Rupiah kembali terdepresiasi ke Rp9.811/USD
Senin, 03 Juni 2013 - 16:09 WIB
Rupiah kembali terdepresiasi ke Rp9.811/USD
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal pekan ini terdepresiasi setelah akhir pekan lalu berhasil menguat. Kajatuhan rupiah seiring anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan sore ini.
Posisi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Senin (3/6/2013) turun naik 9 poin menjadi di Rp9.811 per USD dibanding akhir pekan lalu di posisi Rp9.811 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah sore ini tetetp dengan posisi Jumat (31/5/2013) di Rp9.808 per USD. Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup di level Rp9.821 per USD, dengan kisaran harian Rp9.805-9.813 per USD.
Head of Research & Analysis BNI, Nurul Eti Nurbaeti sebelumnya menyatakan, nilai tukar mata uang lokal akan dipengaruhi ketidakpastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) data makro domestik dan lelang Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp8 triliun di hari ini.
"Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada beberapa rilis data makro ekonomi domestik," ujarnya.
Posisi rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Senin (3/6/2013) turun naik 9 poin menjadi di Rp9.811 per USD dibanding akhir pekan lalu di posisi Rp9.811 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah sore ini tetetp dengan posisi Jumat (31/5/2013) di Rp9.808 per USD. Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup di level Rp9.821 per USD, dengan kisaran harian Rp9.805-9.813 per USD.
Head of Research & Analysis BNI, Nurul Eti Nurbaeti sebelumnya menyatakan, nilai tukar mata uang lokal akan dipengaruhi ketidakpastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) data makro domestik dan lelang Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp8 triliun di hari ini.
"Perhatian pelaku pasar akan tertuju pada beberapa rilis data makro ekonomi domestik," ujarnya.
(rna)