Kualitas rendah, upah buruh tak masuk akal
Kamis, 22 November 2012 - 12:01 WIB
Kualitas rendah, upah buruh tak masuk akal
A
A
A
Sindonews.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan, tingginya upah di Indonesia ini kurang masuk akal mengingat rendahnya kualitas tenaga kerja di Indonesia.
"60 persen buruh kita cuma lulusan SD-SMP, tidak punya skill," pungkas Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi setelah menghadiri acara talkshow Power Breakfest MNC Business di Menara MNC, Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Padahal, lanjut Sofjan, upah buruh di Indonesia masih lebih tinggi daripada di Vietnam dan China. Tentu saja ini mengurangi daya saing Indonesia terhadap kedua negara tersebut.
"Kita itu sama Vietnam, kita jauh lebih mahal. Sama di China hampir sama tapi mereka nggak bayar tunjangan macam-macam. Kita ini banyak tambahannya. Ada makan, asuransi, jamsostek," sambungnya.
Akibatnya, tutur Sofjan, banyak pengusaha yang berencana akan merelokasi pabriknya ke luar negeri, terutama ke Myanmar dan Malaysia. "Pengusaha banyak yang rencana pindah ke Myanmar dan Malaysia," kata dia.
Demi mencegah hijrah besar-besaran ini, pihaknya mengaku telah mendorong agar para pengusaha pindah ke Jawa Tengah yang upah minimumnya masih tergolong rendah di Indonesia. "Saya bilang pindah saja ke Jawa Tengan yang UMP-nya masih 1 jutaan," ujar Sofjan.
"60 persen buruh kita cuma lulusan SD-SMP, tidak punya skill," pungkas Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi setelah menghadiri acara talkshow Power Breakfest MNC Business di Menara MNC, Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Padahal, lanjut Sofjan, upah buruh di Indonesia masih lebih tinggi daripada di Vietnam dan China. Tentu saja ini mengurangi daya saing Indonesia terhadap kedua negara tersebut.
"Kita itu sama Vietnam, kita jauh lebih mahal. Sama di China hampir sama tapi mereka nggak bayar tunjangan macam-macam. Kita ini banyak tambahannya. Ada makan, asuransi, jamsostek," sambungnya.
Akibatnya, tutur Sofjan, banyak pengusaha yang berencana akan merelokasi pabriknya ke luar negeri, terutama ke Myanmar dan Malaysia. "Pengusaha banyak yang rencana pindah ke Myanmar dan Malaysia," kata dia.
Demi mencegah hijrah besar-besaran ini, pihaknya mengaku telah mendorong agar para pengusaha pindah ke Jawa Tengah yang upah minimumnya masih tergolong rendah di Indonesia. "Saya bilang pindah saja ke Jawa Tengan yang UMP-nya masih 1 jutaan," ujar Sofjan.
(gpr)
Lihat Juga :