Investor KBN keluhkan banjir ganggu aktivitas bisnis
Senin, 21 Januari 2013 - 09:28 WIB
Investor KBN keluhkan banjir ganggu aktivitas bisnis
A
A
A
Sindonews.com - Lumpunhnya aktivitas produksi di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung akibat musibah banjir, disesalkan kalangan investor.
"Ini disayangkan oleh pihak investor karena kejadian ini sudah pernah terjadi pada tanggal 4 Januari 2007. Harusnya pihak KBN, kurang lebih lima tahun sudah seharusnya berbenah diri untuk mengantisipasi kejadiaan ini," ujar Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, Senin (21/1/2013).
Sarman melaporkan, musibah banjir yang terjadi sejak tanggal 17-18 Januari 2013 membuat kawasan tersebut tergenang air dengan ketinggian rata-rata mencapai satu meter. Bahkan, tol Cakung ikut terendam.
Banjir yang terjadi, dia menjelaskan, terutama menghalangi akses di pintu masuk KBN. "Banyak mobil, motor yang (mesinnya) mati karena pintu masuk KBN disamping jalan bergelombang, dimana kedalaman air cukup dalam. Ini mengakibatkan antrian (kendaraan) cukup panjang," ungkap Sarman.
Akibat banjir, banyak perusahaan di kawasan industri tersebut tidak berproduksi dan memutuskan memulangkan karyawannya lebih awal atau karyawan banyak yang tidak masuk akibat akses masuk ke pabrik tidak mungkin dilewati.
Bukan hanya akses masuk saja yang terganggu, bahkan akses keluar dari KBN juga terganggu. Kondisi ini ditambah pihak keamanan yang tidak mengatur arus lalu lintas di kawasan tersebut.
"Bisa dibayangkan saja dari pintu keluar KBN menuju tol KBN arah ke JORR memakan waktu tiga jam dengan jarak tempuh 500 meter," tutur Sarman.
Dengan kejadian ini, menurut dia, wajar jika kalangan investor mengeluh lantaran kerugian yang harus diderita. Selain kerugian akibat terhentinya aktivitas produksi yang ditaksir mencapai Rp190 juta per perusahaan, investor juga masih dibebani berbagai pengeluaran.
Pengeluaran tersebut, diantaranya denda dari pembeli akibat keterlambatan pengiriman barang ekspor di bandara maupun pelabuhan lantaran tidak bisa berproduksi akibat banjir.
"Diharapkan permasalahan banjir ini dapat segera diatasi karena akan mengganggu kepercayaan investor apalagi hampir 90 persen perusahaan yang ada di Kawasan Berikat Nusantara merupakan PMA," ujar Sarman.
"Ini disayangkan oleh pihak investor karena kejadian ini sudah pernah terjadi pada tanggal 4 Januari 2007. Harusnya pihak KBN, kurang lebih lima tahun sudah seharusnya berbenah diri untuk mengantisipasi kejadiaan ini," ujar Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, Senin (21/1/2013).
Sarman melaporkan, musibah banjir yang terjadi sejak tanggal 17-18 Januari 2013 membuat kawasan tersebut tergenang air dengan ketinggian rata-rata mencapai satu meter. Bahkan, tol Cakung ikut terendam.
Banjir yang terjadi, dia menjelaskan, terutama menghalangi akses di pintu masuk KBN. "Banyak mobil, motor yang (mesinnya) mati karena pintu masuk KBN disamping jalan bergelombang, dimana kedalaman air cukup dalam. Ini mengakibatkan antrian (kendaraan) cukup panjang," ungkap Sarman.
Akibat banjir, banyak perusahaan di kawasan industri tersebut tidak berproduksi dan memutuskan memulangkan karyawannya lebih awal atau karyawan banyak yang tidak masuk akibat akses masuk ke pabrik tidak mungkin dilewati.
Bukan hanya akses masuk saja yang terganggu, bahkan akses keluar dari KBN juga terganggu. Kondisi ini ditambah pihak keamanan yang tidak mengatur arus lalu lintas di kawasan tersebut.
"Bisa dibayangkan saja dari pintu keluar KBN menuju tol KBN arah ke JORR memakan waktu tiga jam dengan jarak tempuh 500 meter," tutur Sarman.
Dengan kejadian ini, menurut dia, wajar jika kalangan investor mengeluh lantaran kerugian yang harus diderita. Selain kerugian akibat terhentinya aktivitas produksi yang ditaksir mencapai Rp190 juta per perusahaan, investor juga masih dibebani berbagai pengeluaran.
Pengeluaran tersebut, diantaranya denda dari pembeli akibat keterlambatan pengiriman barang ekspor di bandara maupun pelabuhan lantaran tidak bisa berproduksi akibat banjir.
"Diharapkan permasalahan banjir ini dapat segera diatasi karena akan mengganggu kepercayaan investor apalagi hampir 90 persen perusahaan yang ada di Kawasan Berikat Nusantara merupakan PMA," ujar Sarman.
(rna)
Lihat Juga :