angka-angka tersebut secara otomatis memberikan tekanan kepada Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) untuk memulai langkah-langkah pelonggaran lebih lanjut guna meningkatkan perekonomian. Tetapi, BoJ masih menahan tindakan kebijakan stimulus baru dan tetap mempertahankan suku bunga acuan.
Pemimpin oposisi utama Shinzo Abe mengatakan, jika terpilih menjadi Perdana Menteri (PM) Jepang pada pemilihan umum (pemilu) Desember mendatang, pihaknya menginginkan bank sentral membeli obligasi pemerintah untuk membantu menaikkan perekonomian.
Namun, Gubernur BoJ Masaaki Shirakawa menolak usulan tersebut.Menurutnya, BoJ juga telah memperingatkan bahwa ekonomi Jepang diprediksi tetap melemah untuk saat ini karena masih terdapat ketidakpastian yang tinggi di lingkungan perekonomian global.
Pada saat yang sama,ekspor Jepang dilaporkan merosot untuk bulan kelima berturutturut akibat melemahnya permintaan dari pasar utamanya yakni China dan Uni Eropa. Pengiriman barang pada Oktober lalu turun 6,5% dari tahun sebelumnya, sementara ekspor ke China dan Eropa menurun masing-masing 11,6 persen dan 20 persen.
BBC melaporkan, ekonomi Jepang sangat bergantung pada ekspor,sehingga perlambatan pertumbuhan di sektor tersebut dapat mengganggu perekonomian Tokyo.
Analis mengutarakan, mengingat kondisi ekonomi global yang tidak menentu, ekspor Jepang berpotensi terus melemah dalam beberapa bulan mendatang.“Pada dasarnya hal itu adalah kondisi yang sangat normal di mana harus dihadapi untuk peningkatan ekspor di tahun depan,” kata Martin Schulz analis Fujitsu Research.
Data ekspor tersebut muncul hanya beberapa minggu setelah Pemerintah Jepang melaporkan bahwa ekonominya telah terkontraksi 0,9 persen pada kuartal III/2012.
Seperti diketahui,China sebagai negara ekonomi terbesar kedua dunia serta memiliki pasar domestik luas menjadi negara yang penting untuk eksportir global dan regional, termasuk Jepang.
Namun, hubungan antara kedua negara memburuk akibat sengketa masalah pembelian kepulauan yang terjadi September lalu. Pembelian tersebut menyebabkan kemarahan masyarakat China dengan melampiaskannya kepada merek-merek Jepang.
(gpr)
Lihat Juga :