Rupiah ditutup di level Rp10.270/USD
Senin, 29 Juli 2013 - 16:03 WIB
Rupiah ditutup di level Rp10.270/USD
A
A
A
Sindonews.com - Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal pekan ini kembali melanjutkan koreksi yang terjadi pada pekan lalu. Ini seiring dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sore ini.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Senin (29/7/2013) melemah 5 poin dari Rp10.265 per USD pada Jumat (26/7/2013) menjadi Rp10.270 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah sore ini menguat sebanyak 16 poin dari level Rp10.291 per USD pada Jumat lalu menjadi Rp10.275 per USD pada sore ini.
Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup sama dengan perdagangan akhir pekan lalu di level Rp10.265 per USD, dengan kisaran harian Rp10.273per USD.
Head of Research & Analysis BNI, Nurul Eti Nurbaeti menuturkan bahwa momentum akhir bulan yang selalu diwarnai meningkatnya permintaan (demand) USD cenderung memberi tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, aksi jual saham oleh investor asing juga menganggu stabilitas rupiah. "Kewaspadaan BI meningkat dan akan masuk pasar sewaktu dibutuhkan untuk mengendalikan nilai tukar rupiah," ujarnya.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Senin (29/7/2013) melemah 5 poin dari Rp10.265 per USD pada Jumat (26/7/2013) menjadi Rp10.270 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah sore ini menguat sebanyak 16 poin dari level Rp10.291 per USD pada Jumat lalu menjadi Rp10.275 per USD pada sore ini.
Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup sama dengan perdagangan akhir pekan lalu di level Rp10.265 per USD, dengan kisaran harian Rp10.273per USD.
Head of Research & Analysis BNI, Nurul Eti Nurbaeti menuturkan bahwa momentum akhir bulan yang selalu diwarnai meningkatnya permintaan (demand) USD cenderung memberi tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, aksi jual saham oleh investor asing juga menganggu stabilitas rupiah. "Kewaspadaan BI meningkat dan akan masuk pasar sewaktu dibutuhkan untuk mengendalikan nilai tukar rupiah," ujarnya.
(rna)