Laju rupiah diperkirakan masih terus melemah
Kamis, 05 September 2013 - 08:42 WIB
Laju rupiah diperkirakan masih terus melemah
A
A
A
Sindonews.com - Berbeda dengan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang punya potensi menguat, laju rupiah justru terus menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
"Jika diperhatikan, setiap kali kami menurunkan batas support dari rupiah, maka lajunya terus berada di kisaran support kami. Artinya, laju rupiah terus menunjukkan pelemahannya," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Kamis (5/9/2013).
Rentang pergerakannya pun cenderung negatif lantaran sentimen yang beredar terus mendukung pelemahan tersebut ditambah masih belum nampaknya pengaruh dari kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan pemerintah.
"Rupiah akan berada pada rentang Rp10.987-11170/USD menurut kurs tengah BI," prediksi Reza.
Adanya rilis membaiknya data-data manufaktur dan construction spending AS menimbulkan persepsi bahwa tappering off stimulus The Fed pasti akan terjadi, sehingga membuat pasokan USD berkurang dan berimbas pada naiknya nilai tukar USD.
"Bagi pelaku pasar, kondisi tersebut merupakan berita negatif bagi rupiah. Tidak hanya itu, sentimen meningkatnya rencana invasi AS ke Suriah juga dijadikan sentimen negatif," tutup dia.
Pada perdagangan kemarin, data Bloomberg mencatat rupiah ditutup di level Rp11.411/USD atau menguat 34 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.445/USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Rabu (4/9/2013) tembus level Rp11.093/USD. Sedangkan data yahoofinance mencatat, mata uang domestik berada di level Rp11.030/USD.
"Jika diperhatikan, setiap kali kami menurunkan batas support dari rupiah, maka lajunya terus berada di kisaran support kami. Artinya, laju rupiah terus menunjukkan pelemahannya," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Kamis (5/9/2013).
Rentang pergerakannya pun cenderung negatif lantaran sentimen yang beredar terus mendukung pelemahan tersebut ditambah masih belum nampaknya pengaruh dari kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan pemerintah.
"Rupiah akan berada pada rentang Rp10.987-11170/USD menurut kurs tengah BI," prediksi Reza.
Adanya rilis membaiknya data-data manufaktur dan construction spending AS menimbulkan persepsi bahwa tappering off stimulus The Fed pasti akan terjadi, sehingga membuat pasokan USD berkurang dan berimbas pada naiknya nilai tukar USD.
"Bagi pelaku pasar, kondisi tersebut merupakan berita negatif bagi rupiah. Tidak hanya itu, sentimen meningkatnya rencana invasi AS ke Suriah juga dijadikan sentimen negatif," tutup dia.
Pada perdagangan kemarin, data Bloomberg mencatat rupiah ditutup di level Rp11.411/USD atau menguat 34 poin dibanding penutupan kemarin di level Rp11.445/USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Rabu (4/9/2013) tembus level Rp11.093/USD. Sedangkan data yahoofinance mencatat, mata uang domestik berada di level Rp11.030/USD.
(rna)