Akibat sistem kitir, premium di Jabar sisa 3 hari
Senin, 26 November 2012 - 15:54 WIB
Akibat sistem kitir, premium di Jabar sisa 3 hari
A
A
A
Sindonews.com - Pasokan BBM bersubsidi atau premium ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jawa Barat mulai menipis, setelah Pertamina memberlakukan sistem kitir (pengendalian pasokan premium ke SPBU).
Pengawasa SPBU 34-40128 Jalan Surapati, Kota Bandung Dedi Setiadi mengakui, sejak Pertamina melakukan sistem kitir, stok premium ke SPBU-nya selalu menipis. Hal itu dikarenakan, pasokan premium di tentukan oleh Pertamina. Ketidaksesuaian antara suplai dan permintaan, menyebabkan pasokan premium di SPBU selalu menipis.
“Satu minggu kemarin, stok premium di SPBU kami sempat menipis. Bahkan, sempat kosong,” kata Dedi Setiadi di Bandung, Senin (26/11/2012).
Menurut dia, komsumsi premium di SPBU-nya mencapai 20 kiloliter per hari. Satu minggu kemarin, SPBU-nya hanya mendapat pasokan sekitar 16 kilo liter per hari. Akibatnya, stok premium selalu menipis.
Pengurangan pasokan premium ke SPBU, menyebabkan konsumsi premium di SPBU Surapti meningkat. Hal itu dikarenakan, masyarakat dari daerah lainnya seperti Cimahi, mengisi premium di tempanya.
“Tadi pagi sempat terjadi antrean panjang. Informasi yang kami peroleh, premium di Cihami telah habis. Makanya, masyarakat membeli di SPBU kami,” jelas dia.
Hal serupa juga diakui pengelola SPBU di Jalan RE Martadinata, Adang. Menurut dia, pasokan premium di SPBU-nya dikurangi sejak sepekan lalu. Biasanya, Pertamina memasok premium sekitar 42 kilo liter per hari. Sejak diberlakukannya sistem kitir, pihaknya hanya menerima pasokan sekitar kurang dari 24 kilo liter per hari.
“Selama sepekan, memang tidak sampai terjadi kekosongan. Tapi pada tanggal 24 November kamarin, stok kami menipis. Untungnya, pagi tadi (kemarin) Pertamina mencabut aturan kitir, sehingga kami mendapat suplai premium lagi,” beber Adang.
Namun demikian, lanjut dia, pasokan tersebut belum sepenuhnya normal. SPBU-nya hanya mendapat pasokan 24 kilo liter.
Diketahui, sistem kitir telah dilakukan Pertamina sejak tanggal 19 November 2012 pekan kemarin. Diberlakukannya pembatasan tersebut didasarkan pada surat Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas). Pertamina melakukan pengendalian pasokan BBM bersubsidi (kitir) dengan pemotongan jatah harian di seluruh SPBU.
Suplai premium dilakukan bervariasi tingkat antara 1 persen hingga 35 persen sesuai dengan kuota yang tersisa di daerah bersangkutan. Menurut Humas PT Pertamina Region III Susi Prasetya, diberlakukannya sistem kitir bertujuan agar kuota premium yang telah ditetapkan DPR dan pemerintah di tahun 2012 tidak terlampaui.
“Terhitung sejak tanggal 25 November 2012 kemarin, kami telah menghentikan sistem kitir yang telah berjalan satu minggu kemarin. Selanjutnya, kami akan menunggu arahan dari pemerintah,” jelas Susi Prasetya.
Ketika disinggung terjadinya kelangkaan di beberapa SPBU di Jabar, Susi memastikan, pasokan premium akan kembali normal dua sampai tiga hari kedepan. Pertamina, akan mensuplai premium ke setiap SPBU dengan mengerahkan armada pengiriman. Proses tersebut akan dilakukan sampai stok premium di setiap SPBU tercukupi.
“Kami juga akan berkoordinasi dengan aparat terkait, untuk memastikan agar pasokan premium ke SPBU berjalan lancar dan tepat sasaran,” imbuh Susi.
Pengawasa SPBU 34-40128 Jalan Surapati, Kota Bandung Dedi Setiadi mengakui, sejak Pertamina melakukan sistem kitir, stok premium ke SPBU-nya selalu menipis. Hal itu dikarenakan, pasokan premium di tentukan oleh Pertamina. Ketidaksesuaian antara suplai dan permintaan, menyebabkan pasokan premium di SPBU selalu menipis.
“Satu minggu kemarin, stok premium di SPBU kami sempat menipis. Bahkan, sempat kosong,” kata Dedi Setiadi di Bandung, Senin (26/11/2012).
Menurut dia, komsumsi premium di SPBU-nya mencapai 20 kiloliter per hari. Satu minggu kemarin, SPBU-nya hanya mendapat pasokan sekitar 16 kilo liter per hari. Akibatnya, stok premium selalu menipis.
Pengurangan pasokan premium ke SPBU, menyebabkan konsumsi premium di SPBU Surapti meningkat. Hal itu dikarenakan, masyarakat dari daerah lainnya seperti Cimahi, mengisi premium di tempanya.
“Tadi pagi sempat terjadi antrean panjang. Informasi yang kami peroleh, premium di Cihami telah habis. Makanya, masyarakat membeli di SPBU kami,” jelas dia.
Hal serupa juga diakui pengelola SPBU di Jalan RE Martadinata, Adang. Menurut dia, pasokan premium di SPBU-nya dikurangi sejak sepekan lalu. Biasanya, Pertamina memasok premium sekitar 42 kilo liter per hari. Sejak diberlakukannya sistem kitir, pihaknya hanya menerima pasokan sekitar kurang dari 24 kilo liter per hari.
“Selama sepekan, memang tidak sampai terjadi kekosongan. Tapi pada tanggal 24 November kamarin, stok kami menipis. Untungnya, pagi tadi (kemarin) Pertamina mencabut aturan kitir, sehingga kami mendapat suplai premium lagi,” beber Adang.
Namun demikian, lanjut dia, pasokan tersebut belum sepenuhnya normal. SPBU-nya hanya mendapat pasokan 24 kilo liter.
Diketahui, sistem kitir telah dilakukan Pertamina sejak tanggal 19 November 2012 pekan kemarin. Diberlakukannya pembatasan tersebut didasarkan pada surat Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas). Pertamina melakukan pengendalian pasokan BBM bersubsidi (kitir) dengan pemotongan jatah harian di seluruh SPBU.
Suplai premium dilakukan bervariasi tingkat antara 1 persen hingga 35 persen sesuai dengan kuota yang tersisa di daerah bersangkutan. Menurut Humas PT Pertamina Region III Susi Prasetya, diberlakukannya sistem kitir bertujuan agar kuota premium yang telah ditetapkan DPR dan pemerintah di tahun 2012 tidak terlampaui.
“Terhitung sejak tanggal 25 November 2012 kemarin, kami telah menghentikan sistem kitir yang telah berjalan satu minggu kemarin. Selanjutnya, kami akan menunggu arahan dari pemerintah,” jelas Susi Prasetya.
Ketika disinggung terjadinya kelangkaan di beberapa SPBU di Jabar, Susi memastikan, pasokan premium akan kembali normal dua sampai tiga hari kedepan. Pertamina, akan mensuplai premium ke setiap SPBU dengan mengerahkan armada pengiriman. Proses tersebut akan dilakukan sampai stok premium di setiap SPBU tercukupi.
“Kami juga akan berkoordinasi dengan aparat terkait, untuk memastikan agar pasokan premium ke SPBU berjalan lancar dan tepat sasaran,” imbuh Susi.
(gpr)
Lihat Juga :