Laju IHSG tergantung sentimen akhir pekan
Jum'at, 19 April 2013 - 08:12 WIB
Laju IHSG tergantung sentimen akhir pekan
A
A
A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diharapkan masih memiliki dorongan untuk menguat seiring sentimen positif yang ada. Namun, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi pembalikan arah.
Kepala riset Trust Securities, Reza Priyambada memprediksi, IHSG pada perdagangan hari ini akan berada pada support 4.960-4.985 dan resistance 5.020-5.023. Berpola menyerupai three white soldier mendekati upper bollinger bands (MBB). MACD naik dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic lanjutkan upreversal.
"IHSG kembali lagi berhasil melewati batas resisten kami (5.010-5.030) dan membentuk new break high di kisaran level psikologisnya. Tampaknya IHSG telah melupakan gap di level 4.945-4.954 dan terutama gap di level 4.786-4.799," terang Reza, Jumat (19/4/2013).
Tampaknya IHSG memang ingin mengetes kemampuannya mendekati level psikologisnya, meskipun sentimen yang menyertainya kurang begitu baik.
Pelemahan pada saham-saham energi dan telekomunikasi Amerika Serikat pasca rilis estimasi kinerjanya yang di bawah estimasi menguburkan harapan indeks saham AS akan menyentuh kembali posisi tertinggi terbarunya.
Akibatnya, bursa saham Asia meradang dan sempat berimbas negatif pada IHSG. Akan tetapi, dengan ekspektasi rilis kinerja emiten kuartal I/2013 masih akan positif; masih adanya pemberitaan mengenai dividen; dan masih adanya nett buy asing maka membuat IHSG terangkat hingga menyentuh level tertinggi terbarunya kembali yang sekaligus merupakan level yang sangat dinantikan di level goceng.
Positifnya pembukaan bursa saham Eropa juga membantu penguatan IHSG. "Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 5.012,64 (level tertingginya) di akhir sesi 2 dan menyentuh level 4.975,29 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 5.012,64. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar Reza.
Pergerakan nilai tukar rupiah kembali melemah setelah merespon pernyataan salah satu pejabat tinggi ECB, Jens Weidman, yang juga gubernur bank sentral Jerman yang mendukung rencana ECB untuk menurunkan tingkat suku bunganya lebih lanjut jika kondisi ekonomi semakin terpuruk.
Di sisi lain, komentar Presiden ECB, Mario Draghi, yang berencana menurunkan nilai mata uang Euro agar dapat meningkatkan daya saing ekspor di zona Euro turut mendapat respon negatif. Di sisi lain, pelemahan rupiah terbatas dengan adanya rilis kenaikan investasi China sebesar 1,4 persen dari sebelumnya -1,4 persen dan business confidence Australia.
Indeks saham Asia variatif dengan pelemahan pada HangSeng dan Nikkei yang dimotori penurunan saham-saham pertambangan dan energi setelah terimbas pelemahan bursa saham AS serta kembali melemahnya harga komoditas yang diperkirakan akan menghambat permintaan untuk bahan baku.
Belum lagi penilaian IMF yang sebelumnya memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global, dimana Eropa masih akan menjadi pemberat. Di tempat lain, indeks Shanghai berhasil rebound dengan ekspektasi pelemahan harga-harga komoditas akan menguntungkan emiten produsen otomotif dan penerbangan karena akan menurunkan biaya; serta kenaikan investasi asing dan harga rumah.
Kepala riset Trust Securities, Reza Priyambada memprediksi, IHSG pada perdagangan hari ini akan berada pada support 4.960-4.985 dan resistance 5.020-5.023. Berpola menyerupai three white soldier mendekati upper bollinger bands (MBB). MACD naik dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic lanjutkan upreversal.
"IHSG kembali lagi berhasil melewati batas resisten kami (5.010-5.030) dan membentuk new break high di kisaran level psikologisnya. Tampaknya IHSG telah melupakan gap di level 4.945-4.954 dan terutama gap di level 4.786-4.799," terang Reza, Jumat (19/4/2013).
Tampaknya IHSG memang ingin mengetes kemampuannya mendekati level psikologisnya, meskipun sentimen yang menyertainya kurang begitu baik.
Pelemahan pada saham-saham energi dan telekomunikasi Amerika Serikat pasca rilis estimasi kinerjanya yang di bawah estimasi menguburkan harapan indeks saham AS akan menyentuh kembali posisi tertinggi terbarunya.
Akibatnya, bursa saham Asia meradang dan sempat berimbas negatif pada IHSG. Akan tetapi, dengan ekspektasi rilis kinerja emiten kuartal I/2013 masih akan positif; masih adanya pemberitaan mengenai dividen; dan masih adanya nett buy asing maka membuat IHSG terangkat hingga menyentuh level tertinggi terbarunya kembali yang sekaligus merupakan level yang sangat dinantikan di level goceng.
Positifnya pembukaan bursa saham Eropa juga membantu penguatan IHSG. "Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 5.012,64 (level tertingginya) di akhir sesi 2 dan menyentuh level 4.975,29 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan berakhir di level 5.012,64. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar Reza.
Pergerakan nilai tukar rupiah kembali melemah setelah merespon pernyataan salah satu pejabat tinggi ECB, Jens Weidman, yang juga gubernur bank sentral Jerman yang mendukung rencana ECB untuk menurunkan tingkat suku bunganya lebih lanjut jika kondisi ekonomi semakin terpuruk.
Di sisi lain, komentar Presiden ECB, Mario Draghi, yang berencana menurunkan nilai mata uang Euro agar dapat meningkatkan daya saing ekspor di zona Euro turut mendapat respon negatif. Di sisi lain, pelemahan rupiah terbatas dengan adanya rilis kenaikan investasi China sebesar 1,4 persen dari sebelumnya -1,4 persen dan business confidence Australia.
Indeks saham Asia variatif dengan pelemahan pada HangSeng dan Nikkei yang dimotori penurunan saham-saham pertambangan dan energi setelah terimbas pelemahan bursa saham AS serta kembali melemahnya harga komoditas yang diperkirakan akan menghambat permintaan untuk bahan baku.
Belum lagi penilaian IMF yang sebelumnya memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global, dimana Eropa masih akan menjadi pemberat. Di tempat lain, indeks Shanghai berhasil rebound dengan ekspektasi pelemahan harga-harga komoditas akan menguntungkan emiten produsen otomotif dan penerbangan karena akan menurunkan biaya; serta kenaikan investasi asing dan harga rumah.
(rna)
Lihat Juga :