Rupiah diprediksi akan kembali melemah
Rabu, 13 Maret 2013 - 08:37 WIB
Rupiah diprediksi akan kembali melemah
A
A
A
Sindonews.com - Pada perdagangan hari ini tampak rupiah masih akan bergerak dengan kecenderungan melemah karena sejumlah sentimen dari dalam maupun luar negeri.
"Untuk hari ini, rupiah akan tetep melemah dan diprediksi akan berada di range Rp9.710-9.720/USD," terang pengamat valuta asing (valas), Rahadyo Agoro Widagdo, Rabu (13/3/2013).
Bank Indonesia (BI), lanjut Rahadyo, tetap akan melakukan intervensi. Tetapi mengingat cadangan devisa yang terus turun akibat tingginya impor migas, dimana defisit migas di tahun 2012 mencapai USD5,6 miliar, membuat BI membatasi intervensinya di pasar uang.
"Hingga saat ini cadangan devisa Indonesia merosot hingga USD7,58 miliar dalam dua bulan terakhir ini. Meskipun kondisi ini masih dalam standar internasional, namun pemerintah perlu mengantisipasi kondisi tersebut," tegas Rahadyo.
Sebelumnya, pada hari senin (11/3/2013), rupiah ditutup melemah di level Rp9700/9705 per USD setelah sebelumnya ditutup di level Rp9685/9690per USD. Pelemahan ini, lanjut Rahadyo, dipengaruhi beberapa faktor, antara lain langkah Fitch Ratings yang menurunkan peringkat utang Italia.
"Fitch memangkas peringkat utang Italia setelah penutupan pasar pada Jumat, 8 Maret 2013 lalu," jelas dia.
Rahadyo memandang, kondisi itu menyebabkan tingkat yield obligasi Italia yang berjangka waktu 10 tahun naik sebanyak empat basis poin menjadi 4,64 persen.
Selain itu, dari China dilaporkan bahwa tingkat inflasi China menyentuh level tertinggi dalam 10 bulan terakhir pada Februari lalu. Data yang dirilis pemerintah China menyebut, indeks harga konsumen China naik 3,2 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara, kenaikan harga pangan mencapai 6 persen. Faktor yang mendorong tingginya angka inflasi kali ini adalah perayaan Tahun Baru Imlek.
"Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran jika harga konsumen naik terlalu tinggi, hal itu akan menyebabkan China memperketat kebijakan moneternya. Pada akhirnya, kondisi itu akan memukul pertumbuhan China," kata dia.
Sementara dari dalam negeri timbul pesimisme dari para pelaku pasar bahwa pertumbuhan ekonomi di 2013 tidak sesuai dengan prediksi pemerintah di level 6,6-6,8 persen.
Pelaku pasar memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2013 mengarah pada 6,3 persen. Dari sisi prediksi BI angka ini adalah batas bawah, sementara dari sisi pemerintah angka tersebut dibawah prediksi yang berada di level 6,6-6,8 persen.
"Kondisi ini tentu membuat para pelaku pasar lebih memilih USD sebagai safe haven currency dibandingkan instrumen investasi lainnya. Pelemahan rupiah juga sejalan dengan pelemahan IHSG, dimana IHSG berhenti menanjak di perdagangan bursa hari senin lalu (11/3)," kata dia.
Di akhir sesi dua, IHSG melemah 0,41 persen ke level 4.854,31. Sepanjang hari ini, transaksi di bursa hanya mencapai Rp 5,38 triliun. Sedangkan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 6,62 miliar saham.
"Sebanyak 130 saham memberatkan IHSG. Sementara 118 saham bertahan naik dan 108 saham diam di tempat," tutup Rahadyo.
"Untuk hari ini, rupiah akan tetep melemah dan diprediksi akan berada di range Rp9.710-9.720/USD," terang pengamat valuta asing (valas), Rahadyo Agoro Widagdo, Rabu (13/3/2013).
Bank Indonesia (BI), lanjut Rahadyo, tetap akan melakukan intervensi. Tetapi mengingat cadangan devisa yang terus turun akibat tingginya impor migas, dimana defisit migas di tahun 2012 mencapai USD5,6 miliar, membuat BI membatasi intervensinya di pasar uang.
"Hingga saat ini cadangan devisa Indonesia merosot hingga USD7,58 miliar dalam dua bulan terakhir ini. Meskipun kondisi ini masih dalam standar internasional, namun pemerintah perlu mengantisipasi kondisi tersebut," tegas Rahadyo.
Sebelumnya, pada hari senin (11/3/2013), rupiah ditutup melemah di level Rp9700/9705 per USD setelah sebelumnya ditutup di level Rp9685/9690per USD. Pelemahan ini, lanjut Rahadyo, dipengaruhi beberapa faktor, antara lain langkah Fitch Ratings yang menurunkan peringkat utang Italia.
"Fitch memangkas peringkat utang Italia setelah penutupan pasar pada Jumat, 8 Maret 2013 lalu," jelas dia.
Rahadyo memandang, kondisi itu menyebabkan tingkat yield obligasi Italia yang berjangka waktu 10 tahun naik sebanyak empat basis poin menjadi 4,64 persen.
Selain itu, dari China dilaporkan bahwa tingkat inflasi China menyentuh level tertinggi dalam 10 bulan terakhir pada Februari lalu. Data yang dirilis pemerintah China menyebut, indeks harga konsumen China naik 3,2 persen dari tahun sebelumnya.
Sementara, kenaikan harga pangan mencapai 6 persen. Faktor yang mendorong tingginya angka inflasi kali ini adalah perayaan Tahun Baru Imlek.
"Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran jika harga konsumen naik terlalu tinggi, hal itu akan menyebabkan China memperketat kebijakan moneternya. Pada akhirnya, kondisi itu akan memukul pertumbuhan China," kata dia.
Sementara dari dalam negeri timbul pesimisme dari para pelaku pasar bahwa pertumbuhan ekonomi di 2013 tidak sesuai dengan prediksi pemerintah di level 6,6-6,8 persen.
Pelaku pasar memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2013 mengarah pada 6,3 persen. Dari sisi prediksi BI angka ini adalah batas bawah, sementara dari sisi pemerintah angka tersebut dibawah prediksi yang berada di level 6,6-6,8 persen.
"Kondisi ini tentu membuat para pelaku pasar lebih memilih USD sebagai safe haven currency dibandingkan instrumen investasi lainnya. Pelemahan rupiah juga sejalan dengan pelemahan IHSG, dimana IHSG berhenti menanjak di perdagangan bursa hari senin lalu (11/3)," kata dia.
Di akhir sesi dua, IHSG melemah 0,41 persen ke level 4.854,31. Sepanjang hari ini, transaksi di bursa hanya mencapai Rp 5,38 triliun. Sedangkan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 6,62 miliar saham.
"Sebanyak 130 saham memberatkan IHSG. Sementara 118 saham bertahan naik dan 108 saham diam di tempat," tutup Rahadyo.
(rna)