Apindo: Jokowi saja tak berani hadapi demo buruh
Kamis, 22 November 2012 - 10:56 WIB
Apindo: Jokowi saja tak berani hadapi demo buruh
A
A
A
Sindonews.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengkritik kebijakan penetapan upah minimum oleh pemerintah yang tunduk pada demonstrasi-demonstrasi buruh.
Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang sangat diharapkan akan membawa banyak perubahan dengan kebijaksanaannya pun juga tak bernyali menghadapi aksi-aksi buruh.
"Buruh tidak pernah puas, pemerintah begini, kita mau apa? Itu Jokowi saja tidak berani," ujar Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi kepada Sindonews setelah menghadiri acara talkshow Power Breakfest MNC Business di Menara MNC, Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Menurut Sofjan, dunia usaha di Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah besar. Di tengah semakin masifnya aksi-aksi demo buruh dan kenaikan upah minimum, barang-barang impor membanjiri pasar domestik. Situasi yang tidak menguntungkan ini bisa mendorong para pengusaha untuk menghentikan kegiatan usahanya.
"Sebenarnya gini, kalau kita lihat situasi sejak tahun lalu sampai sekarang, kita merasakan sekali produktivitas buruh menurun, absensi naik. Barang-barang impor sekarang sedang banjir karena kita nggak bisa bersaing lagi dengan cost yang tinggi. Upah tahun ini naik tinggi sekali, misalnya di Bogor sampai 80 persen," jelas Sofjan.
Pihaknya meminta pemerintah untuk bertindak sesuai akal sehat. Permasalahan ekonomi, sambungnya, harus diselesaikan secara ekonomis, bukan dengan pertimbangan politis. "Pemerintah jangan mengorbankan ekonomi demi populis," pungkas dia.
Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang sangat diharapkan akan membawa banyak perubahan dengan kebijaksanaannya pun juga tak bernyali menghadapi aksi-aksi buruh.
"Buruh tidak pernah puas, pemerintah begini, kita mau apa? Itu Jokowi saja tidak berani," ujar Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi kepada Sindonews setelah menghadiri acara talkshow Power Breakfest MNC Business di Menara MNC, Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Menurut Sofjan, dunia usaha di Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah besar. Di tengah semakin masifnya aksi-aksi demo buruh dan kenaikan upah minimum, barang-barang impor membanjiri pasar domestik. Situasi yang tidak menguntungkan ini bisa mendorong para pengusaha untuk menghentikan kegiatan usahanya.
"Sebenarnya gini, kalau kita lihat situasi sejak tahun lalu sampai sekarang, kita merasakan sekali produktivitas buruh menurun, absensi naik. Barang-barang impor sekarang sedang banjir karena kita nggak bisa bersaing lagi dengan cost yang tinggi. Upah tahun ini naik tinggi sekali, misalnya di Bogor sampai 80 persen," jelas Sofjan.
Pihaknya meminta pemerintah untuk bertindak sesuai akal sehat. Permasalahan ekonomi, sambungnya, harus diselesaikan secara ekonomis, bukan dengan pertimbangan politis. "Pemerintah jangan mengorbankan ekonomi demi populis," pungkas dia.
(gpr)
Lihat Juga :