Bulog buru kedelai lokal di Wonogiri

Rabu, 28 Agustus 2013 - 15:18 WIB
Bulog buru kedelai lokal...
Bulog buru kedelai lokal di Wonogiri
A A A
Sindonews.com - Guna mengatasi harga kedelai impor yang terus meningkat seiring penurunan nilai rupiah terhadap dolar, Perum Bulog Subdivre III Surakarta berusaha mencari kedelai lokal. Kedelai lokal tersebut dinilai cukup efektif untuk mengatasi kenaikan harga kedelai impor.

Kepala Perum Bulog Subdive III Surakarta, Edhy Rizwan menyebutkan, pihaknya saat ini tengah berusaha mencari kedelai lokal di wilayah penghasil kedelai di Soloraya. Menurutnya saat ini pihaknya sedang berkonsentrasi untuk mencari kedelai tersebut di daerah Kabupaten Wonogiri.

Edhy menyebutkan saat ini para petani di Kabupaten Wonogiri mulai memanen kedelai di lahan pertainan mereka. Hasil panen tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan kedelai di wilayah Soloraya.

“Di sana sudah mulai panen, kemungkinan dalam waktu dekat akan panen raya, sehingga hasil panen tersebut dapat kita beli untuk memenuhi kebutuhan kedelai di Soloraya,” ucapnya kepada wartawan, Rabu (28/8/2013).

Edhy menjelaskan, pihaknya mengaku bakal membeli harga kedelai tersebut Rp7.000 per kilogram. Harga tersebut sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan oleh Kementerian Perdagangan.

Sedangkan untuk masalah distribusi kedelai, Bulog nantinya bakal bekersama dengan mitra distributor kedelai yang ada di sejumlah daerah di Soloraya.

Selain itu pihaknya juga akan menyalurkan kedelai itu kepada koperasi kedelai yang tergabung dalam wadah Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti). Sedangkan dari tingkat koperasi dan distributor selanjutnya diteruskan ke sentra penghasil tahu dan tempe.

Pihaknya menyebutkan, kebutuhan kedelai di wilayah Soloraya mencapai 1.160 ton setiap tahunnya. Jumlah tersebut dengan rincian Primkopti Surakarta sebanyak 130 ton, Sukoharjo sekitar 150 ton, Klaten 75 ton, Boyolali sebanyak 115 ton, Sragen 390 ton, Karanganyar 200 ton, Wonogiri 100 ton dengan total pengusaha sebanyak 250 orang.

“Yang penting kita sediakan dahulu, nantinya untuk masalah kualitas yang mengerti adalah para perajin tahu dan tempe,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang perajin tempe di wilayah Mojosongo, Solo, Sunardi mengatakan, kualitas kedelai impor masih lebih bagus dari kedelai lokal. Menurutnya kedelai impor lebih mudah mengembang dibanding kedelai lokal. Sehingga banyaknya pasokan kedelai lokal tersebut kurang begitu berpengaruh bagi para perajin tahu dan tempe.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Kedelai Meroket,...
Harga Kedelai Meroket, Disperindag dan Polda Banten Sidak Gudang
Mencari Solusi Meredam...
Mencari Solusi Meredam Gejolak Harga Kedelai
Abai dengan Impor Kedelai,...
Abai dengan Impor Kedelai, Sampai Kapan?
Masih Ada Peluang Indonesia...
Masih Ada Peluang Indonesia Tak Bergantung pada Kedelai Impor
Kedelai Impor Tembus...
Kedelai Impor Tembus Rp1,2 Juta, Pedagang Tempe dan Tahu Dilema Naikkan Harga
Ironi Tanaman Kedelai...
Ironi Tanaman Kedelai di Indonesia: Tanahnya Terbaik, tapi Impor Terus
Berita Terkini
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Lumpuhkan Jantung Kilang Minyak Rusia, Kelangkaan BBM Memburuk
57 menit yang lalu
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
10 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
10 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
11 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
11 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
11 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved