Hatta: BBM di Filipina tak disubsidi
Jum'at, 31 Mei 2013 - 18:23 WIB
Hatta: BBM di Filipina tak disubsidi
A
A
A
Sindonews.com - Menko Perekonomian, Hatta Rajasa menyebut Indonesia harus segera bekerja keras untuk menyaingi Filipina. Karena Bahan Bakar Minyak (BBM) di Filipina sudah tidak disubsidi, semua harga sudah mengikuti pasar dan cenderung lebih efisien.
"Di Filipina sudah enggak ada subsidi (BBM) di sana, ekonomi mereka banyak ditolong tenaga kerja yang di luar. Semua harga pasar dan rakyatnya enggak ribut. Jadi efisien," ujarnya di gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (31/5/2013).
Dia juga menyebut beberapa indikator yang harus segera dibenahi, diantaranya daya saing, infrastruktur, dan mewujudkan layanan satu atap di daerah.
"Saya kira memang kita harus kerja keras, untuk itu, beberapa indikator daya saing itu harus kita benahi adalah infrastruktur, kemudahan berusaha, dan pelayanan publik. Itu bagian-bagian yang juga di daerah sudah harus kita perbaiki seperti layanan satu atap," lanjutnya.
Hatta menambahkan, penting bagi Indonesia untuk segera berbenah karena sebetulnya Indonesia memiliki potensi untuk memacu ekonominya sampai di atas 7 persen.
"Penting bagi kita untuk berbenah, walaupun ekonomi kita tumbuh di atas 6 persen. Banyak juga negara yang tumbuh di atas 9 persen tapi kan base nya rendah. Kita masih bersyukur di atas 6 persen, walaupun kita harus kerja keras karena seharusnya kita masih bisa tumbuh di atas 7 persen,"
Meski demikian, Hatta optimis bahwa Indonesia tetap menjadi kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN. Jika size ekonomi Indoensia jauh lebih besar dari Filipina. Maka GDP-nya hampir USD1 triliun karena penduduknya banyak. "Sedangkan GNP per kapita saya kira kita lebih baik," ujarnya.
Dia juga mengutarakan setelah RAPBNP diketok menjadi APBNP 2013 dan harga BBM dinaikkan, maka rupiah akan menguat dan tumbuh, "Setelah RAPBNP maka rupiah akan kembali menguat," pungkas dia.
"Di Filipina sudah enggak ada subsidi (BBM) di sana, ekonomi mereka banyak ditolong tenaga kerja yang di luar. Semua harga pasar dan rakyatnya enggak ribut. Jadi efisien," ujarnya di gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (31/5/2013).
Dia juga menyebut beberapa indikator yang harus segera dibenahi, diantaranya daya saing, infrastruktur, dan mewujudkan layanan satu atap di daerah.
"Saya kira memang kita harus kerja keras, untuk itu, beberapa indikator daya saing itu harus kita benahi adalah infrastruktur, kemudahan berusaha, dan pelayanan publik. Itu bagian-bagian yang juga di daerah sudah harus kita perbaiki seperti layanan satu atap," lanjutnya.
Hatta menambahkan, penting bagi Indonesia untuk segera berbenah karena sebetulnya Indonesia memiliki potensi untuk memacu ekonominya sampai di atas 7 persen.
"Penting bagi kita untuk berbenah, walaupun ekonomi kita tumbuh di atas 6 persen. Banyak juga negara yang tumbuh di atas 9 persen tapi kan base nya rendah. Kita masih bersyukur di atas 6 persen, walaupun kita harus kerja keras karena seharusnya kita masih bisa tumbuh di atas 7 persen,"
Meski demikian, Hatta optimis bahwa Indonesia tetap menjadi kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN. Jika size ekonomi Indoensia jauh lebih besar dari Filipina. Maka GDP-nya hampir USD1 triliun karena penduduknya banyak. "Sedangkan GNP per kapita saya kira kita lebih baik," ujarnya.
Dia juga mengutarakan setelah RAPBNP diketok menjadi APBNP 2013 dan harga BBM dinaikkan, maka rupiah akan menguat dan tumbuh, "Setelah RAPBNP maka rupiah akan kembali menguat," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :