Kenaikan harga di Jepang sinyal akhir deflasi

Jum'at, 30 Agustus 2013 - 14:19 WIB
Kenaikan harga di Jepang...
Kenaikan harga di Jepang sinyal akhir deflasi
A A A
Sindonews.com - Kenaikan harga konsumen di Jepang pada Juli 2013, yang berada dilaju tercepat selama hampir lima tahun, memberikan harapan akhir tahun deflasi.

Indeks harga konsumen (PCI), yang mengukur belanja barang sehari-hari, tidak termasuk biaya volatile makanan segar, naik 0,7 persen dari tahun sebelumnya. Ini sebagai kenaikan terbesar sejak peningkatan 1,0 persen pada November 2008 .

Angka ini menjadi berita baik bagi Perdana Menteri Shinzo Abe, yang telah berjanji menyeret Jepang keluar dari deflasi yang membelit selama hampir 15 tahun, dengan mengangkat harga dan upah pekerja agar perekonomian bergerak kembali.

Ini adalah kenaikan bulan kedua berturut-turut setelah peningkata 0,4 persen pada Juni, menandai kenaikan pertama dalam 14 bulan (menurut kementerian urusan internal).

Penurunan harga sebenarnya kabar baik bagi pembeli individu. Namun, bagi perekonomian secara keseluruhan hal ini buruk karena mendorong konsumen menunda belanja, mereka tahu akan membayar lebih sedikit jika menunggu.

Itu membuat sulit bagi perusahaan untuk berinvestasi dan menghambat upaya memberikan kenaikan upah, yang pada gilirannya lebih lanjut mengurangi pengeluaran konsumen.

Setiap kenaikan berkelanjutan dalam harga disambut pemerintah. Namun, melihat lebih dekat pada data, bahwa pertempuran melawan penurunan harga jauh dari kemenangan.

Menurut Kepala Ekonom Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami, kenaikan harga dalam dua bulan terakhir sebagian besar mewakili cost-push inflasi, didorong tingginya harga energi global, serta pelemahan yen yang telah membuat impor lebih mahal.

Hideo Kumano, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute menambahkan, hari ini data CPI menunjukkan tanda-tanda keluar dari deflasi, tetapi kita masih perlu melihat perbaikan di pasar kerja dan redistribusi kekayaan untuk menyatakan deflasi mulai keluar.

"Definisi keluar dari deflasi bisa politis, tetapi kuncinya adalah harga muncul secara berkelanjutan, yang sulit tercapai tanpa perbaikan di pasar kerja dan gaji," tandas Kumano.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Dalam Sekejap, 1.000...
Dalam Sekejap, 1.000 Lebih Perusahaan di Jepang Bangkrut
Dampak Inflasi Global...
Dampak Inflasi Global Merembes ke Ekonomi Jepang, Investor Cemas
Resesi, Jepang Tak Lagi...
Resesi, Jepang Tak Lagi Jadi Negara Ekonomi Terbesar Ketiga di Dunia
Ekonomi Tumbang, Jepang...
Ekonomi Tumbang, Jepang Pesimistis Pemulihan Bakal Berjalan Cepat
Terjun ke Jurang Resesi,...
Terjun ke Jurang Resesi, Aktivitas Pabrik di Jepang Semakin Memburuk
Resesi Seks Bikin Jepang...
Resesi Seks Bikin Jepang Lengser dari Peringkat Ketiga Ekonomi Terbesar Dunia
Berita Terkini
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
7 menit yang lalu
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
54 menit yang lalu
Transformasi IFG Tak...
Transformasi IFG Tak Hanya Streamlining, Tapi Perkuat Tata Kelola Investasi
1 jam yang lalu
Danantara Pangkas Ribuan...
Danantara Pangkas Ribuan BUMN Jadi 200-300 Entitas, Langkah Rasional Selamatkan Aset Negara
1 jam yang lalu
Laba Bank Mandiri Naik...
Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
1 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved