Rupiah diprediksi di level Rp9.700-9.720/USD

Rabu, 20 Maret 2013 - 09:18 WIB
Rupiah diprediksi di...
Rupiah diprediksi di level Rp9.700-9.720/USD
A A A
Sindonews.com - Memasuki hari ketiga pekan ini tampak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (USD) agaknya masih belum mau menunjukkan keinginannya untuk beranjak.

Pengamat valuta asing (valas), Rahadyo Anggoro Widagdo memprdiksikan USD/IDR akan cenderung stagnan pada perdagang hari ini. "Untuk Rabu USD/IDR masih stagnan dan diprediksi di level 9.700-9.720. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah data housing starts dari AS dan juga hasil survei Zew dari Jerman," terang Rahadyo, Rabu (20/3/2013).

Sementara, lanjut dia, dari dalam negeri, para investor tampaknya masih menunggu kebijakan dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menyatakan telah menyiapkan tiga opsi kebijakan bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang rencananya akan diumumkan pada awal April mendatang.

"Pemerintah perlu mengkaji secara matang kebijakan yang akan diputuskan terkait BBM karena dari kebijakan ini dapat mempengaruhi semua sektor industri dan otomatis mempengaruhi tingkat inflasi dan pertumbuhan Indonesia selama 2013 nantinya," tukasnya.

Pada hari Selasa (19/3/2013) Rahadyo mengulas, rupiah ditutup stagnan di level 9714/9716 setelah sebelumnya pada hari Senin (19/03/2013) USD/IDR ditutup dilevel 9712/9715.

"Kondisi ini dipengaruhi sikap investor yang masih wait and see terhadap keputusan pemerintah Siprus," jelas dia.

Para menteri keuangan Eurozone tetap mendesak pemerintah Siprus untuk memenuhi permintaan dana sebesar 5,8 miliar euro dengan cara mengenakan pajak di sektor perbankannya.

Rumor di market saat ini mengindikasikan bahwa pemerintah Siprus sedang mempelajari opsi kenaikan tingkat pajak yang lebih tinggi untuk account di bank sebesar 100 ribu euro ke atas. Kalau memang opsi ini akan diambil, berarti tingkat pajak untuk account berjumlah kurang dari 100 ribu euro akan diturunkan.

"Secara umum, kesan adanya panik di market telah mereda setelah risk aversion mencuat pada sesi hari Senin kemarin, namun perlu diperhatikan dengan tetap adanya resiko contagion di Eurozone apalagi dengan tingkat kepercayaan publik yang telah terpengaruh," tandasnya.



(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Keamanan Jadi Faktor...
Keamanan Jadi Faktor Utama Nasabah Memilih Bank Digital
56 menit yang lalu
Ada Nilai Ekonomi Ratusan...
Ada Nilai Ekonomi Ratusan Triliun, Industri Tembakau Dipandang Diperlakukan Paling Tidak Adil
1 jam yang lalu
Kepala BPS Ungkap Progres...
Kepala BPS Ungkap Progres Sensus Ekonomi 2026 DKI Jakarta: Capai 45,17%
1 jam yang lalu
IHSG Cetak Rebound,...
IHSG Cetak Rebound, Kembali Lagi ke Level 6.000 usai Pengumuman S&P Global Ratings
2 jam yang lalu
S&P Rilis Peringkat...
S&P Rilis Peringkat Kredit Terbaru Indonesia: Outlook Stabil di BBB/A-2
2 jam yang lalu
Rupiah Ambruk Diterpa...
Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
2 jam yang lalu
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved