Minim sentimen positif, IHSG rawan terkoreksi
Senin, 15 April 2013 - 08:07 WIB
Minim sentimen positif, IHSG rawan terkoreksi
A
A
A
Sindonews.com - Masih terimbas tekanan jual yang terjadi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan berpotensi melakukan pembalikan arah karena minimnya sentimen positif.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.900-4.935 dan resistance 4.955-4.965," kata kepala riset Trust Securities, Reza Priyambada, Senin (15/4/2013).
Berpola menyerupai shooting star di atas middle bollinger bands (MBB). MACD masih mendatar dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih mencoba upreversal.
"Penutupan IHSG kembali berhasil berada di rentang target resisten kami (4.930-4.945) dan bahkan sempat melampauinya. Tetapi, dengan adanya tekanan jual membuat tidak dapat bertahan di atas target resisten tersebut, sehingga akan rentan berbalik arah jika kondisi pasar saham global tidak mendukung kelanjutan kenaikan," tuturnya.
Rilis penurunan initial jobless claims dan dukungan rilis kinerja beberapa emiten AS yang berhasil melampui estimasi antarkan bursa saham AS melanjutkan kenaikan dan sempat memberikan imbas positif bagi bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Pelaku pasar pun masih melanjutkan perburuannya terhadap saham-saham pilihan terutama blue chips yang terlihat dari tingginya nilai transaksi pada beberapa saham tersebut.
Bahkan beberapa saham-saham pertambangan pun ikut menguat dan membuat indeks pertambangan menjadi salah satu top gainer penopang IHSG. Akan tetapi, laju IHSG terhambat oleh tekanan jual setelah pembukaan bursa saham Eropa memerah.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.949,84 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level 4.925,84 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.937,21. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar Reza.
Pergerakan nilai tukar rupiah kembali ke teritori negatif setelah adanya kabar kebutuhan bailout Siprus diperkirakan akan lebih tinggi dari penilaian sebelumnya, dari semula 17 miliar euro menjadi 23 miliar euro.
Permasalahan timbul dimana para MenKeu Uni Eropa tidak berkeinginan untuk menambah selisihnya, sehingga akan menjadi beban Siprus untuk mencari jalan memperoleh selisihnya. Pelaku pasar masih menunggu kejelasan dari masalah ini pada pertemuan Euro Group maupun The Economic and Financial Affairs Council (Ecofin).
Pelemahan rupiah sedikit terbatas dengan sentimen dari IMF yang menurunkan prediksi PDB AS untuk 2013 menjadi 1,7 persen dari target sebelumnya 2 persen, sehingga menimbulkan asumsi masih dibutuhkannya stimulus dan positifnya lelang obligasi Italia untuk tenor 1, 5, dan 15 tahun, dimana yield untuk tenor 1 tahun turun dari 2,48 persen menjadi 2,29 persen; tenor 5 tahun turun dari 2,95 persen menjadi 2,74 persen; dan tenor 15 tahun turun dari 4,9 persen menjadi 4,68 persen.
Indeks saham Asia berbalik negatif setelah merespon penurunan harga komoditas. Di sisi lain, pelemahan juga dipicu penilaian Bloomberg dimana sebanyak 62 persen dari emiten pada indeks MSCI Emerging Market yang telah merilis kinerja sejak 1 April sedikit di bawah estimasi dan laporan IMF terhadap PDB AS tersebut.
Pelaku pasar juga terlihat khawatir makin memanasnya ketegangan di Semenanjung Korea, sehingga banyak melakukan aksi jual.
Pasar saham Eropa berakhir negatif di akhir pekan setelah merespon penurunan wholesale price index bulanan dan tahunan Jerman serta kembali mencuatnya masalah pemberian bailout Siprus pada Euro Group Meeting di Dublin yang mengindikasikan adanya tambahan dana bailout dari sebelumnya meskipun belum ada kata sepakat, namun di sisi lain para MenKeu Uni Eropa menyetujui perpanjangan jatuh tempo rescue loans Irlandia dan Portugal menjadi 7 tahun.
Pelaku pasar juga merespon negatif rilis data penjualan ritel AS. Bursa saham AS gagal bertahan di zona positif setelah rilis penurunan tidak terduga retail sales, harga komoditas dan consumer sentiment. Di sisi lain, laporan dari Departemen Perdagangan mengatakan para perusahaan mengalami pertumbuhan melambat dalam kenaikan inventories.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.900-4.935 dan resistance 4.955-4.965," kata kepala riset Trust Securities, Reza Priyambada, Senin (15/4/2013).
Berpola menyerupai shooting star di atas middle bollinger bands (MBB). MACD masih mendatar dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih mencoba upreversal.
"Penutupan IHSG kembali berhasil berada di rentang target resisten kami (4.930-4.945) dan bahkan sempat melampauinya. Tetapi, dengan adanya tekanan jual membuat tidak dapat bertahan di atas target resisten tersebut, sehingga akan rentan berbalik arah jika kondisi pasar saham global tidak mendukung kelanjutan kenaikan," tuturnya.
Rilis penurunan initial jobless claims dan dukungan rilis kinerja beberapa emiten AS yang berhasil melampui estimasi antarkan bursa saham AS melanjutkan kenaikan dan sempat memberikan imbas positif bagi bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Pelaku pasar pun masih melanjutkan perburuannya terhadap saham-saham pilihan terutama blue chips yang terlihat dari tingginya nilai transaksi pada beberapa saham tersebut.
Bahkan beberapa saham-saham pertambangan pun ikut menguat dan membuat indeks pertambangan menjadi salah satu top gainer penopang IHSG. Akan tetapi, laju IHSG terhambat oleh tekanan jual setelah pembukaan bursa saham Eropa memerah.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.949,84 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level 4.925,84 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.937,21. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar Reza.
Pergerakan nilai tukar rupiah kembali ke teritori negatif setelah adanya kabar kebutuhan bailout Siprus diperkirakan akan lebih tinggi dari penilaian sebelumnya, dari semula 17 miliar euro menjadi 23 miliar euro.
Permasalahan timbul dimana para MenKeu Uni Eropa tidak berkeinginan untuk menambah selisihnya, sehingga akan menjadi beban Siprus untuk mencari jalan memperoleh selisihnya. Pelaku pasar masih menunggu kejelasan dari masalah ini pada pertemuan Euro Group maupun The Economic and Financial Affairs Council (Ecofin).
Pelemahan rupiah sedikit terbatas dengan sentimen dari IMF yang menurunkan prediksi PDB AS untuk 2013 menjadi 1,7 persen dari target sebelumnya 2 persen, sehingga menimbulkan asumsi masih dibutuhkannya stimulus dan positifnya lelang obligasi Italia untuk tenor 1, 5, dan 15 tahun, dimana yield untuk tenor 1 tahun turun dari 2,48 persen menjadi 2,29 persen; tenor 5 tahun turun dari 2,95 persen menjadi 2,74 persen; dan tenor 15 tahun turun dari 4,9 persen menjadi 4,68 persen.
Indeks saham Asia berbalik negatif setelah merespon penurunan harga komoditas. Di sisi lain, pelemahan juga dipicu penilaian Bloomberg dimana sebanyak 62 persen dari emiten pada indeks MSCI Emerging Market yang telah merilis kinerja sejak 1 April sedikit di bawah estimasi dan laporan IMF terhadap PDB AS tersebut.
Pelaku pasar juga terlihat khawatir makin memanasnya ketegangan di Semenanjung Korea, sehingga banyak melakukan aksi jual.
Pasar saham Eropa berakhir negatif di akhir pekan setelah merespon penurunan wholesale price index bulanan dan tahunan Jerman serta kembali mencuatnya masalah pemberian bailout Siprus pada Euro Group Meeting di Dublin yang mengindikasikan adanya tambahan dana bailout dari sebelumnya meskipun belum ada kata sepakat, namun di sisi lain para MenKeu Uni Eropa menyetujui perpanjangan jatuh tempo rescue loans Irlandia dan Portugal menjadi 7 tahun.
Pelaku pasar juga merespon negatif rilis data penjualan ritel AS. Bursa saham AS gagal bertahan di zona positif setelah rilis penurunan tidak terduga retail sales, harga komoditas dan consumer sentiment. Di sisi lain, laporan dari Departemen Perdagangan mengatakan para perusahaan mengalami pertumbuhan melambat dalam kenaikan inventories.
(rna)
Lihat Juga :