Soal sawit, pemerintah diminta desak Amerika dan Eropa
Kamis, 26 September 2013 - 14:43 WIB
Soal sawit, pemerintah diminta desak Amerika dan Eropa
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi IV DPR Siswono Yudhohusodo meminta pemerintah menekan Uni Eropa dan Amerika Serikat untuk melonggarkan pasar mereka untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) pada Oktober 2013 di Bali.
Menurut dia, momentum APEC tepat untuk menekan Uni Eropa dan Amerika Serikat karena pemerintah Indonesia telah berhasil memasukkan isu mengenai produk kelapa sawit yang selama ini dinilai sebagai produk yang tidak ramah lingkungan, sangat tidak masuk akal.
“Saat ini Indonesia menjadi tuan rumah APEC. Indonesia adalah negara terbesar yang memproduksi kelapa sawit sejak lima tahun terakhir. Kalau perlu pemerintah meminta patokan harga CPO dunia adalah rupiah, bukan ringgit Malaysia,” kata Siswono di Jakarta, Kamis (26/9/2013).
Siswono menjelaskan, Indonesia masih mengungguli Malaysia untuk produksi minyak sawit mentah. Tahun ini, produksi CPO Indonesia mencapai 25 juta ton, sementara Malaysia baru 18,9 juta ton.
“Sebagai pemain terbesar, Indonesia harusnya lebih dominan dalam komoditas ini. Konsumsi minyak kelapa sawit di dunia sendiri meningkat sebanyak 7 persen setiap tahunnya. Harusnya Indonesia lebih agresif,” tuturnya.
Harga minyak kelapa sawit dunia kini dua kali lipat biaya produksinya dalam beberapa tahun terakhir, satu hal yang tidak terjadi dengan komoditas lainnya di Asia selama beberapa dekade.
Sementara komoditas nabati dunia saat ini didominasi tiga jenis komoditas, yakni sawit, canola, dan soyabean (kacang kedelai). Pasar sawit mayoritas terdapat di Asia, komoditas canola mayoritas di Eropa, dan mayoritas komoditas soyabean di Amerika.
Menurut Siswono, saat ini komoditas sawit lebih kompetitif dan efisien dibandingkan canola dan soyabean. Karena itu, Siswono menduga karena alasan itulah Amerika dan Eropa menekan pasar sawit di Asia.
“Ketakutan itulah yang membuat Amerika dan Eropa menahan komoditas sawit,” ujar Siswono.
Bagi Indonesia, ekspor CPO menjadi pendorong utama kinerja ekspor nonmigas pada Mei 2013. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Mei 2013 ekspor lemak dan minyak hewan/nabati Indonesia naik USD 311,9 juta dari USD1,4 miliar pada April 2013 menjadi USD1,71 miliar.
“Sebagai tuan rumah APEC seharusnya Indonesia bisa lebih tegas. Tidak perlu malu-malu menjadi pemimpin di bidang yang didominasi oleh Indonesia. Apalagi CPO adalah penyumbang devisa ekspor,” tandas dia.
Menurut dia, momentum APEC tepat untuk menekan Uni Eropa dan Amerika Serikat karena pemerintah Indonesia telah berhasil memasukkan isu mengenai produk kelapa sawit yang selama ini dinilai sebagai produk yang tidak ramah lingkungan, sangat tidak masuk akal.
“Saat ini Indonesia menjadi tuan rumah APEC. Indonesia adalah negara terbesar yang memproduksi kelapa sawit sejak lima tahun terakhir. Kalau perlu pemerintah meminta patokan harga CPO dunia adalah rupiah, bukan ringgit Malaysia,” kata Siswono di Jakarta, Kamis (26/9/2013).
Siswono menjelaskan, Indonesia masih mengungguli Malaysia untuk produksi minyak sawit mentah. Tahun ini, produksi CPO Indonesia mencapai 25 juta ton, sementara Malaysia baru 18,9 juta ton.
“Sebagai pemain terbesar, Indonesia harusnya lebih dominan dalam komoditas ini. Konsumsi minyak kelapa sawit di dunia sendiri meningkat sebanyak 7 persen setiap tahunnya. Harusnya Indonesia lebih agresif,” tuturnya.
Harga minyak kelapa sawit dunia kini dua kali lipat biaya produksinya dalam beberapa tahun terakhir, satu hal yang tidak terjadi dengan komoditas lainnya di Asia selama beberapa dekade.
Sementara komoditas nabati dunia saat ini didominasi tiga jenis komoditas, yakni sawit, canola, dan soyabean (kacang kedelai). Pasar sawit mayoritas terdapat di Asia, komoditas canola mayoritas di Eropa, dan mayoritas komoditas soyabean di Amerika.
Menurut Siswono, saat ini komoditas sawit lebih kompetitif dan efisien dibandingkan canola dan soyabean. Karena itu, Siswono menduga karena alasan itulah Amerika dan Eropa menekan pasar sawit di Asia.
“Ketakutan itulah yang membuat Amerika dan Eropa menahan komoditas sawit,” ujar Siswono.
Bagi Indonesia, ekspor CPO menjadi pendorong utama kinerja ekspor nonmigas pada Mei 2013. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada Mei 2013 ekspor lemak dan minyak hewan/nabati Indonesia naik USD 311,9 juta dari USD1,4 miliar pada April 2013 menjadi USD1,71 miliar.
“Sebagai tuan rumah APEC seharusnya Indonesia bisa lebih tegas. Tidak perlu malu-malu menjadi pemimpin di bidang yang didominasi oleh Indonesia. Apalagi CPO adalah penyumbang devisa ekspor,” tandas dia.
(rna)
Lihat Juga :