Faktor ini gerus pendapatan perusahaan jasa keuangan

Kamis, 05 September 2013 - 13:02 WIB
Faktor ini gerus pendapatan...
Faktor ini gerus pendapatan perusahaan jasa keuangan
A A A
Sindonews.com - Naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) sebesar 50 basis poin menjadi 7 persen dari sebelumnya 6,5 persen berpotensi mengurangi pendapatan perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan, seperti perbankan, pembiayaan dan sekuritas.

Senior VP Financial Institution Ratings PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Hendro Utomo menerangkan, penurunan margin di sektor jasa keuangan tersebut, paling besar akan dirasakan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di jasa pembiayaan.

"Kenaikan tingkat bunga akan mempengaruhi sektor pendanaan (pembiyaan). Berpotensi mengurangi margin perusahaan pembiayaan," kata Hendro di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (5/9/2013).

Hal ini, lanjut Hendro, karena perusahaan di sektor tersebut masih mengandalkan sumber dana dari pinjaman bank. Padahal, menurut dia, beban bunga bank meningkat, sehingga operasional perusahaan akan terpengaruh.

Seolah belum cukup dengan kondisi tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) turut melengkapi kombinasi faktor yang dapat menghambat kinerja perusahaan di sektor ini.

Selain itu, inflasi yang meskipun secara bulanan mengalami penurunan, namun secara tahunan (YoY) angkanya sudah cukup tinggi, yakni telah menyentuh 8,79 persen.

"Beban bunga meningkat, nilai kurs bergejolak sehingga mempengaruhi debitur dalam membayar kewajiban dalam bentuk utang baik terhadap perbankan maupun perusahaan perbankan. Inflasi, juga telah menyebabkan permintaan barang dan jasa akan melemah termasuk permintaan akan jasa keuangan. Akan ada perlambatan dan penurunan permintaan," tuturnya.

Di sisi lain, untuk perusahaan sekuritas, dampak kondisi ekonomi yang tidak menentu ini juga cukup berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Pasalnya, ada sejumlah proyek penjaminan obligasi dan penerbitan saham baru yang mundur dari jadwal semula.

"Untuk sekuritas dampaknya memang bervariasi, tapi secara umum akan mengalami penurunan karena perusahaan yang mau menerbitkan obligasi banyak yang menunda. Jadi, ada fee juga yang tertunda, sehingga bisa terpengaruh dari situ," tutupnya.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Demi Rupiah, Bank Indonesia...
Demi Rupiah, Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga 4,75%
Tok! BI Menaikkan Suku...
Tok! BI Menaikkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,25%, Mampukah Selamatkan Rupiah?
Ekonom Prediksi BI Tahan...
Ekonom Prediksi BI Tahan Suku Bunga Acuan 6,25%, Ini Pertimbangannya
Rupiah Berakhir Ambruk...
Rupiah Berakhir Ambruk ke Rp16.325 per Dolar AS usai BI Rate Dipangkas
Jaga Nilai Tukar Rupiah...
Jaga Nilai Tukar Rupiah Stabil, BI Repo Rate Bakal Ditahan
BI-Rate Tetap di Level...
BI-Rate Tetap di Level 6,25 Persen
Berita Terkini
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
27 menit yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
56 menit yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
1 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
4 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
10 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
11 jam yang lalu
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved