Sampai kapan kekuatan konsumsi domestik bertahan?
Rabu, 12 Desember 2012 - 11:52 WIB
Sampai kapan kekuatan konsumsi domestik bertahan?
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah memperkirakan kekuatan konsumsi domestik akan dapat bertahan hingga tahun 2030. Unsur ini merupakan mesin pertumbuhan ekonomi pertama yang dapat menopang ketika krisis melanda.
"Ini (kekuatan konsumsi domestik) diperkirakan bertahan sampai dengan tahun 2025 bahkan 2030," ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo pada acara seminar Ikatan Bankir Indonesia “Economic Outlook 2013" di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (12/12/2012).
Kuatnya konsumsi domestik, menurut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, bukan tanpa alasan. Agus menyatakan, ini adalah bonus dari populasi masyarakat Indonesia yang terhitung besar, meski masih dibawah China dan India. Selain itu, juga ditopang adanya peningkatan kelas menengah yang mendorong kemampuan daya beli.
"Saat ini, Indonesia menikmati bonus demographic deviden yang dapat mendorong konsumsi domestik," jelasnya.
Kendati demikian, Agus mengingatkan, meski sebuah bonus, namun tidak boleh ada yang berpuas diri dan lengah. Menurut dia, harus ada perbaikan di beberapa sektor, seperti pendidikan. "Indonesia di konstitusi anggaran pendidikan pemerintah 20 persen dari APBN, sekitar Rp330 triliun," ucapnya.
Kemudian, lanjut Agus, hal lain yang harus diperhatikan terkait lapangan pekerjaan, peningkatan teknologi serta pembangunan infrastruktur. "(Ini) Agar kita jaga baik. Agar demographic dividen bisa jadi manfaat, jangan jadi jebakan," pungkasnya.
"Ini (kekuatan konsumsi domestik) diperkirakan bertahan sampai dengan tahun 2025 bahkan 2030," ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo pada acara seminar Ikatan Bankir Indonesia “Economic Outlook 2013" di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (12/12/2012).
Kuatnya konsumsi domestik, menurut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, bukan tanpa alasan. Agus menyatakan, ini adalah bonus dari populasi masyarakat Indonesia yang terhitung besar, meski masih dibawah China dan India. Selain itu, juga ditopang adanya peningkatan kelas menengah yang mendorong kemampuan daya beli.
"Saat ini, Indonesia menikmati bonus demographic deviden yang dapat mendorong konsumsi domestik," jelasnya.
Kendati demikian, Agus mengingatkan, meski sebuah bonus, namun tidak boleh ada yang berpuas diri dan lengah. Menurut dia, harus ada perbaikan di beberapa sektor, seperti pendidikan. "Indonesia di konstitusi anggaran pendidikan pemerintah 20 persen dari APBN, sekitar Rp330 triliun," ucapnya.
Kemudian, lanjut Agus, hal lain yang harus diperhatikan terkait lapangan pekerjaan, peningkatan teknologi serta pembangunan infrastruktur. "(Ini) Agar kita jaga baik. Agar demographic dividen bisa jadi manfaat, jangan jadi jebakan," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :