Rupiah dibuka masih lemas
Rabu, 13 November 2013 - 09:33 WIB
Rupiah dibuka masih lemas
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pagi hari ini dibuka masih lemas seiring terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan.
Posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pagi ini dibuka pada level Rp11.624/USD, terdepresiasi 19 poin dibanding penutupan hari kemarin di level Rp11.605/USD.
Adapun, data Sindonews bersumber dari Limas mencatat bahwa rupiah hari ini di level Rp11.598/USD. Posisi tersebut anjlok dibanding Selasa (12/11/2013) yang berada di level Rp11.563/USD.
Sementara data yahoofinance mencatat, mata uang domestik hari ini berada di level Rp11.595/USD. Posisi ini menguat dibanding penutupan sore kemarin di level Rp11.610/USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pelemahan rupiah akibat kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,5 persen direspon negatif pelaku pasar.
"Adanya kenaikan BI Rate 25 bps bukannya membuat rupiah dapat bertahan di tengah spekulasi tersebut, justru malah memperparah lajunya," kata dia, Rabu (13/11/2013).
Menurut dia, pelaku pasar valas terus mengkhawatirkan masih merebaknya spekulasi pemangkasan (tapering off) stimulus The Fed, sehingga berimbas negatif pada mata uang emerging market termasuk rupiah.
Posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pagi ini dibuka pada level Rp11.624/USD, terdepresiasi 19 poin dibanding penutupan hari kemarin di level Rp11.605/USD.
Adapun, data Sindonews bersumber dari Limas mencatat bahwa rupiah hari ini di level Rp11.598/USD. Posisi tersebut anjlok dibanding Selasa (12/11/2013) yang berada di level Rp11.563/USD.
Sementara data yahoofinance mencatat, mata uang domestik hari ini berada di level Rp11.595/USD. Posisi ini menguat dibanding penutupan sore kemarin di level Rp11.610/USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pelemahan rupiah akibat kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,5 persen direspon negatif pelaku pasar.
"Adanya kenaikan BI Rate 25 bps bukannya membuat rupiah dapat bertahan di tengah spekulasi tersebut, justru malah memperparah lajunya," kata dia, Rabu (13/11/2013).
Menurut dia, pelaku pasar valas terus mengkhawatirkan masih merebaknya spekulasi pemangkasan (tapering off) stimulus The Fed, sehingga berimbas negatif pada mata uang emerging market termasuk rupiah.
(rna)