Ekspor produk kreatif potensial
Selasa, 27 November 2012 - 09:31 WIB
Ekspor produk kreatif potensial
A
A
A
Sindonews.com - Pasar ekspor produk kreatif dari tahun ke tahun semakin berkembang. Bukan saja Eropa, pasar di negara-negara berkembang juga semakin meningkat dengan permintaan yang meninggi.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, sebagai perbandingan, nilai ekspor produk kreatif dari negara-negara berkembang mengalami peningkatan sebesar 37 persen pada 2002 menjadi 43 persen pada 2008, dengan total nilai ekspor dunia untuk produk kreatif sebesar USD267 juta pada 2002 menjadi USD592 juta pada 2008.
Dari total ekspor produk kreatif tersebut, sektor barang menyumbang sebesar USD204,95 juta pada 2002 dan USD406,99 juta pada 2008, dan sisanya merupakan sektor jasa di bidang kreatif.
Demi lebih meningkatkan target pengembangan ekonomi kreatif, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memiliki target, di antaranya bagaimana mengembangkan sumber daya manusia kreatif, pengembangan kualitas dan nilai tambah produk kreatif, peningkatan akses pasar dalam negeri maupun luar negeri dan menciptakan identitas lokal maupun nasional.
“Demi mencapai target itu, Kemendag memberikan fasilitas untuk mendorong lahirnya insan kreatif dan entrepreneur kreatif baru,” kata Bayu di Jakarta kemarin.
Kemendag juga membangun mekanisme kemitraan antara pelaku bisnis dan memberikan apresiasi terhadap insan kreatif secara berkesinambungan. Selain itu, Kemendag mengapresiasi pengembangan desain produk sebagai upaya memenuhi selera pasar, melakukan diseminasi informasi pasar, desain dan teknologi, meningkatkan jangkauan dan efektivitas promosi di dalam dan luar negeri dan mendorong terciptanya jejaring bisnis sebagai jalur distribusi.
Berdasarkan hasil studi Kemendag, periode 2002– 2010 produk fashion menjadi penyumbang terbesar ekspor industri kreatif. Total kontribusi mencapai 61,13 persen dari keseluruhan ekspor produk kreatif terhadap nilai ekspor nasional 5,96 persen, dengan rata-rata nilai ekspor sebesar Rp53,94 triliun.
Pada 2010, produk fashion mencatat nilai ekspor sebesar Rp72 triliun. Begitu pula bila dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha, dalam periode yang sama (2002–2010) fashion juga mendominasi sektor industri kreatif.
Saat ini, perkembangan industri fashion bisa mencapai kurang lebih 54,32 persen, dengan angka penyerapan tenaga kerja sebanyak 4,13 juta orang atau setara dengan 4,22 persen dari angka penyerapan tenaga kerja tingkat nasional.
Kondisi inilah yang menjadikan produkproduk fashion di Indonesia menjadi salah satu penyumbang paling besar dalam kegiatan ekspor, berkisar 61,13 persen dari total ekspor keseluruhan produk kreatif. Negara tujuan ekspor produk fashion antara lain, Amerika Serikat (AS), Singapura, Jerman, Hong Kong,dan Australia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Gusmardi Bustami mengatakan, permintaan akan produk fashion dari pasar luar negeri kembali bergairah, meski pemulihan krisis ekonomi di AS dan Eropa berjalan lambat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Juli 2012 ekspor produk fashion mencapai USD- 8,18 miliar, meningkat 0,62 persen dibanding tahun lalu. “Peluang pasar begitu besar di industri fashion, ekspor masih dapat naik signifikan,” ujarnya belum lama ini.
Besarnya potensi industri kreatif sebelumnya juga dikatakan oleh Wakil Presiden Boediono saat membuka Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 baru-baru ini. Dia mengatakan, ekonomi kreatif mampu membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk itu, pemerintah berkomitmen mengentaskan berbagai masalah yang menghambat pengembangan industri kreatif di Indonesia.
Masalah dimaksud antara lain terkait perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI), infrastruktur teknologi informasi, akses dan bantuan permodalan, pengembangan sumber daya manusia (SDM) kreatif, serta kurangnya apresiasi terhadap karya insan kreatif.
“Kita akan terus kembangkan ekonomi kreatif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut secara sistematis dan terkoordinasi,” tegas Boediono.
Boediono mengungkapkan, prospek ekonomi kreatif pun menjanjikan dengan dukungan penduduk usia muda Indonesia yang mencapai 43 persen dari populasi. Dia yakin, 20 tahun ke depan produk hasil SDM kreatif Indonesia akan sangat berperan dalam menjadikan perekonomian Indonesia sebagai salah satu yang diperhitungkan di dunia.
“Maka itu, potensi kreatif ini harus ada di dalam setiap pengembangan ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah bertugas memfasilitasi,” pungkasnya.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan, sebagai perbandingan, nilai ekspor produk kreatif dari negara-negara berkembang mengalami peningkatan sebesar 37 persen pada 2002 menjadi 43 persen pada 2008, dengan total nilai ekspor dunia untuk produk kreatif sebesar USD267 juta pada 2002 menjadi USD592 juta pada 2008.
Dari total ekspor produk kreatif tersebut, sektor barang menyumbang sebesar USD204,95 juta pada 2002 dan USD406,99 juta pada 2008, dan sisanya merupakan sektor jasa di bidang kreatif.
Demi lebih meningkatkan target pengembangan ekonomi kreatif, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memiliki target, di antaranya bagaimana mengembangkan sumber daya manusia kreatif, pengembangan kualitas dan nilai tambah produk kreatif, peningkatan akses pasar dalam negeri maupun luar negeri dan menciptakan identitas lokal maupun nasional.
“Demi mencapai target itu, Kemendag memberikan fasilitas untuk mendorong lahirnya insan kreatif dan entrepreneur kreatif baru,” kata Bayu di Jakarta kemarin.
Kemendag juga membangun mekanisme kemitraan antara pelaku bisnis dan memberikan apresiasi terhadap insan kreatif secara berkesinambungan. Selain itu, Kemendag mengapresiasi pengembangan desain produk sebagai upaya memenuhi selera pasar, melakukan diseminasi informasi pasar, desain dan teknologi, meningkatkan jangkauan dan efektivitas promosi di dalam dan luar negeri dan mendorong terciptanya jejaring bisnis sebagai jalur distribusi.
Berdasarkan hasil studi Kemendag, periode 2002– 2010 produk fashion menjadi penyumbang terbesar ekspor industri kreatif. Total kontribusi mencapai 61,13 persen dari keseluruhan ekspor produk kreatif terhadap nilai ekspor nasional 5,96 persen, dengan rata-rata nilai ekspor sebesar Rp53,94 triliun.
Pada 2010, produk fashion mencatat nilai ekspor sebesar Rp72 triliun. Begitu pula bila dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha, dalam periode yang sama (2002–2010) fashion juga mendominasi sektor industri kreatif.
Saat ini, perkembangan industri fashion bisa mencapai kurang lebih 54,32 persen, dengan angka penyerapan tenaga kerja sebanyak 4,13 juta orang atau setara dengan 4,22 persen dari angka penyerapan tenaga kerja tingkat nasional.
Kondisi inilah yang menjadikan produkproduk fashion di Indonesia menjadi salah satu penyumbang paling besar dalam kegiatan ekspor, berkisar 61,13 persen dari total ekspor keseluruhan produk kreatif. Negara tujuan ekspor produk fashion antara lain, Amerika Serikat (AS), Singapura, Jerman, Hong Kong,dan Australia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Gusmardi Bustami mengatakan, permintaan akan produk fashion dari pasar luar negeri kembali bergairah, meski pemulihan krisis ekonomi di AS dan Eropa berjalan lambat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Juli 2012 ekspor produk fashion mencapai USD- 8,18 miliar, meningkat 0,62 persen dibanding tahun lalu. “Peluang pasar begitu besar di industri fashion, ekspor masih dapat naik signifikan,” ujarnya belum lama ini.
Besarnya potensi industri kreatif sebelumnya juga dikatakan oleh Wakil Presiden Boediono saat membuka Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 baru-baru ini. Dia mengatakan, ekonomi kreatif mampu membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk itu, pemerintah berkomitmen mengentaskan berbagai masalah yang menghambat pengembangan industri kreatif di Indonesia.
Masalah dimaksud antara lain terkait perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI), infrastruktur teknologi informasi, akses dan bantuan permodalan, pengembangan sumber daya manusia (SDM) kreatif, serta kurangnya apresiasi terhadap karya insan kreatif.
“Kita akan terus kembangkan ekonomi kreatif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut secara sistematis dan terkoordinasi,” tegas Boediono.
Boediono mengungkapkan, prospek ekonomi kreatif pun menjanjikan dengan dukungan penduduk usia muda Indonesia yang mencapai 43 persen dari populasi. Dia yakin, 20 tahun ke depan produk hasil SDM kreatif Indonesia akan sangat berperan dalam menjadikan perekonomian Indonesia sebagai salah satu yang diperhitungkan di dunia.
“Maka itu, potensi kreatif ini harus ada di dalam setiap pengembangan ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah bertugas memfasilitasi,” pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :