Terimbas sentimen global, IHSG diprediksi kembali melemah
Selasa, 16 April 2013 - 08:02 WIB
Terimbas sentimen global, IHSG diprediksi kembali melemah
A
A
A
Sindonews.com - Awal pekan yang buruk sepertinya masih akan berlanjut pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terimbas pelemahan bursa saham AS paska rilis penurunan sejumlah data ekonomi.
"Meski menyentuh level tertinggi IHSG di kisaran support kami (4.900-4.935), namun penutupan IHSG (kemarin) yang di bawah target support tersebut memberi kesan akan adanya potensi penurunan kembali," kata kepala riset Trust Securities, Reza Priyambada, Selasa (16/4/2013).
Dia memproyeksikan, pada perdagangan hari ini IHSG akan berada pada support 4.865-4.899 dan resistance 4.937-4.956. Berpola menyerupai spinning di atas middle bollinger bands (MBB). MACD masih mendatar dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal melanjutkan upreversal.
"Kendati masih berpotensi melemah, tetapi selama masih dapat bertahan di atas level 4.860 (batas middle bollinger band) maka diharapkan IHSG dapat bergerak rebound yang tentunya dengan asumsi didukung laju bursa saham global dan sentimen yang ada," kata Reza.
Lebih lanjut dia mengatakan, awal pekan yang buruk dan tidak jauh berbeda dengan pekan sebelumnya, dimana IHSG masuk ke teritori negatif setelah terimbas pelemahan bursa saham AS paska rilis penurunan tidak terduga retail sales, harga komoditas dan consumer sentiment.
Begitu pun dengan bursa saham Asia yang juga tidak terlalu kondusif serta transaksi asing yang tercatat nett sell dan hanya beberapa saham kapitalisasi kecil saja yang tercatat nett buy asing membuat pelaku pasar berkeinginan untuk melakukan aksi jual.
Menurutnya, kondisi pembukaan bursa saham Eropa yang juga melemah makin membuat IHSG tidak berdaya menghadapi serangan aksi jual dari para pelaku pasar.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.924,66 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.891,01 (level terendahnya) juga di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.894,59. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar dia.
Pergerakan nilai tukar rupiah cenderung stagnan terimbas data-data China yang memberi sinyal masih adanya perlambatan di negara tersebut dan masih adanya ganjalan masalah di Siprus terkait perkiraan penambahan dana bailout di atas perkiraan dan Portugal yang Mahkamah Konstitusinya telah membatalkan sebagian kebijakan penghematan pemerintah.
Di sisi lain, secara internal sentimen pertemuan BI pekan lalu direspon tidak terlalu baik karena tidak memberikan sinyal pengetatan moneter di tengah inflasi yang lebih tinggi dibandingkan tingka suku bunga BI (BI rate). Inflasi 5,9 persen (YoY), sedangkan BI rate di level 5,75 persen.
Indeks saham Asia melanjutkan laju negatif setelah rilis pertumbuhan GDP tahunan dan kuartalan di bawah estimasi dan rilis sebelumnya. Begitu pun dengan dengan rilis industrial production tahunan China dan Jepang yang turun makin menambah sentimen negatif.
Di sisi lain, rilis naiknya home loans Australia dan retail sales tahunan China belum mampu mengimbangi sentimen negatif tersebut. Sentimen negatif lain juga datang dari langkah pemerintah AS yang memaksa Jepang untuk tidak menjalankan kebijakan mendevaluasi nilai tukar yen.
"Meski menyentuh level tertinggi IHSG di kisaran support kami (4.900-4.935), namun penutupan IHSG (kemarin) yang di bawah target support tersebut memberi kesan akan adanya potensi penurunan kembali," kata kepala riset Trust Securities, Reza Priyambada, Selasa (16/4/2013).
Dia memproyeksikan, pada perdagangan hari ini IHSG akan berada pada support 4.865-4.899 dan resistance 4.937-4.956. Berpola menyerupai spinning di atas middle bollinger bands (MBB). MACD masih mendatar dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal melanjutkan upreversal.
"Kendati masih berpotensi melemah, tetapi selama masih dapat bertahan di atas level 4.860 (batas middle bollinger band) maka diharapkan IHSG dapat bergerak rebound yang tentunya dengan asumsi didukung laju bursa saham global dan sentimen yang ada," kata Reza.
Lebih lanjut dia mengatakan, awal pekan yang buruk dan tidak jauh berbeda dengan pekan sebelumnya, dimana IHSG masuk ke teritori negatif setelah terimbas pelemahan bursa saham AS paska rilis penurunan tidak terduga retail sales, harga komoditas dan consumer sentiment.
Begitu pun dengan bursa saham Asia yang juga tidak terlalu kondusif serta transaksi asing yang tercatat nett sell dan hanya beberapa saham kapitalisasi kecil saja yang tercatat nett buy asing membuat pelaku pasar berkeinginan untuk melakukan aksi jual.
Menurutnya, kondisi pembukaan bursa saham Eropa yang juga melemah makin membuat IHSG tidak berdaya menghadapi serangan aksi jual dari para pelaku pasar.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.924,66 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.891,01 (level terendahnya) juga di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.894,59. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar dia.
Pergerakan nilai tukar rupiah cenderung stagnan terimbas data-data China yang memberi sinyal masih adanya perlambatan di negara tersebut dan masih adanya ganjalan masalah di Siprus terkait perkiraan penambahan dana bailout di atas perkiraan dan Portugal yang Mahkamah Konstitusinya telah membatalkan sebagian kebijakan penghematan pemerintah.
Di sisi lain, secara internal sentimen pertemuan BI pekan lalu direspon tidak terlalu baik karena tidak memberikan sinyal pengetatan moneter di tengah inflasi yang lebih tinggi dibandingkan tingka suku bunga BI (BI rate). Inflasi 5,9 persen (YoY), sedangkan BI rate di level 5,75 persen.
Indeks saham Asia melanjutkan laju negatif setelah rilis pertumbuhan GDP tahunan dan kuartalan di bawah estimasi dan rilis sebelumnya. Begitu pun dengan dengan rilis industrial production tahunan China dan Jepang yang turun makin menambah sentimen negatif.
Di sisi lain, rilis naiknya home loans Australia dan retail sales tahunan China belum mampu mengimbangi sentimen negatif tersebut. Sentimen negatif lain juga datang dari langkah pemerintah AS yang memaksa Jepang untuk tidak menjalankan kebijakan mendevaluasi nilai tukar yen.
(rna)
Lihat Juga :