Industri tekstil hadapi tantangan berat

Kamis, 21 Februari 2013 - 17:37 WIB
Industri tekstil hadapi...
Industri tekstil hadapi tantangan berat
A A A
Sindonews.com - Industri tekstil nasional sedang menghadapi tantangan berat. Biaya produksi membengkak tinggi, menyusul kebijakan penerapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan kenaikan tarif dasar listrik (TDL).

Belum lagi, pasar dalam negeri juga banyak mendapatkan serangan impor produk dari China. Ketua Badan Pengurus Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudradjat mengatakan, selama ini industri tektil didominasi pabrikan yang berada di wilayah Jabodetabek.

Beberapa industri yang ada, saat ini terancam pindah, karena tidak bisa bersaing dengan pabrikan di Bandung, Jawa Tengah dan DIY. "UMK ini selisihnya hampir seratus persen, makanya banyak yang tidak mampu bersaing," kata Ade disela Musda BPD API DIY, di Hotel Sahid Yogyakarta, Kamis (21/2/13).

Saat ini, lanjut dia, beberapa industri ringan sudah mulai bergeser dan meninggalkan Jabodetabek. Mereka mencari daerah di luar Jabodetabek agar bisa menghemat biaya produksi. Saat ini, biaya tenaga kerja memberikan kontribusi hingga 15-25 persen dari total biaya produksi.

Sedangkan bahan baku masih mendominasi dengan sekitar 65 persen dan sisanya dari biaya listrik. Kenaikan TDL juga ikut memacu meningkatnya biaya produksi.

Relokasi ke Jawa, ujar dia, harus dilakukan oleh perusahaan. Jika tetap bertahan, margin keuntungan yang diperoleh sangat kecil. Produk sendiri akan lebih mahal dan membuat persaingan menjadi tidak sehat.

Beratnya persaingan ini, juga tidak lepas dari kebijakan impor produk tekstil dari China. Saat ini, produk asal China membanjiri pasaran, hingga di pelosok. Ironisnya, beberapa produk yang ada ini memiliki karakteristik sama dengan produk lokal. Karena harganya lebih murah, produk China akan lebih diminati pasar.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Diproduksi di Solo,...
Diproduksi di Solo, GSP Siap Pasok Kain American Drill ke Pasar Domestik dan Global
Memahami Pentingnya...
Memahami Pentingnya Kapas Berkualitas Dorong Kesuksesan Industri Tekstil
Kolaborasi dengan MC...
Kolaborasi dengan MC Texstyle, Vira Tandia: Memudahkan Pelanggan Mendapat Bahan Kain Berkualitas
Permendag 8/2024 Bakal...
Permendag 8/2024 Bakal Direvisi Disambut Baik Asosiasi Tekstil
Diacak-acak Barang Impor,...
Diacak-acak Barang Impor, Juragan Tekstil Sempat Nangis Darah
Mendorong Industri Tekstil...
Mendorong Industri Tekstil Tanah Air Mengedepankan Bisnis Berkelanjutan
Berita Terkini
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
6 menit yang lalu
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Risiko Investasi Reksa Dana sebelum Mulai Berinvestasi
19 menit yang lalu
KAI Logistik Kelola...
KAI Logistik Kelola 8,7 Juta Ton Angkutan Barang di Semester I 2026
57 menit yang lalu
Transaksi BI-FAST Capai...
Transaksi BI-FAST Capai 1,53 Miliar di Triwulan II 2026, Nilainya Tembus Rp3.777 Triliun
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Integrasikan Penanganan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
1 jam yang lalu
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
1 jam yang lalu
Infografis
Jerman Persiapkan Anak-anak...
Jerman Persiapkan Anak-anak Hadapi Krisis Perang Dunia III
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved