Pelemahan rupiah diperkirakan berlanjut
Rabu, 13 November 2013 - 08:55 WIB
Pelemahan rupiah diperkirakan berlanjut
A
A
A
Sindonews.com - Alih-alih memberi stimulus bagi laju rupiah untuk menguat atas dolar Amerika Serikat (USD), kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) justru membuat mata uang domestik kembali terjungkal pada perdagangan kemarin.
Pelemahan pada mata uang Indonesia diproyeksi kembali berlanjut pada perdagangan hari ini merujuk respon negatif pelaku pasar atas kenaikan BI Rate tersebut.
"Adanya kenaikan BI Rate 25 bps (basis poin) bukannya membuat rupiah dapat bertahan di tengah spekulasi tersebut, justru malah memperparah lajunya. Rupiah di bawah target support Rp11.518. Rentang rupiah berada di kisaran Rp11.625-11.525 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (13/11/2013).
Meskipun laju Euro bergerak menguat dibandingkan USD seiring rilis beberapa data dari Jerman dan Italia yang cukup positif, namun itu belum dapat mengalahkan dominasi USD terhadap mata uang emerging market.
"Pelaku pasar valas terus mengkhawatirkan masih merebaknya spekulasi tapering off stimulus The Fed, sehingga berimbas negatif pada mata uang emerging market termasuk rupiah," kata Reza.
Kemarin, posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp11.605/USD, terdepresiasi 42 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.563/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari kemarin di level Rp11.578/USD atau melemah 92 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.486/USD.
Pelemahan pada mata uang Indonesia diproyeksi kembali berlanjut pada perdagangan hari ini merujuk respon negatif pelaku pasar atas kenaikan BI Rate tersebut.
"Adanya kenaikan BI Rate 25 bps (basis poin) bukannya membuat rupiah dapat bertahan di tengah spekulasi tersebut, justru malah memperparah lajunya. Rupiah di bawah target support Rp11.518. Rentang rupiah berada di kisaran Rp11.625-11.525 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (13/11/2013).
Meskipun laju Euro bergerak menguat dibandingkan USD seiring rilis beberapa data dari Jerman dan Italia yang cukup positif, namun itu belum dapat mengalahkan dominasi USD terhadap mata uang emerging market.
"Pelaku pasar valas terus mengkhawatirkan masih merebaknya spekulasi tapering off stimulus The Fed, sehingga berimbas negatif pada mata uang emerging market termasuk rupiah," kata Reza.
Kemarin, posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp11.605/USD, terdepresiasi 42 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.563/USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari kemarin di level Rp11.578/USD atau melemah 92 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp11.486/USD.
(rna)