Kemendag belum diajak bicara soal ratifikasi FCTC

Rabu, 20 November 2013 - 14:55 WIB
Kemendag belum diajak...
Kemendag belum diajak bicara soal ratifikasi FCTC
A A A
Sindonews.com - Upaya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pemerintah segera meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) nampaknya masih terkendala.

Meskipun, tiga kementerian (Perdagangan, Perindustrian dan Tenaga Kerja) yang sebelumnya sempat menolak, kini mulai melunak dan menyetujui ratifikasi tersebut.

Ketika dikonfrimasi, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku jika pihaknya belum diajak bicara oleh Kemenkes terkait rencana ratifikasi FCTC ini. "Belum diajak bicara," singkatnya kepada wartawan, Rabu (20/11/2013).

Gita sebelumnya pernah mengatakan, jika mengurusi persoalan rokok tidak cukup hanya melihat satu sudut pandang saja. Seluruh pihak, termasuk petani tembakau harus dilibatkan dalam rantai nilai industri rokok.

"Kita sudah kirimkan surat ke WHO terkait FCTC agar kembali dikoordinasikan sehingga tidak berdampak buruk pada mitra dagang dan investor," ujarnya.

Menurutnya, semua pihak harus koordinasi dan paham secara utuh akan konsekuensi yang terjadi jika ratifikasi FCTC diterapkan. "Termasuk memikirkan dampak terhadap pekerja hingga petani," singkatnya.

Terpisah, anggota Komisi IX DPR RI, Poempida Hidayatullah menilai, pemerintah tidak memiliki hati nurani jika ngotot meratifikasi FCTC. "Memang pemerintah semakin tidak punya hati, dan tidak pro terhadap pekerja dan buruh," tegasnya.

Ia beranggapan, apabila pemerintah mengambil kebijakan itu, angka pengangguran akan semakin besar. Terlebih, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang Februari-November 2013, jumlah angkatan kerja menurun sebanyak 3 juta orang.

"Ini makin sangat mengkhawatirkan jika FCTC diterapkan. Industri rokok/tembakau yang jelas menyerap tenaga kerja saja kok malah mau diganggu. Apa sih untungnya meratifikasi FCTC?" tanyanya.

Poempida mengingatkan, pemerintah harus sadar betul jika industri rokok dan tembakau di Indonesia itu unik, sehingga harus ada cara yang khusus juga dalam menanganinya. Bukan sebaliknya, justru menggunakan kebijakan global yang tidak cocok diterapkan di Indonesia.

"Jangan kita terjebak permainan asing. Kita sudah pernah dirugikan dengan mengikuti IMF. Semua negara yang tidak ikut IMF malah bangkit dan selamat, masa' kebodohan harus diulangi lagi?" tandasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pakar Paparkan Sains...
Pakar Paparkan Sains dan Teknologi di Balik Tembakau Inovatif Bebas Asap
Siasat Produsen Rokok...
Siasat Produsen Rokok Hadapi Pelemahan Daya Beli
Foom Berupaya Bantu...
Foom Berupaya Bantu Perokok Beralih ke Cara yang Lebih Aman
Pelaku IHT Duga Ada...
Pelaku IHT Duga Ada Tekanan Pihak Tertentu Soal Kenaikan Cukai Rokok
Pemerintah Diminta Lindungi...
Pemerintah Diminta Lindungi Industri Rokok Klembak Menyan
Menelisik Fenomena Rokok...
Menelisik Fenomena Rokok Ilegal
Berita Terkini
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
1 jam yang lalu
Migrasi Pertamax ke...
Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun
1 jam yang lalu
Komitmen Perbaikan Tata...
Komitmen Perbaikan Tata Kelola Pengadaan Energi, Pertamina Patra Niaga Gelar FGD
2 jam yang lalu
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
3 jam yang lalu
Rusia Perluas Kuota...
Rusia Perluas Kuota Kuliah Gratis, Cetak Ahli Minyak hingga IT dari Indonesia
4 jam yang lalu
Harga Pertamax Melejit...
Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit
5 jam yang lalu
Infografis
Respons Rusia soal Trump...
Respons Rusia soal Trump Telepon Putin untuk Akhiri Perang Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved