Inflasi November diprediksi di bawah 0,5%

Senin, 02 Desember 2013 - 09:20 WIB
Inflasi November diprediksi...
Inflasi November diprediksi di bawah 0,5%
A A A
Sindonews.com - Analis Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto memproyeksi bahwa inflasi pada November akan sangat rendah dan stabil dibanding bulan sebelumnya.

"Stabil karena tekanan terbesar inflasi sudah terjadi pada saat bulan Juni, Juli sampai Agustus bahkan Oktober. Kami perkirakan inflasi November masih di bawah 0,5 persen. Itu hitung-hitungannya cukup stabil," kata dia kepada Sindonews, baru-baru ini.

Melihat kondisi yang terjadi, bahkan dia memperkirakan, ada kemungkinan terjadi deflasi sedikit pada bulan lalu. Sementara hingga akhir tahun ini, dia juga memperkirakan angka inflasi masih akan stabil.

"Kami perkirakan sampai akhir tahun juga masih stabil. Kami prediksi tidak setinggi yang digambarkan pemerintah sekitar 9 persen," ujar dia.

Menurut Rully, hal tersebut didorong oleh harga sandang dan pangan sudah tidak terjadi kenaikan signifikan. Pasalnya, kontribusi terbesar inflasi pada bulan-bulan sebelumnya berasal dari dua faktor itu.

Di samping itu, dia menambahkan, harga bahan bakar minyak (BBM) juga sudah mulai reda sejak Oktober 2013.

Adapun, inflasi Oktober berdasarkan data Badan Pusat Statitik (BPS) tercatat sebesar 0,09 persen atau naik dibanding bulan sebelumnya yang berhasil mengalami deflasi 0,35 persen.

Sementara inflasi tahunan sekitar 7,66 persen dan inflasi year on year (yoy) di level 8,31 persen. Sedangkan inflasi intiu secara yoy sebesar 4,73 persen dan inflasi inti untuk Oktober mencapai 0,34 persen.

Dengan proyeksi inflasi November yang rendah, Rully memperkirakan bahwa suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) juga akan dipertahankan pada level 7,5 persen. "Prediksi kami, BI Rate tetap di level 7,5 persen hingga akhir tahun ini," prediksi dia.

Namun jika BI Rate dinaikkan, menurut dia, hanya untuk menekan arus modal asing dan menjaga kestabilan harga bukan karena inflasi. Seperti diketahui, Bank Sentral pada bulan lalau kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,5 persen.

Kenaikan BI Rate diikuti kenaikan landing facility menjadi 7,5 persen dari 7,25 persen dan fasilitas simpanan BI (Fasbi) juga naik menjadi 5,75 persen dari 5,5 persen. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A Johansyah mengatakan, kenaikan BI Rate tersebut untuk mengatur current account defisit ke depan.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Terima Data Inflasi...
Terima Data Inflasi 2,84% dan Pertumbuhan Ekonomi 5,11%, Jokowi: Segar kalau Seperti Ini
Inflasi Bulan Maret...
Inflasi Bulan Maret 2025 Mencapai 1,65 Persen
Badan Pusat Statistik...
Badan Pusat Statistik : Inflasi 2021 Capai 1,87 Persen
Inflasi Mei Diperkirakan...
Inflasi Mei Diperkirakan Mencapai 0,31 Persen
Prediksi Inflasi September...
Prediksi Inflasi September 2022 Efek Kenaikan Harga BBM
Angka Inflasi Jawa Barat...
Angka Inflasi Jawa Barat Tertinggi
Berita Terkini
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
12 menit yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
2 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
2 jam yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
11 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
12 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved