DEN : Perlu konsensus nasional sebelum pemilu

Rabu, 10 April 2013 - 10:19 WIB
DEN : Perlu konsensus...
DEN : Perlu konsensus nasional sebelum pemilu
A A A
Sindonews.com - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman Darnel menyatakan, pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM), gas dan listrik mungkin terasa getir bagi sebagian pihak, namun langkah tersebut akan menghasilkan hal positif.

Karena itu, menurut dia, diperlukan sebuah konsensus nasional untuk memutuskan langkah terbaik yang harus dilakukan terkait energi. Idealnya konsensus nasional pengelolaan energi harus dilakukan sebelum pemilu 2014.

“Konsensus nasional terdiri dari lima kesepakatan dalam menata keenergian nasional, yaitu sepakat bila energi adalah modal pembangunan," ujarnya di Depok, Rabu (10/4/2013).

Kemudian, sepakat bila subsidi komoditas BBM dan listrik dikurangi secara bertahap hingga menuju keekonomiannya kemudian diganti menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin. Selanjutnya, sepakat bila sumber gas alam dan batu bara dicadangkan untuk generasi masa depan.

Hal lainnya, sepakat mendorong pengembangan energi terbarukan dengan memberi prioritas dan dukungan anggaran. Selain itu, sepakat membangun kemandirian pengelolaan energi nasional dengan memprioritaskan pelaku nasional dalam rancang bangun dan proyek-proyek energi.

Untuk menghindari inflasi khususnya terhadap harga sembako dan bahan pokok lainnya, penghapusan subsidi dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Langkah yang harus ditempuh pemerintah adalah dengan memulai melalui subsidi tetap dan mengembangkan harga sesuai irama harga minyak mentah dunia.

Misalnya, harga minyak mentah yang sekarang USD90 per barel maka harga wajar premium ditetapkan Rp7.000 per liter. Artinya sudah ada subsidi sebesar Rp2.500 per liter.

Selanjutnya dalam waktu 24 hingga 36 bulan, pemerintah akan mengurangi subsidi antara Rp50-100 per liter setiap bulan dengan pertimbangan harga minyak dunia.

Demikian pula pada listrik, jika posisi sekarang terdapat subsidi rata-rata sebesar Rp 500 per kWh dengan perkiraan biaya produksi per kWh rata-rata Rp1400, dan harga jual rata-rata Rp900 maka subsidinya dikurangi sekitar Rp50 per kWh tiap periode atau tiap bulan atau bahkan setiap tiga bulan.

“Kelak dalam 10 hingga 30 bulan maka pemberian subsidi dapat berangsur mulai habis dan langkah menuju kemandirian dan ketahanan energi bangsa pun kian menjelma,” tutur Herman.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Asyik, Subsidi BBM dan...
Asyik, Subsidi BBM dan Listrik Diperpanjang Pemerintah Hingga 2021
Pemerintah Evaluasi...
Pemerintah Evaluasi Kebijakan Penerapan Subsidi Energi
Jokowi: Subsidi Energi...
Jokowi: Subsidi Energi Tembus Rp502,4 Triliun
Pemerintah Masih Mengkaji...
Pemerintah Masih Mengkaji Skema Penyaluran Subsidi Energi
Mendesak Reformasi Subsidi...
Mendesak Reformasi Subsidi Energi
Subsidi Energi Berbasis...
Subsidi Energi Berbasis Orang
Berita Terkini
Lokasi PFII Belum Final,...
Lokasi PFII Belum Final, Purbaya: Nanti yang Nentuin Menteri Keuangan
9 menit yang lalu
Permintaan Hunian Tetap...
Permintaan Hunian Tetap Tinggi, Alam Sutera Kembangkan Kawasan Residensial Baru
32 menit yang lalu
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
43 menit yang lalu
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
1 jam yang lalu
Transformasi IFG Tak...
Transformasi IFG Tak Hanya Streamlining, Tapi Perkuat Tata Kelola Investasi
1 jam yang lalu
Danantara Pangkas Ribuan...
Danantara Pangkas Ribuan BUMN Jadi 200-300 Entitas, Langkah Rasional Selamatkan Aset Negara
1 jam yang lalu
Infografis
10 Tokoh Dianugerahi...
10 Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved