Mahfud ketok palu, BPH Migas tinggal kenangan
Senin, 03 Desember 2012 - 17:29 WIB
Mahfud ketok palu, BPH Migas tinggal kenangan
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Komisi VII DPR Sutan Bhatoegana memperingatkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk menjalankan fungsinya dengan baik bila tidak ingin dibubarkan seperti halnya BP Migas.
"Saya khawatir nanti Bapak (Andi Sommeng) juga kayak BP Migas Pak gara-gara nggak ada fungsinya, nanti kalau Pak Mahfud ketok bubar lagi. Tinggal kenangan nanti Bapak," tutur Sutan Bhatoegana dalam Raker di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/12/2012).
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR Achmad Farial mempertanyakan kinerja BPH Migas yang dinilai tidak mampu menjalankan fungsinya menjaga pasokan BBM subsidi di tanah air.
"Apakah masih dibutuhkan keberadaan BPH Migas? Ini kan menimbulkan kegaduhan," ujar Achmad Farial.
Selain itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga meminta keberadaan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sebagai badan yang berwenang mengatur dan mengawasi distribusi bahan bakar minyak (BBM) untuk dievaluasi.
"Perlu evaluasi tentang keberadaan BPH migas," ujar pengamat ekonomi Indef Hendri Sabarini beberapa waktu lalu.
"Saya khawatir nanti Bapak (Andi Sommeng) juga kayak BP Migas Pak gara-gara nggak ada fungsinya, nanti kalau Pak Mahfud ketok bubar lagi. Tinggal kenangan nanti Bapak," tutur Sutan Bhatoegana dalam Raker di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/12/2012).
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR Achmad Farial mempertanyakan kinerja BPH Migas yang dinilai tidak mampu menjalankan fungsinya menjaga pasokan BBM subsidi di tanah air.
"Apakah masih dibutuhkan keberadaan BPH Migas? Ini kan menimbulkan kegaduhan," ujar Achmad Farial.
Selain itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga meminta keberadaan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sebagai badan yang berwenang mengatur dan mengawasi distribusi bahan bakar minyak (BBM) untuk dievaluasi.
"Perlu evaluasi tentang keberadaan BPH migas," ujar pengamat ekonomi Indef Hendri Sabarini beberapa waktu lalu.
(gpr)
Lihat Juga :