Perbankan Jabar optimistis KPR FLPP prospektif
Jum'at, 23 November 2012 - 18:00 WIB
Perbankan Jabar optimistis KPR FLPP prospektif
A
A
A
Sindonews.com - Kalangan perbankan optimistis, penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) melalui Fasilitas Lukuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) akan membaik di tahun 2013.
Potensi membaiknya penyaluran KPR untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), setelah terbitnya Peraturan Menteri Perumahan Rakyat (Permenpera) Nomor 13 dan 14 tahun 2012.
Di mana, Permenpera No.13/Tahun 2012 mengatur Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan FLPP.
Sedangkan Permenpera Nomor 14 Tahun 2012 mengatur Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera Dengan Dukungan FLPP.
“Tahun depan, kami memprediksi penyaluran KPR FLPP untuk MBR akan lebih baik. Karena, pemerintah telah menetapkan ketentuan pemberian FLPP bagi MBR serta harga jual perumahan di bawah tipe 36 sebesar Rp88 juta,” jelas Manager Mikro Bank Bukopin Wilayah Jawa Barat Ahmad Rustandi, jumat (23/11/2012).
Tahun depan, pihaknya menargetkan mampu menyalurkan KPR melalui FLPP sebesar Rp7 miliar. Jumlah tersebut akan membiayai ribuan perumahan di Jawa Barat.
Untuk tipe 36 dibandrol Rp88 juta. Bank Bukopin menggunakan suku bungan FLPP yang dibandrol pemerintah sebesar 7,25 persen. Jangka waktu kredit dinaikan dari 15 tahun menjadi 20 tahun.
Lebih lanjut Ahmad Rustandi mengatakan, potensi membaiknya penjualan perumahan di tahun 2013 memberi angin segar bagi Bank Bukopin. Lantaran, pada awal tahun 2012, penyaluran kredit FLPP nyaris terhenti.
Terhentinya penyaluran KPR untuk MBR disebabkan belum adanya kepastian payung hukum terkait haarga perumahan FLPP ketika itu. “Kredit KPR dengan fasilitas FLPP di tahun 2012 nyaris terhenti. Baru pada akhir tahun 2012, bisa normal kembali,” pungkas dia.
Diakui dia, Bank Bukopin akan terus memberikan kredit perumahan melalui FLPP, sebagaimana di amanatkan pemerintah. Selain Bank Bukopin, masih ada perbankan lainnya yang menyalurkan FLPP.
Sementara itu, menurunnya penyaluran kredit perumahan untuk MBR justru berbanding terbalik dengan peningkatan penyaluran kredit Bank Bukopin ke sektor lainnya. Selama periode Januari-Oktober 2012, Bank Bukopin mencatat pertumbuhan kredit lebih dari 100 persen. Pertumbuhan tersebut di topang tumbuhnya sektor pariwisata, fesyen, dan kuliner di kawasan Bandung Raya.
Kepala Cabang Bank Bukopin wilayah Bandung Afrizal Naim menjelaskan, tahun ini, bank-nya mencatat pertumbuhan kredit lebih dari 100 persen. Selama periode Januari-Oktober Bank Bukopin Bandung mencatat penyaluran kredit senilai Rp700 miliar. Tumbuh sekitar Rp400 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp300 miliar.
"Pertumbuhan tersebut didongkrak pembiayaan pada sektor pariwisata (perhotelan), fesyen, kuliner, serta transportasi pariwisata. Untuk hotel misalnnya, kami membiaya pembangunan properti mereka,” kata Afrizal Naim.
Menurut dia, sektor yang menerima pembiayaan tersebut, diantaranya pembangunan hotel, faktori outlet, rumah makan, dan lainnya. Sejumlah pembangunan hotel di Bandung tercatat mendapat pembiayaan dari bank ini.
Dia menjelaskan, dari total penyaluran itu, sekitar sekitar 70 persen di salurkan kepada sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dengan pinjaman sampai Rp25 miliar. Sisanya, diserap sektor mikro sekitar 20 persen, dan konsumer 10 persen.
Potensi membaiknya penyaluran KPR untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), setelah terbitnya Peraturan Menteri Perumahan Rakyat (Permenpera) Nomor 13 dan 14 tahun 2012.
Di mana, Permenpera No.13/Tahun 2012 mengatur Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Dukungan FLPP.
Sedangkan Permenpera Nomor 14 Tahun 2012 mengatur Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera Dengan Dukungan FLPP.
“Tahun depan, kami memprediksi penyaluran KPR FLPP untuk MBR akan lebih baik. Karena, pemerintah telah menetapkan ketentuan pemberian FLPP bagi MBR serta harga jual perumahan di bawah tipe 36 sebesar Rp88 juta,” jelas Manager Mikro Bank Bukopin Wilayah Jawa Barat Ahmad Rustandi, jumat (23/11/2012).
Tahun depan, pihaknya menargetkan mampu menyalurkan KPR melalui FLPP sebesar Rp7 miliar. Jumlah tersebut akan membiayai ribuan perumahan di Jawa Barat.
Untuk tipe 36 dibandrol Rp88 juta. Bank Bukopin menggunakan suku bungan FLPP yang dibandrol pemerintah sebesar 7,25 persen. Jangka waktu kredit dinaikan dari 15 tahun menjadi 20 tahun.
Lebih lanjut Ahmad Rustandi mengatakan, potensi membaiknya penjualan perumahan di tahun 2013 memberi angin segar bagi Bank Bukopin. Lantaran, pada awal tahun 2012, penyaluran kredit FLPP nyaris terhenti.
Terhentinya penyaluran KPR untuk MBR disebabkan belum adanya kepastian payung hukum terkait haarga perumahan FLPP ketika itu. “Kredit KPR dengan fasilitas FLPP di tahun 2012 nyaris terhenti. Baru pada akhir tahun 2012, bisa normal kembali,” pungkas dia.
Diakui dia, Bank Bukopin akan terus memberikan kredit perumahan melalui FLPP, sebagaimana di amanatkan pemerintah. Selain Bank Bukopin, masih ada perbankan lainnya yang menyalurkan FLPP.
Sementara itu, menurunnya penyaluran kredit perumahan untuk MBR justru berbanding terbalik dengan peningkatan penyaluran kredit Bank Bukopin ke sektor lainnya. Selama periode Januari-Oktober 2012, Bank Bukopin mencatat pertumbuhan kredit lebih dari 100 persen. Pertumbuhan tersebut di topang tumbuhnya sektor pariwisata, fesyen, dan kuliner di kawasan Bandung Raya.
Kepala Cabang Bank Bukopin wilayah Bandung Afrizal Naim menjelaskan, tahun ini, bank-nya mencatat pertumbuhan kredit lebih dari 100 persen. Selama periode Januari-Oktober Bank Bukopin Bandung mencatat penyaluran kredit senilai Rp700 miliar. Tumbuh sekitar Rp400 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp300 miliar.
"Pertumbuhan tersebut didongkrak pembiayaan pada sektor pariwisata (perhotelan), fesyen, kuliner, serta transportasi pariwisata. Untuk hotel misalnnya, kami membiaya pembangunan properti mereka,” kata Afrizal Naim.
Menurut dia, sektor yang menerima pembiayaan tersebut, diantaranya pembangunan hotel, faktori outlet, rumah makan, dan lainnya. Sejumlah pembangunan hotel di Bandung tercatat mendapat pembiayaan dari bank ini.
Dia menjelaskan, dari total penyaluran itu, sekitar sekitar 70 persen di salurkan kepada sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dengan pinjaman sampai Rp25 miliar. Sisanya, diserap sektor mikro sekitar 20 persen, dan konsumer 10 persen.
(gpr)
Lihat Juga :