BPPT : 2028, Indonesia harusnya miliki PLTN

Kamis, 07 Februari 2013 - 16:14 WIB
BPPT : 2028, Indonesia...
BPPT : 2028, Indonesia harusnya miliki PLTN
A A A
Sindonews.com - Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Oktaufik berpendapat, seharusnya Indonesia sudah memiliki pembangkit listik tenaga nuklir (PLTN) pada 2028 mendatang. Hal itu karena kebutuhan energi nasional akan semakin besar dari tahun ke tahun.

“Sementara pengembangan energi baru terbarukan untuk pembangkit listrik berjalan lambat dan berpotensi menimbulkan krisis energi,” kata dia di Jakarta, Kamis (7/2/2013).

Menurut Oktaufik, beroperasinya PLTN pada 2028 merupakan hal yang realistis. Di sisi lain, juga memperhitungkan kondisi politik nasional dan masa konstruksi. “Mulai dibangun diperkirakan setelah pemilu, ditambah persiapan pembangunan dan konstruksi selama 10 tahun,” kata dia.

Dikatakan dia, PLTN merupakan pembangkit paling cepat dan handal untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik berdaya besar dibandingkan pembangkit energi baru terbarukan lainnya, seperti tenaga surya, panas bumi atau angin.

“Setidaknya pembangkit pertama sudah dimulai dengan pertimbangan teknis berkapasitas 2 gigawatt (GW) dan ditambah pada tahun-tahun sekitar 1 GW per tahun,” tuturnya.

Namun, pihaknya belum berani memastikan biaya investasi untuk membangun PLTN karena perkembangan teknologi yang terus berubah. Pihaknya memperkirakan teknologi yang akan dipakai menggunakan generasi keempat termasuk jenis reaktor bertemperatur tinggi yang sudah mulai digunakan di beberapa negara.

Sedangkan untuk lokasi potensial pembangunan PLTN berada di Bangka atau Kalimantan, di luar ring of fire (pegunungan berapi). Dengan tim penentu yakni, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Dia juga menjelaskan, berdasarkan rencana Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) hingga 2030 diperlukan tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 133 GW-199 GW. Adapun untuk pembangkit batu bara mendominasi dengan porsi 65-75 persen, sementara pembangkit bersumber energi baru terbarukan sekitar 20 persen.

“Dengan kebutuhan itu, total investasi yang diperlukan mencapai USD189-USD274 miliar,” jelasnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ukraina Serukan Warga...
Ukraina Serukan Warga Dekat PLTN PLTN Zaporizhzhia Mengungsi
Segudang Asa Pengembangan...
Segudang Asa Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia
Uni Emirat Arab Kini...
Uni Emirat Arab Kini Memiliki PLTN Pertama di Timur Tengah
Pembangunan PLTN Masih...
Pembangunan PLTN Masih Tunggu Arahan Jokowi
Perkembangan PLTN Stagnan...
Perkembangan PLTN Stagnan dalam 10 Tahun Terakhir
Ukraina Tuding Rusia...
Ukraina Tuding Rusia Tahan Direktur PLTN Zaporizhzhia
Berita Terkini
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
1 jam yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
2 jam yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
2 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
3 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
4 jam yang lalu
Infografis
5 Presiden Indonesia...
5 Presiden Indonesia yang Paling Sering Reshuffle Kabinet
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved